Telma Margaretha Huka: Latih 500 Guru PAUD Terapkan Bahasa Ibu

Paudpedia- Namanya Telma Margaretha Huka. Wanita ini energik, penuh semangat dan dedikasi pada kesejahteraan masyarakat ini. Sejak tahun 2005, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Telma Margareta Huka  Bersama timnya, Yayasan Suluh Insan Lestari (SIL) memperjuangkan kelestarian penggunaan bahasa ibu di Papua. Caranya, pengunaan bahasa ibu itu diterapkan di jenjang PAUD melalui bahan ajar berupa Rencana kegiatan Harian (RKH), buku-buku cerita lokal dan Alat Permainan Edukatif (APE).

“Pembelajaran dengan bahasa ibu lebih efektif untuk mengatasi masalah tingginya angka buta aksara yang dialami warga di daerah-daerah pedalaman Papua, “kata Telma beberapa waktu lalu.

Namun, menurut Telma, tidak semua bahasa ibu di Papua bisa diberdayakan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan suku-suku di pedalaman Papua.  “Ada hampir 300 bahasa lokal di Papua, namun hanya sekitar 11 bahasa lokal Papua yang jumlah penuturnya masih banyak dan penggunaannya masih tersebar merata dan luas, sebagian besar hampir punah dan ada juga sekitar 20 an bahasa di Papua yang sudah bercampur dengan Bahasa Indonesia, “kata Telma.

Melatih para guru

Dijelaskan Telma, pihaknya dan Yayasan SIL tidak langsung terjun ke anak-anak didik di PAUD, tapi melalui para guru. Telma dan SIL hanya sebatas mendesain bahan ajar, buku cerita lokal dan menciptakan APE dalam Bahasa ibu dengan tetap berpedoman pada desain Kurikulum 13. Kemudian melatih para guru tentang bagaimana menstimuli para anak usia dini itu dengan menggunakan Bahasa ibu yang mengacu pada RKH, buku cerita dan APE itu.

“Karena itu, guru-guru yang kami latih itu harus sudah menguasai dua Bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa ibu dimana ia mengajar, “kata Telma.

Selain RKH, buku cerita dan APE, Telma juga memanfaatkan teknologi informasi yang penggunaan tablet. Alasan, penggunaan tablet itu, ujar Telma, bahwa tidak semua guru senang membaca, jadi anak-anak cukup membuka tablet itu yang didalamnya ada video, ada suara, dan gambar-gambar untuk menstimuli kemampuan kognitif anak.

Menurut Telma, RKH  itu disusun melalui 10 topik, antara lain topik tentang keluarga, Kesehatan, transportasi, Pendidikan, tanaman, dan sebagainya. Sementara itu juga ada sebanyak 60 buku cerita lokal sebagai bahan ajar.

Sudah melatih 500 guru PAUD

Pilot project kegiatan penggunaan Bahasa Ibu tersebut adalah di Kabupaten Lanny Jaya, dan lantas dikembangkan di Tolikara, Mamberamo Tengah, Deiyai, Nabire, Waropen, Kabupaten Jayapura, Mimika, Merauke, dan Yahukimo.

“Di Lanny Jaya, sejak 2015, kami sudah melatih lebih dari 100 guru, di Mamberamo Tengah ada 95 guru,   sedangkan di daerah lainnya, baru kami latih sekitar 2-6 orang guru PAUD di setiap kabupaten, “kata lulusan Universitas Kristen Paulus Makassar ini.

Total, sejak 2015, di 11 kabupaten, Telma dan SIL telah melatih sekitar 500 guru PAUD dan sekolah dasar. Selama pelatihan yang berlangsung antara 3-5 hari itu, para guru itu dilatih mengenai penggunan bahan ajar berupa modul pembelajaran dalam bahasa ibu serta bagaimana menerapkannya di ruang kelas di depan anak-anak, bagaimana memanfaatkan bahasa ibu itu dalam bernyanyi serta mempergunakan alat permainan edukatif.

Ada yang menarik, lanjut Telma, penggunaan bahasa ibu di jenjang PAUD itu ternyata memancing keingintahuan kakak-kakaknya yang masih tunaaksara. “Mereka lantas ikut belajar dengan bahasa ibu dan Sebagian diantaranya sudah bisa membaca, jadi nampaknya apa yang kami lakukan ini menjadi semacam pemancing untuk penuntasan tunaaksara, “ujar Telma.

Menurut Telma, penggunaan bahasa ibu akan sangat efektif diterapkan di pedalaman, sebab di daerah tersebut, bahasa ibu lebih dominan dari pada Bahasa Indonesia atau Bahasa lainnya.  

“Dengan Bahasa ibu, anak-anak akan lebih mudah memahami bentuk serta makna huruf dan angka. Setelah itu, mereka baru belajar membaca, dan berhitung dengan Bahasa Indonesia, “jelas Telma. (Yanuar Jatnika)

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar