Jangan-jangan Kita Pelaku Kekerasan Verbal!

AnggunPaud - “Bunda, kata bu guru aku suruh menghafal suratan pendek di rumah. Tadi di sekolah nggak hafal” rengek Naya. “Kan kemarin sudah diajarin sama bunda masa nggak bisa!” Seringkali kita geram saat mengajari anak, namun tak kunjung paham. Dan mengatakan “Cuma gini ko nggak bisa sih?” Atau saat anak anak bandel, kita akan mengatai anak sambil berteriak. “Jangan gitu kak, Nakal yah!”

Tanpa terasa ucapan kita justru telah merendahkan anak dan kita telah melakukan kekerasan verbal. Baik secara sadar atau tidak banyak orang tua yang telah melakukan kekerasan verbal pada anak. Kekerasan verbal merupakan kata-kata yang dilontarkan dengan cara memaki, mengancam, menakut-nakuti, memberikan cap buruk (labelling), atau merendahkan orang lain.

Salah satu ucapan verbal yang biasa dilakukan orang tua yaitu, Memaki “Jangan bikin malu bunda ah!” Mengancam dan menakut-nakuti “Nanti ayah marah loh kalau kamu nggak pintar” “Awas lhoh nanti dimarahin bu guru!” “Bunda kurangin jam bermain kamu yah!” Memberikan cap buruk (labelling) “Nakal kamu yah!” “Anak jahil!” Merendahkan orang lain “Masa kaya gini nggak bisa sih? Makanya belajar yang rajin!” “Bunda dulu waktu sekolah juga pintar masa kamu nggak?”

Kekerasan verbal lebih membahayakan daripada kekerasan fisik. Mengapa? Karena kekerasan verbal tidak mudah disadari oleh kita. Hal inilah yang bisa membuat sang pelaku terus mengulanginya. Memang lukanya tak terlihat. Namun, secara psikis anak akan kehilangan kepercayaan dan harga diri. Banyak anak-anak korban kekerasan verbal yang gagal dalam membangun dirinya. Ia gagal dalam mengambil kesempatan-kesempatan yang datang dalam hidupnya. Karena ia akan menganggap dirinya tak berharga, ragu, dan bahkan merasa tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan tersebut.

Tanpa disadari, setiap orang tua pernah bahkan sering melakukan kekerasan verbal pada anak. Banyak orang tua yang menganggap bahwa kalimat yang diucapkan supaya anak lebih tegas dan disiplin,. “Masa gini aja nggak bisa!” Kalimat ini bisa dilihat dari persepsi yang berbeda-beda. Mungkin maksud kita memberikan motivasi supaya anak lebih semangat. Namun, setiap anak melewati tahapan perkembangan yang berbeda-beda. Sehingga kemampuan kognitif anak yang terbatas seringkali belum mampu memahami ucapan kita.

Mereka bisa menangkapnya sebagai rasa marah dan makian kita. Hal inilah yang bisa melukai perasaan si kecil. Jika sering diucapkan maka anak menimbulkan trauma psikis, seperti:

- Anak akan merasa mudah takut dan menyerah saat menghadapi kesulitan

- Tidak percaya diri melakukan banyak hal

- Sulit bersosialisasi dengan orang lain

- Rentan stress terhadap masalah

- Bersikap agresif

- Melambatnya proses tumbuh kembang Hal yang lebih menakutkan adalah anak akan meniru dan merefleksikan perilaku orang tuanya kepada orang lain dan menunjukkan perilaku bermasalah.

Perilaku bermasalah anak, cenderung dipengaruhi oleh bagaimana kualitas hubungan keluarga, pola asuh, serta cara orang tua memberikan hukuman fisik dan verbal. Kebiasaan yang dapat kita lakukan untuk menghindari kekerasan verbal pada anak yaitu posisikan diri kita sebagai anak, bayangkan diri kita berada di posisi anak dan mendengarkan orang tua kita mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Bagaimana rasanya? Tentu sakit.

Berempati dengan perasaan anak dapat membantu kita memahami anak dengan lebih baik. Mengenali pola tingkah laku si kecil sangatlah efektif mendukung kita menemukan solusi yang tepat menghadapi perilakunya. Kesadaran Diri Tingkatkan kesadaran diri kita agar tidak bertindak impulsif dan emosional. Caranya yaitu dengan sedia payung sebelum hujan. Cobalah perkirakan perilaku atau sikap apa saja yang sering anak lakukan. Temukan cara-cara yang tepat untuk menghadapinya sebelum sikap itu muncul.

Bermain bersama anak Hal yang paling mudah yang dapat dilakukan untuk mempererat hubungan kita dengan buah hati adalah dengan meluangkan waktu. Sekadar bermain bersama, menemani anak belajar, membacakan buku, dan menemani anak belanja kebutuhannya. Membangun waktu yang berkualitas tentu dapat membangun kelekatan atau bonding yang kuat antara anak dan orang tua. Hal ini terbukti dapat mengurangi munculnya perilaku bermasalah pada anak.

Membangun komunikasi sehat dalam sebuah keluarga sangatlah penting untuk membangun komunikasi yang sehat. Seringkali kesalahpahaman seseorang berawal dari kesalahan atau kurangnya komunikasi. Bisa jadi karena kesibukan kitalah justru kita mengabaikan komunikasi yang sehat dalam keluarga.

Anaklah yang menjadi korban kekesalan dan amarah kita. Saat anak merasa kesulitan belajar misalnya. Maka, ajaklah anak untuk berdiskusi terkait kesulitan yang dialaminya di sekolah. “Naya masih kesulitan belajar penjumlahan? Yuk belajar bersama bunda.” Atau saat menunjukkan perilaku yang agresif kepada teman-temannya. Ajaklah anak untuk mengenali permasalahannya. “Tadi Naya ada masalah dengan Ganis? Coba cerita yah sama Bunda.”

Sesudah anak bercerita, ajak anak untuk mengenali perasaannya. Ajak anak untuk menyampaikan ketidaknyamanannya melalui komunikasi yang baik bukan dengan fisik. “Kalau Naya merasa tidak nyaman dengan temannya, katakana saja yah. ‘Maaf aku tidak nyaman jika kamu melakukan hal ini’ ” Membangun komunikasi yang baik juga bisa mengurangi kekerasan verbal pada anak. Karena seringkali orang tua tak paham masalah anak dan langsung me-labelling dengan ucapan “Kamu nakal yah.” Disinilah anak merasa, “Aku di cap nakal sama bunda! Bunda nggak percaya padaku!” Dan anak tentu akan semakin menjadi agresif.

Gaya hidup sehat perilaku yang tidak dapat mengontrol emosi mungkin berasal dari gaya hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, praktikkan gaya hidup yang sehat! Kita bisa melakukan olahraga ringan atau meditasi secara rutin. Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga juga dapat melatih fokus kita, mengurangi stress, dan juga memberikan kebahagiaan. Karena menjaga kesehatan fisik dan mental sangatlah penting.

Jadilah orang tua teladan baik untuk anak kita! Buah hati adalah sebuah kertas kosong. Isilah dengan pengalaman hebat dan mengagumkan serta pelajaran hidup yang berharga untuk masa depannya kelak. Mengingat betapa bahayanya kekerasan verbal pada anak. Kita perlu menyadari bersama, bahwa anak juga perlu dimengerti, dipahami, dan didengarkan masalahnya. Tugas kita adalah menjadi orang tua yang bisa membangun hubungan harmonis pada anak. Sehingga anak akan tumbuh menjadi seorang yang penuh percaya diri dan harga diri yang tinggi.

sumber gambar : http://www.drescapes.com/2017/09/23/a-nation-of-psychopaths/angry-child/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • Mu'minah Hilmi

    tolong bantu kami dengan memberikan saranan untuk dapat memprint artikel ini. terima kasih

    2019-11-27 06:38:00

Silahkan Login untuk memberi komentar