Di Masa Pandemi, Orang Tua Berperan Kuat Jaga Kesehatan Mental Anak Usia Dini

Paudpedia—Selalu ada hikmah dibalik musibah. Demikian kata-kata indah yang berlaku sepanjang masa. Demikian pula yang terjadi saat ini, saat dimana pandemi Covid-19 melanda hampir semua bagian dunia. Tanpa kecuali.

Apa hikmah dibalik pandemic Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari setengah miliar pelajar seluruh dunia menurut data Unesco itu? Hikmah terbesarnya adalah rumah menjadi pusat kegiatan keluarga . Delapan fungsi keluarga tereksplorasi secara optimal. Salah satunya adalah bahwa orang tua kembali berperan sebagai pendidik pertama dan utama anak-anaknya.

“Pandemi Covid-19 juga membuat interaksi positif antara anggota keluarga meningkat, hal yang sulit terjadi dimasa normal dimana banyak anggota keluarga sibuk di luar rumah, “ kata Yulina Eva Riany, staf pengajar pada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, dalam Webinar yang digelar Paudpedia bertajuk   “Mengelola Kesehatan mental  AUD di masa pandemic Covid-19,” Sabtu, 14 November 2020 kemarin.

Baca juga :

Namun, kata Eva, kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui Belajar dari Rumah (BDR) tidak semudah dan seindah pelaksanaannya. Kebijakan BDR menimbulkan  berbagai polemik, baik bagi para      guru,    siswa dan orang        tua siswa di     seluruh Indonesia.

Guru    merasa kesulitan dalam memantau dan memfasilitasi kegiatan peserta didik, apalagi jika peserta didik tersebut tidak memiliki akses terhadap teknologi. Hal itu diperkuat dengan sruvei Unicef yang menunjukkan, hanya 66% orang tua di Indonesia yang memiliki akses internet serta kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi dan memfasilitasi anaknya.

“Siswa itu sendiri, utamanya di PAUD mengalami perubahan drastis, yang biasanya bertemu dan bermain dengan teman-temannya, kini hanya terbatas di rumah saja, “kata Eva.

Menurut Eva, ada beberapa indikator kesehatan mental yang harus diwaspadai orang tua, antara lain : anak mudah tersinggung dan cepat marah, mudah terkejut, menangis dan sulit dihibur, nafsu makan berkurang, sulit tidur, dan sebagainya.

Eva menyarankan beberapa hal untuk emmbantu anak agar terhindar dari berbagai gangguan kesehatan mental, yakni :

  1. Bantu anak-anak menemukan cara positif untuk mengungkapkan perasaan enagtif, seperti ketakutan,            kesedihan,       atau marah.     
  2. Orang tua perlu terlibat pada aktivitas kreatif Bersama anak, seperti bermain, menggambar, dan bercerita.        
  3. Berikan contoh pada anak untuk mengelola emosinya. “Anak akan mengamati perilaku dan emosi orang dewasa untuk mendapatkan petunjuk tentang cara mengelola emosi mereka sendiri selama masa-masa       sulit, “kata Eva.
  4. Dengarkan jika anak bercerita: “Anak akan merasa lega jika dapat berekspresi dan berkomunikasi tentang perasaan mereka di lingkungan yang         mendukung, “ujar Eva.
  5. Luangkan waktu untuk bersama dengan anak. Jika kondisi terpaksa harus terpisah,  lakukan kontak teratur dengan anak, seperti melalui telepon, WA, atau video call,
  6. Pertahankan rutinitas anak. Jika perlu buat jadwal harian. Namun, kalau perlu, bisa diciptakan rutinitas baru. Misalnya, merancang aktivitas menarik yang sesuai dengan usia untuk anak-anak,    termasuk kegiatan untuk belajar.
  1. Dorong anak untuk terus bermain dan bersosialisasi dengan orang lain, meskipun hanya dalam keluarga/          tetangga dengan memperhatikan protokol kesehatan.
  2. Ketika anak mengalami stress, damping mereka.
  3. Ajak anak untuk selalu aktif secara fisik, dengan bermain, melompat,       berlari, dan aktivitas fisik lainnya.  Yanuar Jatnika

 

 

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar