Tanamkan kebiasaan ini, agar anak hobi baca!

AnggunPaud - Menurunnya minat baca masyarakat di era digital saat ini membuat pemerintah kita mencanangkan program Gernasbaku. Salah satu tujuannya tidak lain agar budaya membaca di kalangan masyarakat bisa berkembang lagi. Seperti yang kita ketahui, membaca merupakan modal utama kita dalam menuntut ilmu.

Dari membaca kita akan mendapat banyak informasi, hiburan, dan ilmu yang belum tentu kita dapatkan dari dunia luar. Dari membaca pula kita bisa lebih positif dalam berpikir, menjadi pribadi yang berkarakter serta lebih cerdas dalam menjalani aktivitas sehari - hari. Maka tidak heran jika kini pemerintah menjunjung tinggi budaya literasi melalui program Gernasbaku tersebut.

Tumbuhnya kebiasaan membaca tidak serta merta subur begitu saja. Perlu adanya pembiasaan membaca sejak usia dini. Pembiasaan tersebut tentu tidak akan lepas dari peran orang tua dan keluarga sebagai lingkup terendah dari strata masyarakat. Dari lingkungan keluarga inilah pembiasaan membaca dan budaya literasi seharusnya dimulai. Senada dengan tulisan Heru Kurniawan dalam bukunya berjudul Literasi Parenting bahwa ada tiga hal yang seharusnya dilakukan agar keluarga memiliki budaya literasi yang baik, yaitu

(1) kebiasaan membaca dalam keluarga, (2) kemampuan berpikir anggota keluarga, (3) meningkatkan ketrampilan menulis anak - anak dan orang tua.Dari tiga hal ini saya menarik kesimpulan bahwa memang pondasi literasi yang kuat dimulai dari keluarga itu sendiri. Untuk bisa memulai pembiasaan membaca sedari usia dini, orang tua harus tahu bagaimana ciri - ciri anak yang sudah siap dikenalkan dengan buku dan bacaan.

Ciri - ciri yang paling sederhana adalah ketika anak suka menjadikan buku untuk media bermain. Seperti yang pernah saya alami bersama anak saya. Saat jenuh dengan bermain masak - masakan, anak saya tiba - tiba mengambil beberapa buku milik saya kemudian menyusun buku - buku tersebut seperti sedang berjualan. Kemudian dia berkata, " Bunda, ayo beli - beli ". Melihat perilaku anak yang demikian, saya pun terhenyak. Saya tak menyangka jika anak saya memiliki ide bermain dengan media buku.

Saya pun segera meresponnya, mengambil sebuah buku lalu berpura - pura membayar. Kemudian saya membuka salah satu halaman buku dan membacanya. Anak saya pun terlihat senang saat itu. Selain menjadikan buku sebagai media bermain, ciri - ciri lain yang menandakan anak mulai menyukai buku adalah suka berpura - pura membaca buku. Membolak - balik halaman buku dan membaca dengan bahasa mereka sendiri. Terkadang, mereka juga suka berpura - pura membaca tulisan yang ada di bungkus jajanan dengan gaya membaca khas anak - anak batita. 

Tak cukup dapat mengenali tanda - tanda anak mulai suka dengan buku saja. Agar bisa terwujud budaya membaca di rumah, perlu adanya strategi khusus untuk mewujudkannya. Adapun strategi yang bisa dilakukan antara lain.

Pertama, awali dengan mengenalkan buku bergambar. Setiap anak pasti tertarik dengan gambar. Mulai dari gambar hewan, benda, alam, dan lain sebagainnya. Maka saat kita bisa mendeteksi bahwa anak sudah mulai rindu dengan buku, awali dengan memberikan buku bacaan yang bergambar menarik. Carilah buku dengan banyak gambar, sedikit kata - kata. Agar anak tidak cepat jenuh saat mendengarkan orang tua membacakan buku untuknya. Buku bergambar dan berwarna juga sangat digemari oleh anak - anak.

Kedua, membuat waktu rutin membacakan buku. Saat anak masih berusia di bawah lima tahun, mereka tentu belum bisa membaca. Agar mereka tetap dekat dengan buku, orang tua lah yang seharusnya memiliki waktu rutin membacakan buku cerita untuk mereka. Saya sedang berada pada tahap ini. Dimana anak saya saat ini sudah menginjak usia tiga tahun. Dia sudah mulai bisa berbicara dan merengek meminta "Bunda, baca buku'". Jika sudah mendengar rengekannya minta dibacakan buku, maka saya segera meresponnya dengan mencari buku cerita anak - anak.

Setiap hari, saya berusaha rutin melakukan ini. Membacakan cerita untuk anak saya, saat dia mulai menginjak usia dua tahun. Karena saat itu dia masih belum lancar berbicara dan tentu saja belum memahami betul setiap cerita yang saya bacakan, namun saya tetap melaksanakan waktu rutin membacakan buku. Sehingga anak saya terbiasa dekat dengan buku dan saat ini dia belajar memahami isi cerita yang saya bacakan. Usai membacakan satu cerita, biasanya saya memberikan satu pertanyaan sederhana padanya. Misalnya, "Yang naik sepeda di buku ini siapa ya?". Kegiatan ini berujuan untuk mempertajam daya ingat anak kita usai dibacakan buku.

Ketiga, memaksa anak untuk membaca. Memaksa anak untuk membaca buku bisa orang tua lakukan ketika anak sudah bisa membaca sendiri. Paksa anak untuk membaca satu cerita sehari. Orang tua harus selalu menjadi alarm bagi anak agar dia tetap ingat jadwal rutin membaca satu cerita dalam satu hari. Jika hal ini dilakukan, anak akan semakin dekat dengan buku bahkan akan sangat cinta membaca.

Keempat, membuat jadwal menulis mingguan. Jika anak sudah bisa lancar membaca dan menulis, orang tua dapat pula membuat kegiatan menulis secara rutin. Misalnya setiap akhir pekan, minta anak membuat tulisan tentang pengalaman pribadinya. Baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan bagi anak. Agar anak terasah kemampuan menulisnya, terasah kemampuan membacanya serta memperbanyak perbendaharaan kosa kata mereka. Selain itu bisa juga menjadi media anak dalam meluapkan emosi dengan tulisan.

Kelima, intens mengajak anak ke toko atau perpustakaan. Saya sedang mencoba untuk membiasakan hal ini. Seminggu sekali saya mengajak anak bermain di POS PAUD dekat rumah saya. Dimana di POS PAUD tersebut terdapat gerobak baca yang berisi beraneka buku bacaan. Jika berada di sana, hal pertama yang dilakukan anak saya adalah menarik tangan saya menunju gerobak baca. Karena badannya belum cukup tinggi, dia pasti akan minta digendong agar bisa memilih buku di dalam gerobak baca itu. Jika sudah bosan dengan satu buku, barulah dia mengajak saya bermain di halaman POS PAUD. Tak hanya ke gerobak baca, sesekali jika memiliki rezeki berlebih saya biasa mengajak anak ke toko buku. Saya pilih beberapa buku untuknya kemudian dia yang memutuskan sendiri buku yang dia suka. Jika sudah memilih satu buku dan dibayar, saya lihat raut wajah gembira yang terpancar dari diri anak saya itu. Saya pun bertanya " Mba Ifa senang beli buku?". Anak saya menjawab dengan menganggukan kepala sambil tertawa.

Ayah - Bunda menginginkan anak untuk rajin membaca tidak bisa dilakukan dengan instan. Perlu adanya penanaman kebiasan membaca di dalam keluarga agar budaya membaca dan budaya liter dapat tumbuh subur di dalam keluarga.

 

sumber gambar : https://www.todaysparent.com/family/parenting/reading-to-kids-age-by-age-guide/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar