Salah Tafsir Tentang Kemampuan Calistung Bagi Balita

Kapan sebaiknya pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) diajarkan pada  anak-anak usia dibawah lima tahun?

Menurut Ella Yulaelawati, pendiri Rumah Komunitas Kreatif, dalam bukunya “Investasi di Usia Emas”, ada kesalahtafsiran dari orang tua dan juga sekolah dasar tentang sejauhmana anak-anak usia dini harus menguasai keterampilan calistung.  Dalam Kurikulum PAUD 2013 memang disebutkan, tujuan PAUD adalah mendorong pengembangan optimal potensi peserta didik melalui pengalaman belajar bermakna. Hal itu dilakukan melalui bermain untuk menumbuhan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan agar anak didik PAUD memiliki ‘kesiapan menempuh jenjang pendidikan sekolah dasar’.

Nah, dalam kalimat ‘kesiapan menempuh jenjang pendidikan sekolah dasar’ itu banyak orang tua dan sekolah dasar yang menafsirkannya dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. “Sebetulnya, yang dimaksud dengan kalimat itu adalah bahwa peserta didik PAUD itu menguasai kemampuan keaksaraan, yakni memahami hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dan cerita, “kata Ella.

Jadi, lanjut Ella, yang tidak boleh diajarkan pada peserta didik PAUD  adalah keaksaraan konvensional seperti belajar di kelas-kelas sekolah dasar, di mana ada guru di depan dan mendikte peserta didik untuk menulis atau membaca.

Analoginya, anak-anak baru bisa berjalan setelah sebelumnya melalui proses membalikkan badan, tengkurap, duduk, dan merangkak. Kalau anak usia 1 tahun dipaksa langsung harus bisa jalan, sangat berpotensi memiliki kaki bengkok atau seperti huruf O.

Memang, dalam Kurikulum PAUD 2013, disebutkan, bahwa salah satu kompetensi dasar PAUD adalah kemampuan berbahasa reseptif yang meliputi menyimak dan membaca. Tapi, indikatornya bukan kemampuan menulis dan membaca, melainkan  kemampuan menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosa kata yang terbatas untuk anak usia 4-5 tahun dan kemampuan  menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosakata yang lebih untuk anak usia 5-6 tahun. Strateginya, orang dewasa membaca atau mendongeng, kemudian anak menceritakan kembali apa yang didengarnya itu.

“Inilah yang disebut pra-keaksaraan atau keaksaraan awal, sebuah istilah untuk menjelaskan kemampuan anak dalam menggunakan aksara atau membaca dan menulis yang dikuasai sebelum anak belajar cara membaca dan menulis, “ jelas Ella.

Dijelaskannya,  keaksaraan awal merupakan fondasi bagi anak untuk menguasai kemampuan membaca dan menulis serta berhitung yang menyenangkan.  Keaksaraan awal ini harus diterapkan pada anak usia dini dan tidak dialihkan dengan penguasaan keaksaraan konvensional yang akan melelahkan anak dan menimbulkan pengalaman negatif terhadap membaca dan menulis. Yanuar Yatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar