Awasi Jemari Anak Kita Dalam Bermedia Sosial

AnggunPaud - Belakangan ini di berbagai media massa ramai mempercakapkan Kolonel Hendi Suhendi yang dicopot dari jabatannya sebagai Komandan Kodim Kendari karena ulah istrinya yang melakukan tindak nyinyir di media sosial. Dari fenomena ini tentu memberikan pemahaman pada kita bahwa kemudahan bermedia sosial di era digital nyatanya menghadirkan dua dampak yang berbeda.

Pada satu sisi, media sosial dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan pemakainya hidup dengan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan. Di sisi lain, pemakai media sosial juga bisa dengan leluasa menggunakan untuk tujuan yang negatif. Sederhananya, kita bisa menggunakannya untuk tujuan kebaikan dan keburukan. Seperti fenomena yang telah diceritakan di atas bahwa media sosial digunakan oleh sang istri untuk menebar nyinyir dan ujaran kebencian misalnya.

Fenomena ini tentu tidak lain berawal dari jemari kita sebagai pengguna media sosial. Artinya wajah media sosial menjadi cerminan bagi kita sebagai penggunanya. Di sinilah kemudian kita harus berhati-hati dengan jemari kita. Sebab jika jemari kita terpleset sedikit saja dalam bermedia sosial, maka siap tidak siap kita harus siap menerima risiko yang didapat. Seperti menerima resiko dicopot jabatannya misalnya.

Fenomena nyinyir ini tentu menyadarkan kita bahwa kita sebagai orang tua tentu harus bisa memberikan teladan baik kepada anak-anak. Sebab bukan hanya media sosial yang hari ini menjadi cerminan penggunanya, akan tetapi yang lebih menjadi fokus perhatian adalah anak kita juga tidak terlepas dari cerminan orang tua. Maka jika orang tua saja menunjukkan perilaku yang buruk maka jangan pernah berharap kemudian menginginkan anaknya berperilaku baik. Sebab anak adalah peniru ulung dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Di sinilah kemudian orang tua sepantasnya untuk memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan visual tapi juga teladan virtual. Era digital 4.0 ini memanglah menjadi era yang erat sekali kaitannya dengan yang namanya gawai. Baik anak maupun orang tua seakan sudah menyatu dan tidak bisa dipisahkan darinya.

Saat anak dimintai gawainya ia justru akan menangis dan berteriak kencang. Di sinilah kemudian muncul rasa ketidaktegaan orang tua atau sing penting bocah meneng (yang penting anak diam) sehingga membiarkan anak bermain gawai dengan leluasa. Memenuhi segala apa yang diinginkan anak ini pada hakikatnya kurang baik. Sebab dengan memenuhinya anak cenderung akan bersikap manja.

Begitu juga orang tua tidak bisa terus menerus mengekang anak untuk tidak memenuhi apa yang diinginkan oleh si anak. Di sinilah orang tua dituntut pandai untuk bisa memenuhi keinginan anak berdasarkan kebutuhan bukan keinginan. Saat anak dibiarkan begitu saja dipenuhi keinginannya untuk bermain gawai maka hakikatnya anak belum bisa sepenuhnya menyaring informasi mana yang baik untuk dikonsumsi dan mana yang tidak. Sehingga orang tua di sini memiliki peran penting untuk melatih dan melemaskan jemari anak untuk mengakses informasi yang bersifat positif dan sesuai dengan perkembangan anak.

Lantas hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi jemari anak dalam bermedia sosial?

Pertama, berikan waktu khusus untuk anak. Waktu khusus ini merupakan waktu yang diberikan kepada anak kapan ia bisa bermain gawai dan kapan ia tidak diperkenankan bermain gawai. Pembatan penggunaan gawai ini sebenarnya agar anak tidak selalu bergantung (kecanduan) pada gawai. Sehingga pada tahap ini anak dapat dikondisikan untuk menggunakan gawai sesuai dengan kebutuhan saja.

Kedua, dampingi jemari anak untuk memencet konten mana saja yang boleh diakses. Pembatasan akses ini dilakukan untuk mengondisikan anak mengakses konten-konten yang positif yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan. Agar langkah ini dapat berjalan sesuai dengan harapan, maka orang tua bisa membuat kesepakatan jika si anak melanggar kesepakatan yang telah dibuat maka akan diberikan hadiah positif baik berupa tidak boleh menggunakan gawai selama beberapa hari, meminta anak untuk menyapu halaman, atau hadiah-hadiah positif lainnya yang tidak mengandung kekerasan fisik maupun mental.

Ketiga, orang tua dapat men-setting pengaturan di media sosial.  Pengaturan untuk konten-konten edukatif sehingga konten-konten yang bermuatan dewasa tidak muncul. Langkah ini dilakukan jika anak bermain gawai tanpa diawasi maka orang tua tidak lagi menjadi khawatir terhadap apa yang diakses anak.

Keempat, ciptakan momen bersama. Seperti memangku anak duduk di atas pangkuannya saat bermain gawai misalnya. Hal ini dilakukan guna mengakrabkan dan mekondisikan anak untuk merasakan kebersamaan, keharmonisan, dan keramahan. Sehingga dengan hal yang sederhana ini Kelima, ajak anak untuk sharing ringan. Tujuanya me-recall (memanggil ulang) informasi maupun pengalaman anak dalam menggunakan gawai. Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh anak inilah yang kemudian nantinya orang tua bisa mengetahui apa saja yang telah dilakukan anak.

Saat jawaban yang diberikan menjerumus pada hal-hal negatif maka disitulah kemudian orang tua bisa menegur dan mengarahkan pada hal-hal baik. Dengan sharing ringan ini juga mampu melatih keterampilan berpikir anak, kemampuan menganalisa sebuah informasi, serta memunculkan keberanian diri anak dalam menyampaikan pendapat.

Keenam, ajari anak untuk menyampaikan yang baik-baik. Hal ini penting dilakukan sejak dini sebab ini menjadi pondasi awal bagaimana nantinya jemari anak akan mengoperasikan gawainya dalam bermedsos. Jika dalam diri anak sudah terbentuk jiwa-jiwa mengkabarkan hal-hal yang baik, maka jemari anak otomatis akan mengakses pada kebaikan. Begitu pun sebaliknya. Saat anak terbiasa dengan menyampaikan hal-hal yang buruk maka dampaknya adalah jemari anak tersebut akan mengoperasikan gawainya untuk menebar berita bohong, ujaran kebencian, dan semacamnya.

Ketujuh, ajari anak untuk tidak memencet tombol atau men-share hal secara sembarang. Anak pada umumnya memiliki penasaran yang tinggi, oleh karenanya anak suka menerka-nerka dan mencoba-coba. Mencoba ini dan itu yang sejatinya anak belum mengetahui apa yang sedang dilakukannya itu. Di sinilah orang tua kemudian bisa memposisikan dirinya sebagai teman bermain dengan tujuan bisa sama-sama mencegah informasi hoaks dengan melatih anak untuk tidak memencet tombol secara sembarang. Sebab bisa jadi jemari anak tanpa disadari dan diketahui telah men-share informasi hoaks.

Orang tua bisa meminta anak untuk aktif bertanya kepada dirinya jika anak tidak tahu. Sehingga anak menjadi tidak keliru dalam menggunakan jemarinya dan dapat mencegah beredarnya berita bohong. Dengan ketujuh langkah sederhana ini harapannya kita sebagai orang tua bisa mendampingi jemari anak dengan baik terutama dalam bermedia sosial. Harapannya dengan adanya pendampingan dari orang tua, anak bisa menggunakan jemarinya untuk hal-hal positif yang bisa mendatangkan kebermanfaatan bersama. 

 

sumber gambar : https://www.theeducatoronline.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar