Begini, Cara Fauzi Mendirikan PAUD dengan Modal Minim

Paudpedia-Merintis pendirian Lembaga PAUD dengan jualan jamu? Kita harus belajar dari Muhammad Fauzi atau juga akrab disapa dengan sebutan Fauzi Baim, warga Desa Sukorejo,  Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Pria yang hanya lulusan SMP ini mulai berjualan jamu sejak menikah dengan Imroatul Mufidah pada tahun 2005 silam. Rupanya, walau hanya lulusan, Fauzi punya kegemaran membaca yang tinggi. Sejak kecil, di tengah keterbatasan ekonomi orang tuanya, anak sulung dari 10 bersaudara ini  rajin mengoleksi buku-buku bacaan.

Ketika, mulai berjualan jamu, terbersitlah ide untuk membuka perpustakaan keliling sembari jualan jamu. Dari jualan jamu itu, pendapatan bersihnya yang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari hanya sekitar Rp100 ribu.

“Setiap hari saya menyisihkan uang untuk membeli buku. Seminggu atau dua minggu sekali harus ada anggaran Rp 200.000 dari hasil dari jualan jamu. Pertama koleksinya hanya ada 37 buku. Di antaranya terdiri dari buku pelajaran dan cerita anak, “kata Fauzi beberapa waktu lalu.

Mulailah Fauzi membawa buku-buku koleksinya sembari berdagang jamu. Ia juga menitipkan buku koleksinya ke sejumlah warung kopi dan pos kamling di sejumlah tempat. Dia tak takut hilang buku-bukunya karena misinya ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk gemar membaca.

Setelah enam tahun menjalankan perpustakaan keliling sembari jualan jamu, ia lantas mendirikan perpustakaan pada 2011. Namun berjualan jamu dan perpustakaan keliling tetap dijalani. Perpustakaan itu awalnya memanfaatkan bekas bangunan pondok bersalin desa yang sudah tidak lagi digunakan yang kebetulan berada tepat di samping rumah. Namun lantas dialihfungsikan sebagai perpustakaan dengan mana Taman Ilmu Masyarakat.

Pada tahun 2014, keduanya lantas mendirikan PAUD gratis dan kemudian berlanjut pada Maret 2016  dengan mendirikan Yayasan Bustanul Hikmah di rumahnya dan membuka sekolah gratis untuk TK dan SD.

Untuk mengajar, pasangan suami istri tersebut langsung turun tangan dibantu lima orang guru. Untuk guru PAUD dan taman kanak-kanak, disyaratkan punya pengalaman mengajar di PAUD. Sementara untuk guru-guru yang mengajar di tingkat SD, Fauzi mengaku tetap memberlakukan syarat salah satunya minimal S1 dan menggaji mereka dengan gaji yang layak.

Baca juga :

Swadaya

Pada awal berdirinya PAUD,  Fauzi menggratiskan anak-anak yang mau belajar. Fauzi malah memberikan seragam dan buku secara gratis. Namun, dalam perkembangannya, banyak orang tua yang menitipkan anaknya di PAUDnya sebenarnya mampu dari sisi ekonomi. Saat ini, ada sekitar 30 anak usia dini yang bergabung di PAUDnya itu yang dibimbing oleh empat guru.

“Saya ajak mereka untuk berpartisipasi dan berkontribusi sehingga kita berlakukan swadaya, boleh iuran Rp5000, Rp 10 ribu  atau Rp20 ribu, terserah mereka, bagi yang tidak mampu  tetap kita  gratiskan  100 persen, “Katanya.

Dengan cara itu, kontribusi pembiayaan PAUD dari orang tua mencapai 30 persen. Sisanya ditanggung oleh Fauzi. Namun, Fauzi saat ini tidak lagi jualan jamu, namun beralih ke jualan barang rongsokan, termasuk buku bekas. “Dari jualan jamu sudah tidak memadai untuk membiayai PAUD ini, “katanya.

Dalam proses pembelajaran, menurut Fauzi, mengacu pada Kurikulum 2013, tapi dalam prakteknya, tidak diikuti keseluruhan. “Kita seleksi, mana yang layak kita terapkan, jadi disesuaikan dengan kondisi anak di sini. Kita tidak fokus pada  buku pemerintah, kita adposi dan kita pilih yang paling tepat dengan wilayah di sini, “jelas Fauzi.

Saat pandemic Covid sekarang ini, tidak diberlakukan pembelajaran secara daring serratus persen. Pembelajaran tatap  muka tetap diberlakukan namun jumlah siswa dibatasi, yakni hanya sekitar tujuh  peserta didik dibanding dalam situasi normal yang biasanya 10 peserta didik. Alasannya, karena sebagian besar orang tua peserta didik adalah buruh pabrik yang kedua-duanya bekerja sehingga sulit untuk diterapkan pembelajaran di rumah oleh orang tuanya. “Jadi bergiliran, hari ini sebagian tatap muka sebagian daring, besoknya gantian,”ujarnya.

Selain PAUD, di sore hari juga dibuka TPQ dan juga ada pelatihan bagi orang dewasa yang dinamakan program “Keluarga Cerdas”. Yanuar Jatnika

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar