Sosio Emosional AUD Utama, Pengetahuan dan Keterampilan Datang Sendiri

Paudpedia--Perkembangan nilai agama dan moral serta sosial-emosional pada anak usia dini merupakan aspek paling penting dalam pendidikan anak usia dini. Anak usia dini yang memiliki sikap sosial emosional yang bersumber pada nilai agama dan moral   akan mampu menjadi orang-orang yang bekerjasama, mampu menghargai orang lain, menciptakan ide-ide, ceria dan eksploratif. “Ini menjadi modal dasar bagi anak usia dini saat dewasa kelak, dimana mereka akan berkiprah, “kata Boedi Darma Sidi, pengamat dan praktisi PAUD, dalam Webinar yang digelar Paudpedia bertajuk “Standar Kurikulum PAUD bagi perkembangan sosio emosional AUD yang optimal di masa Pandemi, “ pada awal November lalu.

Menurut Boedi, dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, disebutkan, ada empat kompetensi yang harus dikembangkan  pada anak, yaitu sikap sosial, sikap spiritual, pengetahuan dan keterampilan.

“Sikap sosial dan spiritual ini, yang disebut sosial emosional, akan menentukan anak yang selalu ingin tahu, anak yang selalu mendengarkan orang yang memberikan ilmu, selalu ingin bekerjasama dengan anak yang lain, selalu ceria, eksploratif,  itu yang kita inginkan. Bila itu sudah dimiliki anak, maka pengetahuan dan keterampilan itu akan dengan sendirinya dikuasai anak dan menjadi kompetensi mereka, “jelas mantan atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Jerman ini.

Baca Juga :

Begitu juga dalam hal standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini, yakni agama dan moral, sosial-emosional, kognitif, motorik, bahasa, dan seni. Dikatakan Boedi, nilai agama dan moral dan sosial- emosional keduanya terkait erat.  Pada kedua aspek perkembangan tersebut, anak bisa menilai, mana yang baik dan yang buruk, mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh, dan selanjutnya.

Hal ini diakui Boedi paling susah diajarkan karena anak melihat setiap hari apa yang dilakukan orang-orang yang dilihatnya, seperti buang sampah sembarangan,melanggar aturan lalu-lintas, dan sebagainya yang lantas terekam di benak anak dan lantas diikutinya. “Ini paling susah, kita harus memberikan keteladanan , sedangkan yang lain seperti kognitif, motorik, Bahasa, dan seni akan mengikuti, “papar Boedi.

Di lembaga PAUD, penumbuhkembangan sosio emosional anak itu difasilitasi oleh pendidik. Bagaimana selama masa pandemic Covid-19 ini dimana anak harus belajar di rumah? Seharusnya dilakukan oleh orang tua. Namun, kata Boedi, masalahnya adalah keluarga saat ini dalam kondisi suami istri bekerja, banyak kesibukan lain, dan sebagainya. Padahal perkembangan sosio-emosional anak itu sangat penting. Selain itu, masalah berikutnya,tidak semua orang tua punya kapasitas yang memadai untuk menjadi fasilitator atau pemberi stimulasi pada anak usia dini.

“Ini yang harus dipikirkan bersama agar anak usia dini saat dewasanya nanti mampu membangun negara yang adil Makmur dan sejahtera, “kata Boedi Darma.

Boedi mengingatkan, jaman dahulu, adalah hal biasa bila ada orang tua mempunyai anak sampai 12 orang bahkan lebih dan mereka mampu mendidiknya. Namun berbeda dengan saat ini, saat dimana keluarga saat ini masuk dalam ketegori keluarga milenial yang kesibukannya luar biasa. Ibu dan bapaknya keduanya mempunyai begitu banyak aktifvitas, baik pekerjaan, kehidupan sosial, dan sebagainya. Akibatnya struktur keluarga berubah dibandingkan sebelumnya.

“Kakek saya punya anak 12, ayah saya punya anak 3, dan saya 3, tapi  generasi saat ini yang berkeluarga, punya anak dua saja mereka berpikir ulang. Ini perlu mendapatkan perhatian bahwa peran orang tua sangat penting di masa pandemic ini, “katanya. Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar