Yoyo Carsoyo : Menjemput Bola dari Dusun ke Dusun

Paudpedia-Desa Legokherang Kecamatan Cilebak Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, berada di gunung Subang, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Desa yang tergolong terpencil ini ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Kabupaten Kuningan, melalui jalan yang berliku-liku, naik turun, membelah hutan dan gunung. Nyaris tidak ada kendaraan yang mampir ke desa tersebut, apalagi angkutan umum.

Di desa itulah, Yoyo Carsoyo dan istrinya, bahu membahu merintis, dan mengembangkan Lembaga PAUD Sinar Harapan yang melayani jenis Pendidikan kelompok bermain.  Dimulai pada tahun 2007, memanfaatkan ruang kelas sekolah dasar yang tidak terpakai karena aturan penyatuan sekolah dasar yang kurang siswanya.   Ruang-ruang kelas itu akhirnya digunakan untuk pendirian taman kanak-kanak dan kelompok belajar.

Awalnya, Yoyo hanya diberi amanah oleh pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk mengelola PAUD, smentara istrinya, Siti Nuraemi menjadi guru, sebab istrinya memang lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Terbuka. Sedangkan Yoyo berlatar belakang pendidikan manajemen di Universitas Negeri Kuningan, walaupun kemudian melanjutkan di PGSD UT .

Mengingat letak antar dusun di desa tersebut yang saling berjauhan, sangat sedikit anak usia dini yang bersekolah di KB Sinar Harapan yang berlokasi di pusat desa. Yoyo dan istrinya melakukan door to door ke rumah-rumah untuk mendorong orang tua agar anaknya yang berusia dini mendaftarkan diri di KB Sinar Harapan.

“Kita benar-benar ketuk pintu setiap hari untuk menggugah kesadaran para orang tua tentang pentingnya memasukan anak-anak yang berusia dini ke PAUD, “Kata Yoyo.

Namun, Yoyo menyadari, letak dusun-dusun di desa tersebut umumnya jauh dari KB Sinar Harapan yang terletak di pusat desa. Hal itu menyebabkan banyak orang tua di dusun-dusun yang ragu bila setiap hari harus mengantar jemput atau menunggu anaknya di PAUD sebab sebagian besar warga bermatapencaharian sebagai petani.

“Kalau mereka harus mengantar jemput dan menunggu anaknya di PAUD, maka mereka tidak bisa mencari nafkah, “kata Yoyo.

 

Baca juga :

Membuat kelompok belajar di dusun

Dengan kenyataan dan kesadaran itu, maka pada tahun 2016, Yoyo berinisiatif membentuk kelompok belajar di dusun-dusun selain tetap mengadakan pembelajaran di pusat desa. Akhirnya terbentuklah sebanyak 3 kelompok belajar dengan masing-masing terdiri antara 10-15 anak usia dini.

“Sekarang ini, ada total sekitar 56 siswa yang tergabung di KB Sinar Harapan, 26 siswa di ruang kelas di pusat desa, dan 30 siswa di tiga kelompok belajar di tiga dusun, “kata Yoyo.

Kelompok belajar di tiga dusun itu, kata Yoyo, proses pembelajarannya bisa dilakukan di pos yandu atau di salah satu rumah penduduk yang bersedia. “Pembelajaran setiap harinya dua jam, dari hari Senin sampai Kamis, “ujar Yoyo.

Pada situasi pandemic Covid-19 saat ini, kata Yoyo, proses pembelajaran dikurangi, yakni hanya dua hari dalam seminggu dan setiap harinya hanya satu jam. Namun, beberapa orang tua siswa meminta guru-guru melakukan kunjungan ke rumah siswa secara berkeliling dari dusun ke dusun.

“Mereka kesulitan kalau harus ngajarin anak-anaknya di rumah, selain kesibukannya Bertani, juga secara kemampuan mereka tidak punya pengetahuan mengajarkan pada anak, “ kata Siti Nuraemi.

Proses pembelajaran sendiri, kata Siti, mengikuti aturan yang ditetapkan, yakni meliputi enam aspek, seperti Nilai agama dan moral, Fisik-Motorik, Kognitif, Bahasa, Sosial-Emosional, dan  Seni.

“Kegiatan konkritnya, membaca surat-surat Al Quran untuk aspek agama, seni melipat dan menggunting untuk psikomotorik, belajar Bahasa Ibu untuk aspek Bahasa, dan sebagainya. Pokoknya mengikuti panduan pemerintah, “kata Siti.

 

Didukung Desa

KB Sinar Harapan dibina  oleh sebanyak 4 guru. Mereka adalah warga setempat yang sudah memperoleh Pendidikan PAUD di Universitas Terbuka. Untuk biaya operasional, kata Yoyo, mengandalkan iuran siswa yang Rp10 ribu sebulan, dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan bantuan dari kas desa.

“KB Sinar Harapan didukung desa dan jadi bagian program desa sehingga ada bantuan pembiayaan dari desa, “ujar Yoyo.

Tahun 2020 ini, Yoyo merasa bersyukur dapat bantuan program PAUD Layanan Khusus dari Direktorat PAUD yang direncanakan untuk bisa memberikan honor transport bagi para guru.
Memang selama ini ada honor juga untuk para guru, tapi karena hanya mengandalkan iuran dari orang tua dan bantuan desa, nilainya kecil sekali.

“Namun saya akui, apa yang sudah saya lakukan ini belum seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan banyak PAUD di beberapa daerah di Indonesia. Perjuangan dan tantangan mereka ternyata lebih besar daripada yang saya hadapi, “katanya. Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar