Orang Tua dan Guru Perlu Memahami Deteksi Dini dan Penanganan ABK

PAUDPEDIA--- Data Badan Pusat Statistik tahun 2017 menunjukkan, ada sebanyak 1,6 juta anak di Indonesia yang tergolong anak berkebutuhan khusus (ABK), yakni anak-anak yang mengalami penyimpangan, kelainan atau ketunaan dalam segi fisik, mental, emosi dan sosial, atau gabungan dari hal-hal tersebut.

“Masalahnya, masih banyak orang tua atau keluarganya yang telat melakukan deteksi sehingga tumbuh kembang anak tidak optimal. Padahal, deteksi dini ABK dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain. Apabila anak berkebutuhan khusus ditangani sejak awal, maka segala bakat dan kemampuannya bisa dieksplorasi dan bermanfaat untuk masa depannya”, kata Siti Nuraini Purnamawati, pengajar pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta.

Hal itu dikatakan Siti Nuraini dalam Bimbingan Teknik (Bimtek) terhadap ratusan lembaga PAUD yang menangani ABK. Kegiatan itu digelar Direktorat PAUD Kemdikbud pada 18 September 2020 lalu.

Siti Nuraini berharap, agar Bimtek tersebut dapat meningkatkan kemampuan lembaga PAUD dalam membentuk kemandirian dan mengurangi ketergantungan ABK terhadap bantuan orang lain.

Baca juga :

Menurut Siti Nuraini, ada beberapa jenis ABK dengan cara penanganannya yang juga berbeda. Untuk itu, penting bagi Lembaga PAUD yang dalam hal ini guru-gurunya untuk mengetahui jenis ABK dan menentukan cara menanganinya.

Beberapa jenis ABK tersebut, yakni:

Gangguan Autis

Ciri utama yaitu gangguan pada perkembangan kemampuan interaksi sosial, komunikasi, dan munculnya perilaku berulang yang tak bertujuan. Perlu diketahui, gangguan autis bisa saja muncul mengikuti retardasi mental tapi bisa juga tidak. Artinya, gangguan autis bisa tetap tumbuh kembang layaknya anak normal apabila dikelola secara baik.

Gangguan Asperger

Penderita gangguan asperger memiliki ciri-ciri yang mirip dengan autisme. Asperger merupakan gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam spektrum autisme ringan. Pada sindrom asperger, penderita cerdas dan mahir dalam kemampuan verbal, namun canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, penderita asperger cenderung tidak berekspresi, kurang peka, obsesif, repetitif, tidak menyukai perubahan, dan memiliki gangguan motorik.

Gangguan Attention Deficit/Hyperactive Disorder (AD/HD)

Ciri utama dari AD/HD adalah kurangnya kemampuan memperhatikan dan kontrol perilaku yang ditandai munculnya hiperaktivitas dan perilaku impulsif yang sulit ditahan. Anak dengan perhatian mudah teralihkan, tidak sabar, atau impulsif belum tentu menderita AD/HD. Perlu diagnosa spesifik dari dokter spesialis mengenai status anak.

Gangguan Perilaku/Tingkah Laku

Gangguan perilaku atau conduct disorder merupakan gangguan yang meliputi agresi terhadap orang lain dan binatang, menghancurkan barang kepemilikan, berbohong atau mencuri, dan pelanggaran aturan yang serius. Gangguan perilaku disebabkan banyak hal dan umumnya tidak terdeteksi saat bayi. Namun pada saat anak mulai beranjak dewasa, perilakunya bisa mulai terlihat, misalnya senang menyiksa binatang atau memukul anak lain. Gangguan perilaku yang tidak ditangani dapat berujung kepada aksi kriminal di usia dewasa.

Gangguan Menentang (Oppositional Defiant Behaviour)

Gejala menonjol dari perilaku gangguan menentang adalah suka mendebat atau menentang norma atau nasihat orang dewasa. Walaupun tidak diikuti agresivitas fisik, melukai orang, atau merusak benda. Penyebab dari gangguan menentang lebih ke permasalahan psikologis yang dialami anak seperti pola asuh, modelling, atau pengaruh teman sebaya.

Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi merupakan gangguan perkembangan bicara dan bahasa yang ditandai kesulitan dalam menghasilkan bunyi/suara, menggunakan bahasa lisan untuk berkomunikasi, atau memahami apa yang disampaikan orang lain. 

Gangguan Keterampilan Motorik

Gangguan keterampilan motorik merupakan gangguan yang terjadi saat anak tidak bisa melakukan koordinasi motorik atau aktivitas-aktivitas motorik yang penting dan lazimnya sudah dikuasai anak sesuai umurnya.

Gangguan Belajar

Gangguan belajar dikategorikan menjadi gangguan membaca (disleksia), gangguan menulis (disgrafia), dan gangguan matematika (diskalkulia). Pada gangguan belajar, anak-anak memiliki kemampuan intelegensi rata-rata dan tidak ada hambatan dalam kesempatan belajar namun mereka memiliki kesulitan dalam belajar. 

Menurut Siti Nuraini, ada beberapa ciri ABK yang dapat dideteksi secara dini. Ciri-ciri tersebut antara lain :

 

Fisik

  • Anak memiliki bentuk wajah tidak lazim
  • Mata miring, lidah tebal, dan leher pendek
  • Mata mendekat ke hidung atau sebaliknya dari sudut normal
  • Anak sulit menghisap melalui botol susu atau puting ibu

Komunikasi dan interaksi sosial

  • Tidak merespon saat namanya dipanggil, meskipun pendengarannya normal
  • Tidak pernah mengungkapkan emosi
  • Tidak peka terhadap perasaan orang lain
  • Tidak bisa memulai atau meneruskan percakapan
  • Tidak bisa meminta sesuatu 
  • Sering mengulang kata namun penggunaannya kurang tepat
  • Sering menghindari kontak mata
  • Kurang berekspresi
  • Tidak pernah melihat ke arah benda yang ditunjuk
  • Tidak memiliki ketertarikan kepada anak-anak lain

 

Penulis          : Eko BH

Editor             : Yanuar Jatnika

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar