Belajar Matematika dengan Bermain Jadi Menyenangkan

AnggunPaud - Seorang pembina pramuka siaga menyelipkan permainan kepada andiknya di tengah-tengah materi yang sedang diberikan. Permainan tersebut diberi judul “Potong Lalang”. Lagunya sebagai berikut : Satu orang pergi, pergi potong lalang Satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang Dua orang pergi, pergi potong lalang Dua satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang Tiga orang pergi, pergi potong lalang Tiga dua satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang, dst.

Setelah mencontohkan di depan semua andiknya, pembina mengajak mereka untuk menyanyikan dan bertepuk bersama-sama. “Matematika yang menyenangkan ?” Kalimat tersebut akan menjadi pajangan yang mengganggu mata ketika dilihat anak-anak. Banyak dari mereka membayangkan akan susah dan rumitnya matematika. Terlebih jika para guru atau orang tua mengajarkan matematika dengan berpacu pada buku pegangan dan latihan soal yang ada di dalamnya.

Dengan demikian, mereka akan merasa bosan dan jenuh. Jika diibaratkan, sudah jatuh ketimpa tangga, dengan materi matematika yang abstrak ditambah dengan cara pengajaran yang kurang menarik dan monoton, maka mereka akan merasakan keluh kesah seperti di atas. Cara pengajaran yang bisa digunakan guru atau orang tua pada anaknya yaitu dengan permainan-permainan yang menarik.

Hal ini sesuai dengan teori perkembangan sosio emosional pada anak-anak, yaitu anak mudah diatur, mudah beradaptasi dengan pengalaman baru, senang bermain dengan permainan baru, tidur dan makan secara tertur dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya. Terdapat beberapa permainan menarik dan tentunya efisien yang bisa guru dan orang tua ajarkan guna meningkatkan kemampuan matematik anak-anaknya, diantaranya:

Pertama, lagu potong lalang Lagu potong lalang merupakan salah satu permainan yang biasanya diajarkan oleh pembina pramuka kepada andik pramuka di sela-sela kegiatan. Walaupun hal ini dilakukan di sela-sela kegiatan, tetapi lagu ini memiliki arti yang cukup penting, karena bisa mengajarkan anak-anak mengurutkan bilangan dari yang terbesar menuju bilangan yang terkecil.

Lagu potong lalang adalah sebagai berikut : Satu orang pergi, pergi potong lalang Satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang Dua orang pergi, pergi potong lalang Dua satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang Tiga orang pergi, pergi potong lalang Tiga dua satu orang pergi sama kambing, pergi potong lalang, dst.

Dengan bernyanyi potong lalang, anak-anak secara tidak langsung bisa belajar mengurutkan bilangan dari yang terbesar menuju bilangan yang terkecil. Apalagi jika dalam menyanyi dibarengi dengan tepuk tangan maka mereka akan lebih senang dan antusias dalam melakukannya.

Kedua, permainan congklak Congklak adalah suatu permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak dengan menggunakan media cangkang kerang sebagai biji congklak dan jika tidak ada kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil. Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14x7) buah biji yang dinamakan biji congklak. Pada papan congklak terdapat 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil di sisi pemain dan lubang besar di sisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain. Pada awal permainan setiap lubang kecil diisi dengan tujuh buah biji.

Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lubang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lubang di sebelah kanannya dan seterusnya berlawanan arah jarum jam. Biji-biji habis di lubang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lubang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lubang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil disisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lubang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji berada di lubang besar kedua pemain). pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak. Dengan permainan congklak, anak-anak akan belajar manghitung suatu bilangan, meningkatkan keterampilan, konsep, dan prinsip matematika serta mengasah logika mereka ketika menginginkan mendapat hasil yang terbanyak dan menjadi juara dalam permainan tersebut.

Ketiga, kartu matematika Kartu matematika ini dirasa sangan efisien dalam hal pendanaan, karena guru atau orang tua bisa membuatnya sendiri di rumah menggunakan kertas bekas yang berserakan di rumah. Kartu ini bisa dibuat dengan menggunakan konsep domino, dimana dalam satu kertas dibagi menjadi dua dan di setiap sisinya dituliskan soal-soal (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) yang menghasilkan bilangan antara 1 sampai 10 dan masing-masing sisi berbeda.

Cara menggunakan kartu matematika ini cukup mudah, yaitu dua anak atau lebih yang masing-masing dibagikan kartu tersebut sama banyaknya, kemudian tunjuk satu anak untuk memulai permainan dengan menaruh salah satu kartunya ke lantai, setelah itu anak yang berada di samping kanannya diminta untuk meletakkan kartunya juga ke lantai dengan syarat salah satu sisi kartunya memiliki jumlah yang sama dengan salah satu sisi kartu milik temannya. Hal ini dilanjutkan oleh anak yang berada di samping kanannya. Jika tidak terdapat jumlah yang sama dengan anak yang berada di samping kanannya, maka dilanjutkan dengan anak yang berada di samping kanannya lagi.

Dan permainan ini akan berakhir jika hasil operasi dari semua kartu yang berada di tangan masing-masing anak tidak ada yang sama dengan hasil operasi kartu yang ada di ujung lantai. Dengan kartu matematika ini, guru atau orang tua bisa meningkatkan kemampuan menggunakan operasi hitung anak. Anak-anak bisa belajar berhitung dengan cepat dan menyenangkan. Kartu matematika ini juga bisa diajarkan kepada siswa kelas berapapun, guru atau orang tua tinggal mengganti soal-soalnya sesuai dengan materi yang sedang anak-anak dapati di sekolah.

Melalui berbagai permainan di atas, seorang guru atau orang tua bisa menyisipkan pembelajaran matematika yang mereka anggap sulit. Anak-anak secara tidak langsung bisa belajar matematika dengan mudah karena mereka tidak merasa sedang belajar akan tetapi mereka sedang bermain dan diselipi dengan kegiatan belajar. Jadi, dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja anak-anak bisa belajar matematika yang menyenangkan.

*Rizqi Yanalul Barokah, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto dan merupakan aktivis pramuka di Racana Sunan Kalijaga_Cut Nyak Dien IAIN Purwokerto. 

sumber gambar : https://mathseeds.com/articles/2018/02/01/teaching-elementary-math/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar