Peduli Sampah Sejak Dini di TK Junjung Birru

Paudpedia-Lukisan awan berwarna biru menggelap, pepohonan hijau, dan burung-burung berwarna putih yang hinggap di ranting menghiasi tembok Taman Kanak-kanak (TK) Junjung Birru. Junjung Birru bermakna, hal yang baik harus dikumandangkan dan disebarkan ke permukaan, termasuk menjaga lingkungan dengan pemanfaatan sampah.

Di beberapa bagian lukisan, terdapat sampah menempel. Sampah dan awan gelap di gambar di lembaga pendidikan anak usia dini yang berada di Jalan Demak 2 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang, Sumatera Selatan, itu seakan ingin mengingatkan kepada anak didik pentingnya menjaga lingkungan hidup. Alasan itu diutarakan Syalfitri, pemilik lembaga pendidikan anak usia dini itu.

Dikutip dari situs kaganga.com, Syafitri berkata, "Walaupun gambar alam, tapi awannya agak gelap, menunjukkan keadaan kita karena faktor karhutla (kebakaran hutan dan lahan) alam jadi rusak. Kemudian ada sampah yang menempel, artinya kita sudah banyak dipenuhi sampah berserakan."  

Menurut Syafitri, mural yang terpampang di dinding depan sekolah menjadi wadah edukasi terhadap anak didik untuk disiplin tetap bersih dan tidak membuang sampah. Dengan edukasi itu, dia mendidik murid-muridnya agar bijak memperlakukan sampah.

Para siswa diajarkan tidak membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, anak didik bahkan memperoleh pembelajaran bagaimana mengelola sampah menjadi bahan berharga. Misalnya bungkus permen, tidak dibuang sembarangan. Syafitri memperlakukan barang bekas itu sebagai alat pembelajaran.

Syafitri kemudian menerapkan pembayaran biaya pendidikan dengan sampah. Itu dilakukan sebagai upaya mendidik anak-anak mencintai sampah. Hanya bayar iuran sekolah atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dengan sampah, wali murid sudah bisa menyekolahkan anaknya.

Metode pengelolaan sampah dia pelajari dari seorang aktivis lingkungan asal Jepang. Sampah organik yang dikumpulkan para wali murid dijadikan pupuk kompos. Sampah nonorganik didaur ulang, dijadikan berbagai aksesoris seperti tempat ayunan, tong sampah, dan sebagainya.

Setiap murid yang datang membawa sampah akan dihitung. Seluruh sampah itu akan dikurangi dari biaya iuran bulanan untuk sekolah sehingga bisa mengurangi beban wali murid. Jika sampahnya lebih dari uang iuran, kelebihannya akan diberikan kepada wali murid.

Sampah yang dibawa tidak sulit ditemukan. Umumnya sampah yang ada di lingkungan keseharian anak-anak. Contohnya kotak susu, bekas mie instan, atau buku bekas. Dengan begitu, anak didik tidak perlu memulung, cukup mencari di sekitar rumah.

 

Mulai dari hal yang kecil

Sekolah ini memiliki logo berupa gambar tangan yang membawa kaleng, botol, tutup botol, dan kertas yang di tengahnya terdapat janin manusia. Gambar itu berarti, jika kita tidak menjaga lingkungan, generasi selanjutnya tidak bisa menikmati dan merasakan bersihnya lingkungan.

Melalui sekolah ini, Syalfitri berusaha menebarkan kesadaran, setiap orang dapat memiliki rasa cinta kebersihan dan menularkannya kepada orang lain. Jika itu terus disebarluaskan, dampaknya akan semakin besar. Semua dimulai dari hal yang kecil. Jika kita terus tekun, itu akan berdampak besar.

Perempuan kelahiran Palembang, 18 Oktober 1966, ini menceritakan, awalnya ia sempat hampir frustasi karena banyak sampah di lingkungan Kota Palembang, khususnya di sekitar rumah. Ia mencoba terjun di dunia persampahan, tetapi tidak mudah. Bahkan banyak penolakan yang ia peroleh. Penolakan tak hanya tetangga, tetapi juga teman, termasuk keluarga inti.

Namun bagi Syafitri, penolakan tersebut justru pemicu untuk terus melangkah. Dia memyatakan ada sesuatu yang seolah-olah berlawanan dengan hati kecil dan pikirannya, kenapa harus takut dan kenapa harus mundur? Dia yakin banyak orang yang mau diajak melakukan edukasi sampah.

Sejatinya, PAUD berdiri pada 2003. Penerapan pembayaran dengan sampah diterapkan 10 tahun berselang, 2013. Ide memanfaatkan sampah bermula dari keprihatinan Syafitri terhadap banyaknya sampah organik maupun noorganik yang dibuang sembarangan oleh warga sekitar. Melihat kejadian itu, hatinya tergerak untuk mengumpulkan sampah sebagai alat pembayaran di sekolah TK yang dia dirikan.

Dia mengakui, ide itu sempat mendapatkan penolakan dari keluarganya lantaran sampah yang menumpuk mengeluarkan aroma tak sedap. Namun, lambat laun Syafitri dapat membuktikan sekolah sampah yang dia kelola mampu menghasilkan rupiah jika digarap dengan baik.

Bahkan, di TK Junjung Birru banyak slogan-slogan yang menyinggung tentang sampah. Salah satunya, di sisi pintu luar sekolah terpampang jelas tulisan di permukaan ban bekas berwarna hitam yang ditempel dan dicat ulang warna merah.

Slogan-slogan itu untuk menyadarkan semua orang. Paling penting, kata dia, edukasi sampah melibatkan seluruh siswa dari TK, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurut Syafitri, jika siswa TK setahun, SMP dan SMA masing-masing tiga tahun, dibiasakan tidak membuang sampah sembarangan, pada akhirnya akan menjadi pola hidup sehari-hari.

Belakangan, tak hanya anak didik yang datang ke sekolah membawa barang bekas. Orang tua pun melakukan hal yang sama sebagai pembayaran biaya pendidikan.

Syafitri berharap ini bisa mengurangi sampah yang mencemari dan merusak lingkungan akibat kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah. Ia juga berharap murid-muridnya tetap menjaga lingkungan karena dampak sampah sangat besar.

Penulis : Burhanuddin Bela

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar