Guru BK-Orang Tua Bersama-sama Kembangkan Potensi AUD ABK

Paudpedia- Dalam  upaya pengembangan dan penumbuhan karakter serta peningkatan kualitas akademik peserta didik, di setiap Lembaga Pendidikan di semua jenjang selalu ada guru atau tenaga kependidikan di bidang Bimbingan dan Konseling (BK). Termasuk dalam hal ini di Lembaga Pendidikan yang menangani  Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), baik itu Sekolah Luar Biasa maupun sekolah inklusi. Termasuk di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Menurut Marja, staf pengajar di Program Studi Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, secara umum kelembagaan BK di PAUD  yang melayani ABK  bertindak dalam hal memfasilitasi guru dan orang tua/wali peserta didik dalam mengembangkan potensi dan tumbuh kembang  Anak usia dini ABK secara optimal.

“Setidaknya mengatasi permasalahan yang dihadapi peserta didik ABK dalam mengikuti proses pembelajaran dan bersosialisasi, “ujar Marja dalam Bimbingan Teknis bagi PAUD yang melayani ABK yang digelar Direktorat PAUD, Kemdikbud, pertengahan September 2020 lalu.

Secara lebih rinci lagi, lanjut Marja, BK PAUD ABK bertujuan membantu guru dan orang tua untuk :

  1. Memahami dan menerima anak didik ABK apa adanya;
  2. Mengatasi gangguan belajar, sosial, dan emosi peserta didik;
  3. Mengambil keputusan dalam memilih sekolah lanjutan;
  4. Meningkatkan potensi anak didik ABK sesuai karakteristik perkembangannya;
  5. Mengembangkan kesiapan mental dan sosial ABK untuk masuk ke jenjang Pendidikan berikutnya. “Dalam hal ini, orang tua yang lebih tahu karakteristik dan kesiapan anak, “ujar Marja.

Proses BK ini, kata Marja, dimulai sejak ABK mendaftar di PAUD dengan Langkah-langkah :

Pertama, observasi terhadap AUD ABK berdasarkan perkembangan AUD secara umum

Kedua, mengidentifikasi hambatan yang dialami AUD ABK. “Pada tahapan ini, guru BK menyampaikan hasil identifikasinya pada orang tua dan AUD sendiri, “tambah Marja.

Langkah berikutnya, guru dan orang tua mendiskusikan untuk menyepakati disusunnya program pengembangan potensi anak. Guru lantas menindaklanjutinya dengan Menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI) dan lantas disampaikan pada orang tua.

“Prinsip utama  layanan BK adalah memberikan bantuan pada ABK dan menekankan pada karakteristik perbedaan invidual, “ujar  Marja.

Khusus untuk guru PAUD, kata Marja, tugasnya adalah melayani AUD ABK dalam hal :

  1. Membantu AUD ABK mengenal lingkungan sekolah;
  2. Memberi informasi mengenai cara belajar, bergaul dan Pendidikan lanjutan;
  3. Mengajarkan sikap dan cara belajar yang baik;
  4. Menyalurkan bakat dan minat anak; serta
  5. Mengajarkan kecakapan hidup.

Baca juga :

 

Kerjasama dengan Pihak Lain

Menurut Marja, guru BK belum tentu dapat mengatasi segala hal terkait AUD ABK. Karena itu, tugas lanjutan guru BK adalah memberi bantuan teknis pada orang tua yang membutuhkan bantuan ahli gizi, psikolog, terapis, dan sebagainya.

“Bisa juga menghadirkan konselor yang memediasi guru dan orang tua atau menggelar pertemuan sesama orang tua, “lanjut Marja.

Guru BK juga, kata Marja, punya hak bahkan wajib menghimbau atau menyarankan orang tua dalam hal pola asuh di rumah sesuai karakteristik dan perkembangan AUD ABK. “Ini bisa dilakukan guru BK dengan melakukan kunjungan ke rumah orang tua AUD ABK”katanya.

Orang tua, kata Marja, berkewajiban menjalankan hasil konsultasi dan diterapkan di rumah untuk memastikan keberlanjutan proses layanan bimbingan dan konseling yang sudah dilaksanakan di sekolah ditindaklanjuti orang tua di rumah.

“Saat guru datang ke rumah orang tua AUD ABK, pantau perkembangan AUD ABK di rumah dan sampaikan perkembangan di sekolah sehingga guru dan orang tua punya satu pemahaman yang sama tentang perkembangan si anak, “papar Marja.

Terkait keberadaan guru BK di jenjang PAUD, diakui Marja sampai saat ini belum ada. Karena itu,yang melaksanakan proses bimbingan dan konseling di jenjang PAUD adalah guru pembimbing khusus (GPK) yang sudah mendapat mata kuliah tentang bimbingan dan konseling.

”Kalau tidak ada GPK, mau tidak mau guru PAUD  harus merangkap  GPK yang memberikan bimbingan dan konseling. Konsekuensinya, mereka harus mendapatkan tambahan pelatihan atau Pendidikan tentang layanan kosneling, “jelas Marja.

Penulis                 : Ari Susanto

Editor                    : Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar