Bermain itu Sarana Pengembangan Sosio -Emosional Anak Usia Dini

Paudpedia- Ada enam standar pencapaian perkembangan anak usia dini menurut Kurikulum 2013 PAUD. Keenam standar itu adalah agama dan moral, sosial-emosional, kognitif, motorik, bahasa, dan seni.

Dari keenam standar itu, nilai agama moral dan sosial emosional saling berkaitan dan menjadi standa utama dalam  proses pembelajaran di PAUD. “Nilai agama-moral dan  sosio emosional sangat penting dibangun pada anak usia dini, melalui kedua nilai itu, anak bisa menilai, mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh, “ujar Boedi Darma Sidi, pengamat dan praktisi PAUD, dalam Webinar yang digelar Paudpedia bertajuk “Standar Kurikulum PAUD bagi perkembangan sosio emosional AUD yang optimal di masa Pandemi, “ pada awal November lalu.

Namun, katanya juga, menumbuhkembangkan kedua hal itu paling sulit dibandingkan yang lain. Pendidik atau orang tua harus memberikan keteladanan , sedangkan yang lain seperti kognitif, motorik, Bahasa, dan seni akan mengikuti.

Namun, dalam hal penumbuhkembangkan fisik motorik, menurut Boedi, pertumbuhan saraf motorik, baik halus maupun kasar, merupakan kecerdasan pertama  anak anak. Dengan pertumbuhan motoriknya, anak akan lebih dimungkinkan melakukan lebih banyak usaha dalam pembelajaran.

Baca Juga :

Salah satu upaya penumbuhkembangan motorik anak di Lembaga PAUD adalah melalui bermain. Karena itu, di Kurikulum 2013 PAUD, pada enam standar pencapaian perkembangan anak usia dini, yakni agama dan moral, sosial-emosional, kognitif, motorik, bahasa, dan seni, semuanya ditumbuhkembangkan melalui bermain. “Nah, bermain itu sebenarnya adalah kegiatan fisik motorik. Ini yang sering disalahartikan, bahwa  bermain di PAUD itu seolah-olah bermain biasa saja, padahal ada capaian perkembangan fisik motorik yang jadi tujuan, “kata Boedi.

Perkembangan fisik motoric tersebut, lanjut Boedi, berkaitan erat dengan perkembangan sosio emosional. Boedi menggambarkan, seorang anak diberi stimulan berupa gerakan tangan atau suara oleh  ibunya dari jarak beberapa meter. Menerima stimulan itu, anak bergerak dan mencoba melihat sumber stimulan, lantas tertawa, tersenyum atau menangis.

Berikutnya, anak ingin mencoba mendekati sumber stimulan. Ia dengan gerak motoriknya mendekati hal itu dengan mencoba merangkak sambal tetap gembira,tertawa dan berjingkrak dan ekspresi lainnya. “Ini artinya, rangsangan motorik anak terbangun bersamaan dengan terbangunnya sosio emosionalnya.Ini menjadi bagian yang penting, “katanya.

Begitu juga ketika ibu atau pendidik menyambut ekspresi anak,mengajak berbicara, mencoba memahami kebutuhan anak, dan sebagainya. Melalui hal ini, emosi anak terbangun melalui kontak dengan orang lain.

Menurut Boedi, ada salah kaprah dalam penerapan latihan fisik-motorik ini. Pendidik terlalu aktif terlibat dalam Latihan fisik dan motorik ini, ikut mengatur anak bermain ini atau itu, melakukan ini atau itu. Padahal, dalam kurikulum 2013 PAUD disebutkan, pembelajaran di PAUD itu berpusat pada anak, sedangkan pendidik hanya sebagai fasilitator atau pemberi stimulan. “Anak yang harus aktif bermain, bukan pendidik atau pengasuh atau ibunya yang aktif, “kata Boedi.

Dengan kata lain, lanjut Boedi, suasana bermain itu harus tumbuh dari anaknya, atau dengan kata lain, anaklah yang  mempunyai inisiatif dalam bermain.

Terkait bermain ini, bermain yang menumbuhkembangkan sosio emosional anak itu tumbuh Ketika dalam bermain itu anak tidak sendirian tapi juga ada anak seusianya yang juga bersama-sama bermain.

Ada tiga aspek dalam bermainnya anak, yakni :

  1. Lingkungan bermain yang bisa di dalam kelas atau di dalam rumah, atau di luar ruangan,seperti di taman, di sawah, di kebuh atau di halaman rumah, bahkan bisa juag di mall. Bermain di luar ruangan dengan memanfaatkan apa yang ada di alam diyakini lebih membuat anak awareness dan akhirnya melekat dalam benak anak. Berbeda bila dilakukan di dalam kelas dengan hanya melihat gambar.
  2. Ada anak atau peserta yang lain. Dalam penumbuhkembangan aspek sosial emosionalnya ,anak tidak bisa bermain sendirian. Dalam berinteraksi dengan anak seusia, anak belajar kebersamaan, kesepakatan, tolong menolong dan sebagainya. Pendidik atau pengasuh menjadi stimulan, regulator, atau pengawas.
  3. Stimulasi itu sendiri

Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar