Membangun Budaya Malu Sejak Dini

AnggunPaud - Ironis sekali ketika ada orang menyebut bangsa kita sudah tak punya rasa malu. Sebuah harga diri yang lebih terjerembab dibanding dengan tuduhan kita tak punya uang atau kita miskin. Semua orang akan memandang rendah saat mendengar kita tak lagi punya rasa malu. Padahal sejak dahulu kita dikenal sebagai bangsa yang beretika, sopan santun, rendah hati, andap asor, suka menolong, ikhlas, dan sangat plewira. Namun fenomena di lapangan di zaman sekarang ini karakter seperti itu sudah sulit ditemukan.

Zaman sudah membalik keadaan mengubah karakter itu menjadi sebaliknya. Bangsa kita sudah menjadi bangsa yang tidak mempunyai rasa malu. Akibatnya bangsa kita tak ada bedanya dengan bangsa lain yang pernah dicaci maki sebagai bangsa yang tak mengenal budaya malu. Kesimpulannya, orang yang tak punya rasa malu lebih rendah dibanding dengan orang yang miskin. Oleh karena itulah nenek moyang kita, khususnya di masyarakat Jawa dahulu senantiasa mengutamakan pendidikan karakter sebagai pencegahan preventif untuk menghindarkan anak-anak dari karakter tak memiliki rasa malu.

Lalu bagaimana di zaman sekarang orang tua dapat membangun rasa malu pada anak-anak di tengah-tengah kondisi yang serba modern seperti sekarang ini? Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk membangun budaya malu pada anak-anak kita.

Pertama, ajarkan dan bangunlah rasa plewira pada anak. Mengingat betapa parahnya kondisi sekarang ini maka ada baiknya pendidikan dan penanaman sifat plewira itu kembali dilakukan kepada anak-anak sedini mungkin. Caranya dimulai dari hal-hal kecil dan sepele. Sebab jika masalah-masalah kecil itu dibiarkan maka akan menjadi kebiasaan dan budaya buruk bagi bangsa ini.

Adapun kebiasaan yang harus dilakukan kepada anak-anak kita sejak dini antara lain; Dengan menggunakan istilah kata ‘plewira’ yang ditanamkan lewat nasehat orang tua, kita mendidik anak-anak untuk memiliki rasa malu. Bahwa anak-anak harus memiliki rasa plewira. Dan mereka pun menurutinya dengan sungguh-sungguh. Plewira, merupakan kosa kata Jawa yang saya maknai sebagai sifat malu untuk menerima sebuah pemberian atau tawaran. Orang-orang yang tidak mudah menerima pemberian maupun tawaran sering disebut orang memiliki plewira. Dan sifat plewira ini sering menjadi bahan perbincangan positif di masyarakat.

Sifat ini awalnya dianggap memiliki makna negatif, karena disamartikan dengan sifat gengsi. Padahal kalau kita telusuri sesungguhnya maknanya berbeda. Ketika kata itu kemudian dimunculkan di era sekarang maka menjadi sangat bagus fungsinya karena mampu menjadi cikal bakalnya sikap anti pungli dan anti gratifikasi. Rasa plewira itulah sesungguhnya yang dapat mencegah perbuatan-perbuatan jahat yang kini makin menjadi persoalan di negeri ini. Tentang pungli, korupsi, atau gratifikasi.

Maknanya, ketika orang tak lagi memiliki rasa plewira, ia kemudian dengan mudahnya menerima apa saja yang diberikan atau ditawarkan oleh orang lain. Kecenderungannya mereka akan melakukan pungli, grafitasi, atau lainnya.

Kedua, biasakan anak tidak mudah menerima sesuatu pemberian. Satu hal yang sangat mendasar dalam hal membentuk sifat plewira adalah mengajarkan anak-anak untuk tidak mudah menerima sesuatu dari orang lain. Ketika saya kecil dulu, teringat orang tua selalu berpesan; jika diberi sesuatu oleh orang janganlah diterima. Ini pelajaran sederhana sekali, namun memiliki makna sangat besar dalam membangun budaya malu di kemudian hari. Setiap teringat akan pesan itu maka saya selalu menolak ketika seseorang akan memberikan sesuatu kepada saya.

Setidaknya saya selalu minta pertimbangan ketika seseorang memaksa memberikan sesuatu kepada saya. Meski dengan kode atau isyarat mata, kami sangat paham itu. Orang tua selalu mengernyitkan mata atau mengedipkan mata ketika tak menyetujuinya. Dan saya pun harus membuat keputusan tak mau menerima. Ini sangat kami pahami.

Terus terang, orang tua merasa malu jika anak-anaknya mudah untuk menerima tawaran atau pemberian, sehingga ketika anaknya menolak pemberian itu maka menjadi kebanggaan. Meskipun orang yang memberi itu adalah kerabat dekat atau saudara dekat, tetap saja saya berusaha untuk menolaknya. Inilah yang kemudian disebut sebagai sifat plewira.

Ketiga, biasakan anak tidak mudah menerima tawaran. Saking sukanya kepada anak-anak, seringkali banyak orang ingin memberikan atau menawarkan sesuatu. Tawaran itu memang kecil, misal menawarkan es krim, coklat, atau pun mainan tertentu. Ini lebih disebabkan seseorang senang melihat anak-anak kecil yang menggemaskan atau lucu. Namun sejalan dengan itu, artinya anak menjadi sasaran atau obyek penawaran. Hal ini memang bukan menjadi masalah, namun jika kita sadar justru akan menjadi bumerang.

Kebiasaan anak-anak yang menerima tawaran atau mendapat janji membuat dirinya tertarik untuk menerima atau menagih. Ketika Om Danu menawarkan es krim, kemudian si Andin menerimanya tentu sangat wajar. Namun ini akan menjadikan kebiasaan anak-anak selalu menerima tawaran. Berbeda dengan orang tua dulu, mereka mengajarkan anak-anak untuk tidak mau menerima tawaran apapun. Semiskin apapun mereka akan berusaha menolak tawaran.

Anak-anak sangat dimarahi jika mudah menerima tawaran. Mereka akan menganggap anak-anak tak punya rasa malu jika sampai menerima tawaran itu. Baik tawaran maupun pemberian selau dianggapnya sebagi hal yang tabu untuk diterimanya. Ketika anak-anak menanyakan mengapa dirinya dilarang menerima pemberian atau tawaran, mereka cukup menjawab dengan jawaban yang menakutkan. Anak-anak diminta untuk waspada kepada siapapun ketika anak ditawari sesuatu.

Apalagi ketika orang yang menawarinya tak dikenalnya. Meerka hanya diingatkan atau diminta waspada karena bisa saja yang memberikan itu adalah seorang penculik, penjahat, atau seseorang yang hendak melakukan maksud tidak baik. Hal yang sulit dipahami namun itu biasanya sangat ditaati anak-anak.

Keempat, malu ketika mendapat imbalan. Dulu ketika saya kecil, orang tua juga selalu berpesan kepada saya; “Kalau kamu disuruh orang, jangan mau diberi upah, ya!” Itu benar-benar pesan serius. Pesan serius ini pun selalu saya ingat. Artinya, saya betul-betul tidak mau menerima upah apapun ketika telah membantu atau disuruh orang lain. Efeknya, ketika saya disusur kemudian mendapat imbalan maka perasaan saya dan orang tua merasa sangat malu. Oleh karena itu konsep keikhlasan sangat ditekankan di zaman itu.

Pelajaran-pelajaran semacam itu kami lakukan sehingga menjadi budaya. Anak-anak merasa malu jika mendapat imbalan setelah disuruh atau dimintai bantuan. Kondisi semacam ini sangat langka dan tak dapat kita temukan dalam kehidupan sekarang. Mendapat upah ketika diperintah menjadi hal yang lumrah. Bahkan tak jarang terjadi tawar-menawar upah saat diperintah.

Kelima, biasakanlah berkata; Tidak mau ditraktir. Anak-anak sekarang dengan mudahnya mengatakan kepada sesorang untuk mendapat traktir. “Traktir, dong! Kamu hari ini kan ulang tahun,” atau “Mau dong aku ditraktir. Kamu kan habis gajian!” dan masih banyak lagi kalimat-kalimat permintaan senada dari teman-teman atau orang yang dikenalnya. Kalimat-kalimat itu memang diucapkan dengan nada seloroh atau gurauan. Oleh karena itu apa yang diucapkan tidak tentu mewakili keinginan hati. Namun demikian tak sedikit orang yang benar-benar mengucapkannya cukup serius dan benar-benar mengharapkan dipenuhi.

Keenam, jangan tanyakan mana hadiahnya. Seringkali anak-anak berbicara seloroh. Kadang kepada kakanya, omnya, tantenya, atau kepada orang lain perihal permintaan hadiah. Saat-saat dia berulang tahun, atau meraih prestasi seringkali dijadikan momen dan alasan untuk menagih hadiah dari seseorang baik yang pernah dijanjikan maupun yang tidak dijanjikan.

Hal ini dapat menjadikan kebiasaan kurang baik bagi anak-anak. Anak-anak yang selalu menagih janji atau hadiah saat dirinya memiliki momen penting dapat menjadikan dirinya terbiasa dan tidak memiliki rasa plewira. Bahkan dia merasa jika apa yang dilakukan adalah hal yang benar atau merupakan haknya.

Padahal itu hal yang keliru. Bahwa perbuatannya adalah hal yang kurang plewira yang dapat menjadi beban orang lain. Oleh karena itu orangtua harus menjauhkan anak-anak dari kebiasaan tersebut agar mereka memiliki budaya malu.

Ketujuh, stop kebiasaan mengatakan; Bagi, dong. Kalimat-kalimat semacam itu memang sangat mudah diucapkan. Bahkan tanpa sadar kita terbiasa mengatakan itu di dekat anak-anak. Awalnya mungkin anak-anak kurang tahu maksudnya. Bagi dong! Apa yang dimaksudkan atau apa yang harus dibagi. Namun jika kebiasaan itu terus-menerus dilakukan di hadapan anak-anak, bukan tak mungkin mereka akhirnya akan paham bahwa apa yang diucapkan adalah permintaan sesutu.

Maknanya anak akan paham dan sekaligus dapat menirukannya. Celakanya adalah ketika kemudian kebiasaan itu dianggapnya sebagai hal yang lumrah dan biasa. Maka anak-anak akan meniru dan mengatakannya kepada siapa saja. Tanpa merasa bersalah atau merasa malu mereka akan mengatakan kalimat itu untuk mengharap sesuatu dari orang lain. Lalu hilanglah rasa malu mereka dan bahkan jika berhadapan dengan sesorang yang tidak seharusnya dimintai, mereka bisa saja akan mengatakan hal itu.Akhirnya mereka akan menjadi anak yang memalukan.

Kedelapan, hindari kebiasaan mengatakan; Ditunggu makan-makannya. Ini juga senada dengan hal sebelumnya. Meminta makan-makan kepada seseorang baik serius maupun cuma seloroh, tetap saja akan memberi kesan seseorang tak memiliki rasa malu. Selain itu dirinya juga telah membuat seseorang akan merasa tidak enak hati.

Oleh karena itu anak-anak semestinya dihindarkan dari hal itu. janganlah anak-anak dibiasakan mengharap diajak makan-makan atau bersenang-senang oleh orang lain. Ajaran nenek moyang kita zaman itu akan mengatakan tabu dengan sifat semacam itu. Oleh karena itu biasakan anak-anak kita untuk mengenal dan memiliki rasa malu dengan memperhatikan beberapa hal yang terurai di atas. Hal-hal tersebut harus dilakukan atau dicegah jika kita ingin anak-anak kita memiliki rasa malu dalam hal yang negatif.

Anak-anak boleh saja malu saat melakukan hal yang negatif tetapi tak boleh malu ketika harus melakukan hal yang positif. Pembentukan rasa malu itu harus dilakukan sejak dini. Sebelum anak-anak kita banyak mengenal pergaulan, maka biasakanlah hal-hal di atas dilakukan. Mulailah dari lingkungan keluarga sendiri. Kelak jika mereka sudah banyak berinteraksi dalam kehidupan sosial maka bekal malu sudah dikantonginya.

 

sumber gambar : https://lifestyle.mb.com.ph/2017/07/26/8-good-manners-that-kids-learn-at-home/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar