Yuk Kita Kenali Proses Pembelajaran Pada Anak Tunarungu

PAUDPEDIA—Apa itu tunarungu (Tuli)  dan bagaimana memberikan pembelajaran pada anak dengan kondisi tunarungu? Leliana Lianty, dari Tim Pengembang PAUD Inklusif mencoba memaparkannya dalam kegiatan Bimbingan Teknik secara virtual pada ratusan Lembaga PAUD yang melayani Anak Kebutuhan Khusus (ABK). Acara itu digelar Direktorat PAUD Kemdikbud, pada pertengahan September 2020 lalu.

Menurut Leliana, anak dengan tunarungu atau tuli  adalah anak yang tidak mempunyai kemampuan mendengar.  “Kehilangan kemampuan mendengar ini meliputi ringan, sedang, berat dan sangat berat, yang  akan mengakibatkan pada gangguan komunikasi  dan bahasa. Keadaan ini walaupun telah diberikan  alat bantu mendengar (ABD) tetap memerlukan  pelayanan pendidikan khusus, “kata Leliana.

Dalam kaitan dengan proses pembelajaran, kata Leliana, perlu diketahui jenis ketunarunguan berdasarkan taraf penguasaan Bahasa, yakni Tunarungu  Pra Bahasa, yakni anak  yang menjadi tuli sebelum dikuasainya Bahasa. Jenis tunarungu ini sebagian besar karena bawaan sejak lahir atau anak menjadi tunarungu sebelum berusia 18 bulan atau 1,5 tahun.

Yang kedua adalah tuli purna Bahasa, tuli setelah  menerapkan dan memahami sistem lambang Bahasa. Jenis ini terjadi karena seseorang terkena suatu penyakit yang merusak fungsi pendengarannya.

Namun, Ketika anak sudah memasuki alam pergaulan sosial, kedua jenis tunarungu itu mempunyai karakteristik sama. Mengalami kemiskinan dalam perbendaharaan kosa kata.  

“Anak tunarungu akan sangat  bermasalah dalam pemrosesan  melalui ingatan jangka pendek,  dan akan berdampak pada  rendahnya kualitas ingatan jangka  Panjang, “kata Leliana.

Baca juga :

Akibatnya, secara psikoloogis,anak tunarungu mempunyai kecenderungan bersifat ego sentris,impulsif, kaku, gampang tersinggung, dan peragu atau mudah khawatir. Dengan kondisi psikologis seperti itu,anak tunarungu cenderung ketergantungan pada lingkungan sosial dan menutup diri dari pergaulan.

“Pada perilaku secara fisik motorik, tidak menunjukkan perbedaan perilaku dengan anak pada umumnya. Tetapi nampak tertinggal dengan anak normal pada tahap operasional formal,   terutama  yang menuntut logika dan  kemampuan abstraksi yang berujung pada kemampuan kognitif, “papar Leliana.

 

Proses pembelajaran pada anak tunarungu

Secara umum, ada dua pendekatan dalam memberikan pembelajaran pada anak tunarungu, yakni pendekatan komunikasi dan pendekatan pembelajaran Bahasa.

Pembelajaran  dengan pendekatan komunikasi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan cara verbal, nonverbal, dan gabungan dari verbal-nonverbal.

Verbal

Pembelajaran dengan menggunakan  lisantulisan, dan membaca ujaran. Pendekatan ini lebih mengarah kepada mengajak anak berkomunikasi dengan bahasa seperti kesepakatan yang dimiliki oleh anak dengar. “Pada pendekatan komunikasi verbal ini, guru dituntut untuk dapat menggunakan gerak bibir dengan baik agar komunikasi dengan anak tunarungu berjalan dengan baik, “kata Leliana.

Nonverbal

Pendekatan dengan menggunakan gesture (gerak tubuh), mimik (ekspresi wajah), dan isyarat. Pendekatan komunikasi cara ini lebih mengutamakan bagaimana anak mengerti atau dapat memahami bahasa melalui gerakan atau tindakan ril. Pada pendekatan komunikasi nonverbal isyarat dibagi dua bagian, yaitu isyarat baku; berkomunikasi menggunakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), dan isyarat alamiah (Bahasa Isyarat).

Campuran

Pendekatan komunikasi cara ini adalah pendekatan yang menggabungkan cara verbal dan nonverbal. “Apabila pembelajaran menggunakan cara ini, guru dapat mengucapkan atau melisankan bahasa sambil melakukan gerak tubuh atau melakukan isyarat (baik baku maupun alamiah), “jelas Leliana.

Sedangkan dalam pendekatan pembelajaran bahasa, menguatamakan proses pembelajaran ilmu umum kepada anak tunarungu sambil mempelajari bahasa dan kosa kata baru.

Melalui pendekatan bahasa anak tunarungu dapat memelajari IPA, IPA, sejarah, dan pelajaran lainnya secara bersamaan dari suatu percakapan.

“Misalnya guru mengajak anak tunarungu untuk mambicarakan sebuah kecelakaan. Dari pembicaraan atau “obrolan” guru dengan anak tunarungu inilah guru dapat menyampaikan pelajaran IPA, IPS, sejarah, dan ilmu lainnya yang dikamuflase agar tampak seperti percakapan biasa dalam kehidupan sehari-hari, “kata Leliana.

Pendekatan pembelajaran bahasa dibagi dalam tiga metode, yakni metode formal (dengan konstruksional/sturuktural), metode okasional (dengan meniru ucapan/imitatif), dan metode maternal reflektif (berdasarkan bagaimana cara ibu mengenalkan bahasa pada anak tunarungu atau lebih dikenal dengan metode bahasa ibu).

“Metode maternal reflektif sebenarnya merupakan bentuk dari pendekatan komunikasi campuran verbal dan nonverbal, “ujar Leliana.

Yanuar Jatnika

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar