Tip untuk Guru PAUD Dalam Mendampingi AUD Tunanetra

Paudpedia—Ayah Bunda, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, baik itu anak yang normal maupun anak yang memiliki kebutuhan khusus, seperti anak yang tunanetra. Mereka dapat bersekolah bersama dengan anak-anak yang normal di sekolah inklusi, yakni sekolah yang memberikan layanan pendidikan yang sama pada anak didik difabel atau berkebutuhan khusus seperti terhadap anak normal.

Guru di sekolah inklusi sebaiknya memahami tentanhttp://anggunpaud.kemdikbud.go.id/index.php/berita/index/20200920202515/Cara-Mendampingi-Anak-Tunadaksa-Agar-mampu-Mandirig konsep pembelajaran pada anak tunanetra.

Menurut Marja, staf pengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta, dalam konteks pendidikan, seseorang dikatakan tunanetra bila penglihatannya tidak dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus.

“Namun,  bila tunanetranya itu bisa  diatasi dengan penggunaan kacamata, maka anak itu sudah tidak lagi disebut tunanetra sehingga  tidak lagi memerlukan pelayanan pendidikan khusus, “ujar Marja dalam paparannya pada Bimbingan Teknik terhadap guru PAUD yang digelar Direktorat PAUD pada Kamis, 17 September kemarin.

Baca juga : 

Dikatakan Marja, anak tunanetra memerlukan layanan khusus sebab ada beberapa keterbatasan:

Pertama, terbatas dalam memahami konsepsi atau pengalaman;

Kedua, keterbatasan dalam hal interaksi dengan lingkungan atau sosialisasi;

Ketiga, keterbatasan dalam pergerakan fisik atau mobilitas

Dengan tiga keterbatasan itu, lanjut Marja, penyandang tunanetra akan terganggu dalam aktifitas belajar, bekerja,  serta beraktifitas keseharian lainnya secara normal. Akibatnya, penyandang tunanetra akan terganggu perkembangan kognitifnya karena berkurangnya informasi atau pengalaman secara visual. “Ini terjadi karena secara umum, 80 persen persepsi dan perkembangan kognitif diperoleh melalui indera visual, “kata Marja.

Pada akhirnya, keterbatasan visual itu berpengaruh pada kondisi emosinya, seperti perasaan takut, mudah cemas, mudah tersinggung, curiga, marah, sedih, dan emosi negatif lainnya.

“Masalah tambah berat karena secara sosial, sikap masyarakat kurang menguntungkan bagi penyandang tunatera, seperti terjadinya penolakan, diacuhkan, diisolasi, bahkan tak jarang mengalami penghinaan dan pelecehan, “katanya.

Karena itu, guru, baik di sekolah luar biasa, sekolah khusus, atau sekolah inklusi, perlu memahami metode pembelajaran untuk anak didik penyandang tunanetra. Tujuan pembelajaran bagi peserta didik tunanetra itu sendiri, lanjut Marja, adalah :

Pertama, Meniadakan atau mengurangi hambatan dalam belajar dan perkembangan fisik, psikis, dam sosial;

Kedua, memberikan keterampilan agar peserta didik tunanetra mampu berkompetensi dengan orang yang normal;

Ketiga, membantu peserta didik penyandang tunanetra untuk memahami atau menyadari potensinya.

Karena itu, lanjut Marja, untuk mencapai tujuan pembelajaran bagi peserta didik penyandang tunanetra itu, setiap lembaga pendidikan harus memiliki guru, dan sarana yang dapat membantu dalam hal, keterampilan sensoris, perkembangan motorik, pengembangan konsep, keterampilan komunikasi dan sosial, serta memampuan menolong diri sendiri.

 

Prinsip pembelajaran bagi penyandang tunanetra

Dijelaskan Marja, peserta didik penyandang tunanetra wajib menerima apapun secara nyata dan menghindarkan terjadinya verbalisme atau konsep yang dipahami secara verbal saja. Dalam hal ini, indera peraba sangat penting ditekankan pada penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi tentang obyek yang tidak bersuara.

“Semuanya dilakukan dengan konsep belajar sambil melakukan atau pengalaman kongkrit yang menekankan agar anak didik penyandang tunanetra memperoleh pengetahuan melalui pengalaman yang secara langsung dialami sendiri, ‘jelas Marja.  

Untuk mempermudah guru dan penyandang tunanetra, ruang kelas juga harus ditata berbeda dengan ruang kelas untuk peserta didik normal. Salah satu konsepnya dalam penataan kelas adalah agar kondisi kelas diciptakan bisa terjadi situasi kerjasama, dimana penyandang tunanetra bisa berbaur dengan anak didik yang normal.

‘Penyandang tunanetra harus duduk barengan dengan anak yang normal namun punya kepedulian yang tinggi, serta jangan tempatkan di kelas yang berpotensi bising, sebab penyandang tunanetra itu mengandalkan indera pendengaran, ‘kata Marja.

Strategi Pengajaran Khusus

Agar penyandang tunanetra bisa menangkap pelajaran secara maksimal, menurut Marja, ada strategi khusus yang harus dirancang pengelola sekolah, yakni :

  • Anak didik tunanetra harus ditempatkan pada bangku paling depan atau dekat dengan sumber kegiatan.
  • Buat media yang bersifat timbul atau asli/mendekati aslinya.
  • Dekatkan obyek sedekat mungkin dengan mata anak didik tunanetra
  • Buat tulisan atau gambar yang besar-besar dan dengan warna yang kontras dengan warna latar (lebih baik dengan warna latar putih, tulisan atau gambar dengan hitam atau biru tua atau sebaliknya.
  • Gunakan penerangan yang baik, misalnya posisi anak didik tunanetra lebih dekat dengan sumber cahaya.
  • Kondisikan kontak mata langsung dengan obyek
  • Gunakan objek riil dan konkrit untuk menjelaskan konsep
  • Ketika hendak meminta perhatian anak, panggil namanya dan dalam proses penjelasan sesuatu gunakan komunikasi verbal
  • Menyapa sambil membuat kontak dengan menyentuhkan punggung tangan kita pada lengan atau bahu anak
  • Sediakan materi sesuai dengan tingkat penglihatan anak (materi Braille, pembesaran huruf, materi audio)
  • Gunakan arah jarum jam untuk menunjukkan letak
  • Hindari kata tunjuk (ini, itu), kata ganti tempat (di sini, di sana), kata ganti orang (dia, kamu)
  • Beritahukan bila ada perubahan letak atau bila kita hendak meninggalkan anak sendiri
  • Bercerita saat berpergian dengan anak
  • Sediakan alat bantu seperti riglet stylus untuk menulis braille, tape recorder untuk membuat buku bicara dengan cara merekam, tongkat putih untuk alat bantu orientasi mobilitas serta assistive tec
  • Memberikan ketrampilan membaca, menulis Braille
  • Memberikan ketrampilan tulisan tangan (LV)
  • Menberikan layanan cetak besar dan alat bantu
  • Mengajarkan ketrampilan mendengar
  • Mengajarkan ketrampilan perabaan
  • Melatih pengembangan motorik
  • Melatih orientasi dan mobilitas
  • Melatih pengembangan konsep
  • Melatih ADL
  • Mengajarkan pendidikan seks.

 

Penulis      :Ifina Trimuliana

Editor       : Yanuar Jatnika

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar