Cara Mendampingi Anak Tunadaksa Agar Mampu Mandiri

Paudpedia—Ayah Bunda, setiap anak itu lahir membawa potensinya masing-masing. Begitu juga halnya anak dengan yang karena sesuatu sebab menderita kelainan fisik atau psikis yang disebut anak dengan kebutuhan khusus (ABK), seperti tunadaksa, yakni anak yang mempunyai gangguan   bentuk   atau   hambatan   pada   tulang,   otot   dan   sendi   dalam fungsinya yang normal. Kondisi tersebut dapat disebabkan karena penyakit, kecelakaan atau bawaan.

Di luar ketidakmampuannya itu, para ABK mempunyai potensi seperti halnya anak yang lainnya. Orang tua atau dewasa di sekelilingnya, seperti guru, hendaknya memberikan stimulasi dan layanan pendidikan yang terbaik untuk mereka.

Menurut Marja, staf pengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta, anak dengan tunadaksa didefinisikan sebagai penyandang bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang dan persendian maupun syaraf yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan yang lain.

“Ada dua jenis tunadaksa berdasarkan kerusakannya itu, yakni  kelainan pada sistem cerebral (cerebral system), yakni pada sistem saraf pusat, yang mengakibatkan kelumpuhan otak. Kedua, kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus sketal system) yang berakibat pada kelumpuhan organ tubuh tertentu, “ujarnya dalam paparannya pada Bimbingan Teknik terhadap guru PAUD yang digelar Direktorat PAUD pada Kamis, 17 September kemarin.

Dikatakan Marja, anak dengan tunadaksa jenis cerebral system, 45  persennya mengalami keterbelakang mental dalam bentuk mengalami gangguan persepsi, kognisi, dan simbolisasi. Ciri-cirinya, kebanyakan mengalami gangguan bicara. Ketika mereka berbicara, rata-rata lawan bicara mengalami kesulitan untuk memahami.  Sedangkan tunadaksa karena kelainan pada sistem otot dan rangka pada umumnya mempunyai  IQ  yang  normal  dan  bisa  berinteraksi dengan  anak-anak  normal  lainnya. 

Persamaan keduanya, sama halnya dengan ABK yang lain, mayoritas anak tunadaksa mengalami perasaan-perasaan negatif, seperti merasa rendah diri, tidak berguna, dan lain-lain. Akhirnya perasaan-perasaan negatif tersebut mempengaruhi emosi dan perkembangan sosialnya, “jelas Marja.

Namun, lanjutnya, ada beberapa anak tunadaksa yang tidak terpengaruh dengan kondisi fisik sehingga bisa hidup seperti biasa, bahkan mampu mempengaruhi lingkungan sekitar.

Baca juga :

 

Mendampingi anak tunadaksa

Dikatakan Marja, pendidikan bagi anak tunadaksa diarahkan pada dua hal, yakni mengatasi permasalahan akibat kecacatannya dan menyiapkan anak agar memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Ada  tujuh aspek  yang  perlu  dikembangkan  pada  diri  anak  tunadaksa,  yaitu: 

(1)  Pengembangan  Intelektual  dan  Akadmeik, 

(2)  Membantu  perkembangan fisik,

(3)  Meningkatkan perkembangan emosi & penerimaan diri,

(4)  Mematangkan aspek sosial,

(5)  Mematangkan moral dan spiritual,

(6)  Meningkatkan ekspresi diri, dan

(7)  Mempersiapkan masa depan anak.

“Anak-anak tunadaksa dapat bersekolah di sekolah reguler, sekolah inklusi atau sekolah khusus, seperti Sekolah Luar Biasa (SLB), “jelasnya.

Baca juga : 

Pemerintah Penuhi Hak Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Sejak PAUD

Tip untuk Guru PAUD Dalam Mendampingi AUD Tunanetra

Di manapun sekolahnya, lanjut Marja, sekolah ideal bagi anak tunadaksa adalah sekolah yang bisa menyediakan segala kebutuhan anak tunadaksa, termasuk pengajar/ahli di bidang: pedagogik, dokter anak, dokter rehab medis, dokter ortopedi, dokter syaraf, psikolog, guru konseling, pekerja sosial, fisioterapis, terapis bicara, dan terapis okupasi.

Pembelajaran   khusus   yang   harus   didapatkan   minimal   oleh   anak, diantaranya rehabilitasi fisik, latihan fisik dan motoric, terapi bicara bagi yang  mengalami  problem bicara dan keterampilan atau kecakapan hidup.

“Program-program   khusus   atau   umum   yang dirancang untuk anak-anak tunadaksa harus melalui tahapan yang bernama asessment yakni mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi anak sehingga dapat dilakukan terapi atau pembelajaran yang sesuai, “ujar Marja.

Penulis : Ifina Trimuliana

Editor   : Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar