Bahasa Ibu? Bagaimana mengajarkannya

AnggunPaud - “Dek, sampun dhahar dereng?” tanya Nera pada adiknya. “Enggih, sampun wau sonten Mas” Zaka membalas. “Ayah, itu sih ngomong apa? Keyla bingung dan penasaran melihat pembicaraan di sampingnya. Kita barang kali pernah menjumpai anak-anak yang tidak tahu dan merasa kesulitan memahami orang lain.

Salah satu sebabnya adalah saat orang lain berbicara dengan bahasa daerah lain. Bahkan, masih ada orang tua juga yang merasa kesulitan memahami bahasa ibu sendiri. Memang sangat disayangkan jika saat ini orang tua pun sangat minim menggunakan bahasa daerah sehingga terasa asing bagi anak-anak.

Tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan bahwa puluhan bahasa daerah terancam punah. Bahkan beberapa bahasa daerah dinyatakan punah di antaranya berasal dari Maluku dan Papua. Penyebabnya di antaranya adalah minimnya penutur asli (native speaker) yang ada. Proses perkawinan antar suku dan perpindahan tempat warga asli turut menyumbang terancam punahnya penutur asli.

Bahasa daerah adalah bahasa ibu yang menjadi budaya nusantara. Indonesia meskipun masih banyak memiliki bahasa-bahasa daerah yang ada. Namun, sangat memungkinkan seluruh bahasa daerah di nusantara akan punah dan hanya menjadi dongeng untuk anak-anak generasi mendatang. Tentulah hal ini tidak dapat dibiarkan, bahasa sebagai budaya yang mempengaruhi peradaban nusantara haruslah dijaga dan dilestarikan. Upaya-upaya harus tetap dilakukan untuk melestarikan pun meliterasikan bahasa daerah kepada masyarakat nusantara.

Oleh sebab itu, sangat diperlukan ruang strategis dalam memaksimalkan betul upaya melestarikan bahasa daerah. Gencarnya gerakan literasi sebaiknya menjadi alternatif jitu untuk meluaskan pemahaman masyarakat tentang pentingnya budaya melestarikan bahasa ibu. Bahasa ibu juga merupakan bagian dari literasi yang turut mempengaruhi peradaban nusantara. Di sinilah terdapat ruang strategis yang dapat dimanfaatkan untuk melestarikan bahasa daerah yaitu ruang keluarga.

Keluarga menjadi tempat efektif untuk berinteraksi antara orang tua dan anak. Selain itu, orang tua memiliki kemampuan dan tanggung jawab sosial untuk memberikan pengajaran dan pengalaman berharga kepada anak. Nah, terdapat upaya-upaya yang dapat dilakukan orang tua kepada anak untuk turut meliterasikan bahasa daerah di antaranya;

Pertama, memberikan pemahaman tentang bahasa sebagai budaya. Tidak dapat dipungkiri, bahasa adalah bagian dari budaya dan budaya merupakan corak terciptanya peradaban suatu masyarakat. Memberikan pemahaman tentang bahasa sebagai alat komunikasi itu hal penting. Anak akan mudah belajar, namun memberikan pemahaman bahasa sebagai budaya adalah hal yang berbeda. Orang tua dapat mengkomunikasikan nama-nama benda kepada anak sesuai bahasa. Di samping itu, orang tua perlu memastikan bahwa apa yang dimengerti anak mungkin akan berbeda dengan pemahaman orang lain.

Kedua, mengenalkan bahasa daerah di ruang keluarga. Sejak dini, orang tua perlu mengenalkan bahasa daerah kepada anak. Orang tua dapat membiasakan diri berbicara bahasa daerah. Anak-anak sebagai manusia tabularasa membutuhkan referensi yang ada di lingkungan sekitar. Orang tua memiliki waktu paling banyak untuk berinteraksi kepada anak. Bahkan, orang tua memiliki kemampuan yang paling baik untuk membuat anak patuh. Di sinilah, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk turut mengajarkan berbahasa daerah sebagai budaya masyarakat. 

Ketiga, menciptakan suasana sebagai penutur. Tidak dapat dipungkiri lagi, penyebab terancam punahnya bahasa-bahasa adalah minimnya penutur (native speaker). Orang tua dapat berinteraksi dalam bahasa daerah dengan anak-anak dan melihat kondisi/situasi tertentu yang dapat disepakati bersama. Dengan begitu, literasi bahasa daerah akan terlestarikan dan ditularkan kepada anak.

Keempat, mengajak mencatat. Menjaga dan melestarikan adalah persoalan cara. Literasi bahasa daerah sebagai budaya yang ingin terus kita jaga sebaiknya dapat dilestarikan dengan diliterasikan baik yakni dapat membaca, bertutur dan mencatatnya.

Ya, dengan mencatat bahasa daerah akan memiliki nilai otentik/orisinalitas yang baik. Orang tua dapat mengajak anak untuk dapat menanyakan sesuatu yang sulit dan menyuruh anak untuk mencatatnya. Hal ini akan menghindari kekeliruan berbahasa. Tentu ini menjadi langkah baik untuk menyempurnakan budaya berbahasa daerah. Upaya-upaya inilah yang akan menyumbang kelestarian literasi bahasa daerah. Orang tua dapat melibatkan anak untuk turut meliterasikan bahasa, hal kecil ini akan menjadi upaya terjaganya keotentikan peradaban nusantara.

Selain upaya di dalam keluarga, ada dua alternatif yang dapat dilakukan di dalam lingkungan masyarakat untuk turut melestarikan bahasa daerah;

Pertama, membangun komunitas. Hal yang mengejutkan dari era milineal adalah bersamaan maraknya komunitas-komunitas baru yang banyak bermunculan. Berbagai komunitas dapat kita jumpai dengan mudah. Komunitas-komunitas tersebut pun muncul dengan dari lingkup mikro hingga makro. Persoalan sekunder hingga primer. Namun, masih jarang komunitas yang menyentuh ruang bahasa daerah. Minimnya penutur (native speaker) sebaiknya menjadi solusi untuk membangun generasi-generasi penutur bahasa daerah dengan menciptakan komunitas yang memang konsisten dalam melestarikan bahasa daerah tersebut.

Komunitas ini pun dapat memanfaatkan ruang digital sebagai ruang eksplorasi misalnya dengan menciptakan konten-konten berbahasa daerah atau membuat video/film yang khusus untuk kelestarian bahasa daerah.

Kedua, membuat perayaan bahasa daerah. Bahasa sebagai budaya adalah peradaban. Bahasa daerah tentu membutuhkan perayaan yang melibatkan seluruh penutur nusantara. Hal ini dilakukan untuk dapat mencegah punahnya kekayaan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia. Perayaan bahasa dapat dilakukan dengan beragam kegiatan-kegiatan yang memiliki unsur bahasa itu sendiri. Perayaan bahasa inilah yang akan menyumbang keaslian bahasa tetap lestari dan terjaga.

Nah, demikian upaya-upaya meliterasikan bahasa daerah. Kelestarian bahasa daerah sangat penting untuk memberikan keotentikan peradaban suatu bangsa. Indonesia dengan keanekaragamannya menjadi hal yang perlu disyukuri bersama. Mari kita bersama literasikan bahasa daerah untuk kelestarian budaya nusantara.

Bahasa daerah menjadi bahasa yang perlu sebaiknya kita ajarkan kepada anak. Slogan Bahasa Indonesia kita cintai dan bahasa daerah kita sayangi perlu dilakukan dan tuturkan kepada anak. Anak-anak sejak dini sangat senang mendapatkan hal-hal baru. Bahasa daerah bisa menjadi stimulus anak untuk dapat mengembangkan dan memperbanyak perbendaharaan kata-kata bahasa Ibu. Dengan demikian, orang tua telah ikut membantu mengenalkan budaya yang ada di nusantara. Bahasa sebagai budaya erat dengan keragaman di Indonesia. Maka, bimbingan dan keterlibatan orang tua dan juga sangat dibutuhkan untuk pelestarian bahasa kita.

sumber gambar : https://www.fluentin3months.com/creativity/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar