200 Dongeng Daerah Dibuat untuk Para Guru dan Orang Tua

Paudpedia—Dalam rangka menyambut Hari Dongeng Nasional 2020, Direktorat Pembinaan PAUD Kemdikbud menggelar Festival Dongeng Indonesia 2020. Dalam gelaran tersebut, Direktorat PAUD menampilkan sebanyak 200 dongeng dari seluruh daerah di Indonesia. Melibatkan 134 pendongeng dari 200  komunitas pendongeng seluruh Indonesia yang juga didukung para kurator dan editor dongeng professional. 200 dongeng tersebut dibuat dalam format audio  dan video yang bisa diakses di Chanel Youtube paudpedia, dan di Instagram ayo dongeng Indonesia.

Direktur PAUD, Mohammad Hasbi, mengatakan, pembuatan 200 dongeng itu merupakan bagian dari upaya memfasilitasi kebijakan belajar dari rumah yang dilaksanakan di PAUD.

200 video dan audio dongeng tersebut, kata Hasbi, merupakan upaya  memfasiltasi orang tua untuk mengembangkan kompetensi dalam mendampingi anak dalam proses  pembelajaran di rumah.

“Banyak pelajaran berharga dan pengalaman yang bisa dibagikan pendongeng untuk perbaikan karakter anak-anak, “kata Hasbi.

Baca Juga :

Bercerita Pada Anak Usia Dini itu Awal dari Kemampuan Literasi

Membaca Buku Sejak Dini, Wawasan Anak Kian Luas

 

Bagian dari Gerakan Literasi

Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Jumeri, mengatakan, 200 dongeng tersebut bisa mengisi kekosongan sumber belajar bagi anak usia dini yang mengedukasi sekaligus menghibur. Tidak saja guru terbantu, juga orang tua yang harus mendampingi anak-anak saat belajar di rumah.

Diingatkan Jumeri, pemerintah telah mengembangkan  berbagai program pendidikan yang bertujuan agar anak anak didik memiliki kompetensi abad 21, tertanamnya nilai-nilai karakter, serta kemampuan memecahkan problema atau masalah sehari-hari.

Salah satu upayanya adalah menggalakan Gerakan Literasi Keluarga dan Literasi Sekolah dan dilakukan sejak usia dini dan mendongeng adalah bagian dari gerakan literasi tersebut. Menurut Jumeri, dongeng baik yang dituturkan secara liasan maupun dengan membacakan buku, mempunyai banyak manfaat terhadap aspek perkembangan anak dan juga untuk mengembangkan literasi anak sejak dini.

“Sebagai contoh, melalui pesan-pesan yang disampaikan pendongeng pada anak akan ditanamkan nilai-nilai karakrer yang positif. Ini penting, “katanya.

Jumeri menuturkan pengalaman pribadinya saat usia dini sekitar 50 tahun lalu. Ceritanya, saat di PAUD, Jumeri selalui diceritai guru tentang cerita para Nabi, tentang kebaikan dan sebagainya.

“Cerita-cerita itu tertanam sampai sekarang, sampai saya berusia 57 tahun, saya masih ingat petuah guru dan dongeng yang disampaikan di depan kelas. Artinya, apa yang ditanamkan saat usia dini akan terpatri sangat kuat di benak anak-anak, “katanya.

Di sisi keterampilan berbahasa, kata Jumeri, mendengarkan dongeng akan menambah kosa kata, melatih anak dalam menyimak dan mendengarkan, suatu sikap yang tidak mudah dan juga melatih kemampuan berekspresi, kemampuan literasi tingkat tinggi, bertanya dan menyampaikan pendapat.

 

Baca juga :

Mendongeng Penting Bagi Tumbuh Kembang Anak Selama Pandemi Covid-19

Mendongeng itu Gampang dan Murah, Tapi Dampaknya Luar Biasa

 

Pendongeng banyak belajar

Kak Wawan, dari Komunitas Kerajaan Mendongeng Nusa Tenggara Barat, menuturkan pengalamamnya dalam proses pembuatan donegng. Dari 10 dongeng yang dibuat para pendongeng di NTB,  hanya satu dongeng yang diterima. Menurutnya, pendongeng di NTB masih harus belajar tentang  background saat mendongeng, serta pemlihan kata-kata untuk anak usia dini yang sederhana dan relevan. “ Kami semua belajar, kami banyak belajar menghadapi tantangan, belajar bersahabat dengan realita, “katanya.

Stanley Ferdinandus dari Komunitas Heka Leka, Ambon, menunturkan  pengalamannya saat melakukan proses pembuatan dongeng. Dikatakannya, para pendongeng banyak belajar tentang bagaimana membuat background saat mendongeng, bagaimana pencahayaan, penataan suara, dan sebagainya. “Ada yang menarik soal background ini, agar mendapatkan background yang baik sesuai permintaan panitia, kami gunakan seprei, “katanya sambil tertawa.

Sedangkan Jumiati, pendongeng dari Radja Ampat, Papua Barat menceritakan pengalamannya. Menurutnya, di Waisai Raja Ampat tidak ada studio, adanya di Sorong. Masalahnya, tidak bisa menyeberang menuju Sorong karena ada pandemi. “Solusinya, kita manfaatkan kamera yang hanya ada satu-satunya di Waisai, “katanya.

Tantangan lainnya yaitu mencari tempat yang layak, antara tempat yang sepi atau tempat dengan latar belakang warna putih. “Awalnya nyari yang latar belakangnya putih tapi sulit di dapat, akhirnya nyari tempat yang sepi saja. Belum lagi ada pendongeng yang lain pulau dan sulit nyebrang sementara peralatan terbatas waktunya. Itu tantangan, “katanya. Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar