Pahami Deteksi Dini dan Assessment ABK di Lembaga PAUD

Paudpedia- Tentunya banyak diantara kita sudah mengenal istilah deteksi dini anak berkebutuhan khusus. Namun, tahukah kita, ada proses yang mirip dengan deteksi dini itu, yakni yang disebut assesmen anak  berkebutuhan khusus. Apa sih bedanya kedua istilah itu? Yuk, kita belajar tentang kedua hal itu dari Yufi AM Natakusumah, ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini ( Himpaudi) DKI Jakarta.

Pengertian kedua istilah itu dan proses-prosesnya diungkapkan secara gamblang oleh Yufi dalam Webinar Series Himpaudi TV bertajuk “ Praktik Baik Cara Assessment Anak Usia Dini (AUD) dengan Kondisi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di lembaga PAUD”, pada 15 Desember kemarin.

Menurut Yufi, kedua istilah itu maknanya sama dalam konteks AUD ABK, yakni penjaringan, yakni menandai, menilai, dan menyeleksi kekhususan ABK. “Deteksi dini adalah penjaringan awal yang bersifat global atau kasar, sedangkan assessment adalah penjaringan lanjutan yang lebih detail, lebih rinci, “katanya.

Deteksi dini, kata Yufi, merupakan upaya yang dilakukan guru dalam melakukan penjaringan terhadap siswa yang diduga mempunyai kelainan atau penyimpangan untuk menentukan layanan pendidikan yang akan diberikan sedini mungkin, salah satunya melalui sekolah inklusi.

Sedangkan dalam proses assessment lebih kompleks dan sistematis untuk menemukenali kondisi AUD berkebutuhan khusus agar diketahui potensi yang sebenarnya sehingga dapat dikembangkan dengan baik. Assessment ini penting untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi intervensi yang sudah dilakukan.

National Early childhood Assessment Resources Group, kata Yufi, menjelaskan assessment pada anak usia dini secara umum bermanfaat untuk :

  • Mendukung belajar anak
  • Mengidentifikasi, apakah seorang anak berkembang secara normal ataukah memiliki kebutuhan khusus
  • Mengevaluasi program dan memonitor kebutuhan anak

“Assessment ini kegiatannya bisa ditekankan pada assessment akademik, assessment sensorik dan motorik, pribadi dan sosial, atau assessment lainnya yang dianggap perlu dan sesuai dengan kondisi kekhususan anak, “kata Yufi.

Dengan assessment itulah, akan diketahui kelemahan/kesulitan anak pada satu hal, kemampuan/pontensi anak pada satu hal, dan kebutuhan layanan khusus yang diperlukan. Agar hasil assessment akurat, diungkapkan Yufi, beberapa prinsip yang harus dipegang guru, yakni :

  1. Menggunakan informasi yang beragam;
  2. Bermanfaat untuk perkembangan dan belajar anak;
  3. Melibatkan anak beserta keluarganya;
  4. Sesuai bagi anak;
  5. Assessment harus bermakna bagi anak dan merefleksikan cara anak menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam kehidupan sdehari-hari;
  6. Memiliki tujuan yang spesifik dan reliabel, valid dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai;
  7. Mencatat fakta dan data secara tepat, lengkap dan dilakukan sesegera mungkin setelah pengamatan;
  8. Mencatat fakta dan data secara objektif, tidak bias, dan tidak ditambah dengan pendapat sendiri;
  9. Menghindari pelabelan dengan mengindari kesimpulan dan diagnosa yang terlalu dini

Minessota Child Development Inventory mengukur seorang anak, apakah normal atau perlu kekhususan dengan cara menilai :

  • Motorik kasar: termasuk kekuatan, keseimbangan dan koordinasi;
  • Motorik halus: termasuk keterampilan visual motor, dan koordinasi mata dan tangan;
  • Bahasa ekspresif : Komunikasi, bahasa tubuh, vokal;
  • Pemahaman-konseptual: Pemahaman bahasa sampai formulasi bahasa;
  • Pemahaman situasi: Pemahaman tentang lingkungan melalui observasi, membedakan, meniru, dan perilaku;
  • Menolong diri sendiri : cara makan, berpakaian dan ke kamar kecil;
  • Personal-sosial: Inisiatif, kemandirian,interaksi sosial, perhatian/empati pada teman:

 

Guru juga perlu mengamati anak dalam hubungan dengan teman-temannya seperti :

  • Kemampuan memimpin;
  • Aktif mengikuti kelompok;
  • Mengikuti kelompok setelah berargumen;
  • Mengikuti kelompok tanpa ikut terlibat

 

Perlu juga diamati, bagaimana perilaku anak saat menumpahkan sesuatu, apakah..

  • Hampir selalu membereskan tanpa diperintah
  • Kadang-kadang perlu diperintah
  • Selalu menunggu diperintah
  • Tidak membereskan walaupun sudah diperintah

            (Yanuar Jatnika)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar