Menumbuhkan Sportivitas Anak melalui Ajang Lomba

AnggunPaud - Beberapa kali saya mengikuti penyelenggaraan kegiatan lomba menyanyi untuk anak-anak. Ternyata saya dapati ada seorang anak yang selalu ikut menjadi peserta. Saya sangat salut karena hampir setiap ada lomba yang sama anak tersebut hampir tidak pernah absen. Hebatnya lagi anak itu selalu menjadi juara karena banyak orang mengakui suaranya memang bagus.

Usut punya usut ternyata anak itu memang sudah terbiasa mengikuti lomba. Bahkan banyak orang menjulukinya “Spesialis Lomba”. Sayangnya tujuan orangtuanya mengikuti lomba bukan murni untuk mengksploitasi bakat dan kemampuan anaknya, melainkan lebih memiliki motivasi untuk menang dan mendapatkan hadiah. Jika boleh diumpamakan ia lebih memilih mendapat roti daripada mendapat hati. Hal ini menjadi sangat ironis. Meski kita tak dapat memungkiri bahwa salah satu motivasi anak dan orang tua mengikuti lomba bertujuan untuk mendapatkan penghargaan dan hadiah, namun mestinya hal itu bukan dijadikan motivasi utama.

Mengikutkan lomba untuk anak seharusnya bertujuan untuk hal-hal sebagai berikut;

Pertama, menjadikan lomba sebagai wahana mencari teman. Arena lomba umumnya menjadi tempat berkumpulnya ana-anak yang seusia. Ajang lomba menggambar anak TK dan Paud tentu pesertanya anak-anak Paud dan TK. Lomba olah raga untuk usia SD maka di sana berkumpullah anak-anak usia SD yang menjadi peserta. Dengan demikian arena lomba adalah arena untuk bertemu dan berkumpulnya anak-anak sebaya pada tingkat manapun. Di situlah mereka semestinya akan dapat bertemu, saling berkenalan, bahkan selanjutnya saling berteman. Maknanya bahwa ketika anak mengikuti lomba itu sesungguhnya saat tepat untuk mencari teman.

Oleh karena itu lomba hendaknya tidak dicederai dengan sikap dan perasaan bermusuhan. Kekalahan dan kemenangan hendaknya tidak dijadikan sebagai tujuan nomor satu. Membangun mental mereka untuk menikmati saat tepat mencari teman adalah hal yang lebih baik. Jadikanlah peserta lain sebagai teman baru, bukan dijadikan sebagai pesaing apalagi sebagai musuh.

Kedua, menjadikan lomba sebagai wahana anak bersuka cita/ bermain. Bahwasanya kegiatan lomba dimaksudkan sebagai wahana anak untuk bergembira, bersuka cita. Fenomena yang ada, lomba seringkali menjadi saat yang menegangkan dan menakutkan. Ada sebagian anak yang harus berjuang melawan ketakutan karena beban yang tinggi dari pembimbingnya. Anak-anak dituntut untuk menang menjadi juara sehingga mereka takut kalah. Ketakutan akan kekalahan ini membuat anak tidak nyaman dan melupakan hakekat lomba sebagai arena bergembira. Parahnya adalah ketika anak kemudian mencoba meraih kemenangan itu dengan segala cara. Munculnya kecurangan dan hal negatif lain seringkali diawali oleh sebuah beban yang terlalu tinggi. Oleh karena itu tanamkan kepada anak-anak yang akan mengikuti lomba bahwa apa yang akan dilakukan merupakan arena untuk bergembira, bersuka cita.

Ketiga, menjadikan lomba sebagai wahana menyalurkan hobi dan bakat. Mengikuti lomba hendaknya dijadikan saat tepat untuk menyalurkan hobi dan bakat seorang anak. Lomba inilah yang mampu menampung hobi dan bakat anak-anak. Anak-anak yang bakat menari tentu akan mengikuti lomba menari. Demikian pula yang punya bakat menyanyi, olah raga, melukis, keterampilan, dan lain-lain. Tentu mereka berharap anak-anak akan menemukan hobi dan dapat menyalurkan bakatnya.

Keempat, menjadikan lomba untuk mengasah kemampuan. Mengikuti lomba juga seharusnya dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan. Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan potensi. Potensi tersebut tidak akan berkembang jika dibiarkan begitu saja. Ibarat sepucuk pisau ia akan tetap dan terus tajam jika diasah secara rutin. Begitupun kemampuan dan potensi anak-anak, akan terus berkembang ketika senantiasa dipertajam. Mengembangkan potensi dapat dilakukan dengan cara berlatih dan belajar secara kontinyu. Dan sebagai salah satu cara untuk mengasah kemampuan itu adalah dengan mengikutkan anak-anak pada ajang lomba. Ini sangat berguna bagi mereka dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.

Kelima, menjadikan lomba untuk mencari pengalaman hidup. Bagaimanapun kehidupan manusia harus dijalani sejak kecil. Anak-anak akan meniti kehidupannya dengan penuh keberagaman. Suka dan duka tentu akan dialaminya. Itulah yang kelak akan disebut sebagai pengalaman hidup. Pengalaman saat kecil akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Mereka dapat menjadi orang sukses dengan berkaca pada pengalaman hidup masa kecilnya. Begitupun sebaliknya karena pengalaman hidup saat kecil sangat memengaruhi kehidupan saat dewasa. Semakin kaya akan pengalaman hidup, maka semakin pandai sesorang mengatasi masalah hidupnya.

Oleh karena itu, membekali anak-anak dengan berbagai pengalaman akan sangat bermanfaat bagi mereka. Mengikuti kegiatan lomba merupakan salah satu bentuk memberikan pengalaman hidup. Melalui pemberian pengalaman ini akan dapat menjadi bekal anak dalam berbagai hal. Bukan sekadar menjadi juara dan mendapat piala atau hadiah, lebih dari itu ada hal yang lebih bermanfaat daripada itu. anak-anak yang berani mengikuti lomba akan mendapatkan pengalaman sendiri. Kelak mereka akan dapat bercerita kepada orang lain tentang pengalamannya. Mereka juga dapat bercermin dari pengalaman tersebut. Mereka pun dapat berbekal dan memotivasi diri dari pengalamn masa kecilnya itu.

Keenam, menjadikan lomba untuk menumbuhkan sikap bersahabat. Sebagaimana sedikit disinggung sebelumnya, bahwa mengikuti lomba bukanlah semata-mata untuk mendapatkan hadiah atau penghargaan lain, melainkan ada manfaat lain yang lebih penting. Salah satu manfaat lain adalah untuk menumbuhkan nilai-nilai persahabatan dengan sesama peserta. Kita harus membekali anak-anak bahwa persahabatan dan persatuan merupakan hal yang sangat penting bagi mereka. Kita memelukan orang lain karena kita adalah makhluk sosial. Oleh karenanya menjalin persahabatan menjadi hal utama daripada sekadar merebut juara pada sebuah ajng.

Mendapatkan sahabat dalam sebuah kegiatan tak kalah nilainya dibanding mendapat juara. Menjalin persahabatan dapat diperoleh dalam kegiatan semacam itu. Maka ingatkan kepada anak-anak jangan sampai mereka tidak mendapatkan sahabat ketika mengikuti kegiatan. A

Ketujuh, menjadikan lomba untuk menumbuhkan sikap sosial. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, bahwa mengikuti lomba hendaknya menjadi ajang untuk menumbuhkan jiwa sosial. Banyak hal dapat dilakukan sebagai wujud penumbuhan jiwa sosial pada anak-anak. Saling menyapa, beramah-tamah, saling membantu dalam hal sekecil apapun menjadi bekal penumbuhan sikap sosial. Hal-hal semacam itu hendaknya dibekalkan kepada anak-anak setiap akan mengikuti lomba. Ini masalah kecil yang jarang dilakukan orang tua. Seringkali orang tua dan guru hanya disibukkan oleh persiapan anak-anak dalam menghadapi lomba itu.

Pembekalan tentang manfaat lomba yang lebih esensial justru sering dilupakan. Akibatnya anak-anak akan mengikuti kegiatan tanpa mendapatkan nilai esensial yang lebih utama. Mereka hanya mendapatkan hadiah dan piala jika dirinya dapat memenangkan lomba tersebut, atau mendapatkan kekecewaan ketika dirinya tidak dapat meraih kejuaraan. Inilah kekeliruan yang sering terjadi selama ini. Sadar akan hal itu hendaknya kita mulai mengubah motivasi kita untuk menjadikan lomba sebagai wahana penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai karakter positif anak, bukan sekadar berambisi menjadi juara dan mendapatkan hadiah semata.

Kedelapan, menjadikan lomba untuk menumbuhkan sikap menghargai orang lain. Hal lain yang dapat diperoleh dari kegiatan lomba adalah tumbuhnya sikap mau menghargai orang lain. Ketika anak-anak mengikuti lomba tentu akan bertemu dengan banyak orang dan peserta. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Nah, saat itulah anak-anak akan tahu bahwa di sekitar mereka ada anak-anak yang berbeda. Menumbuhkan sikap hormat dan menghargai kepada sesama peserta sangat tepat dikembangkan pada saat seperti itu. Siapa pun yang ada di sekitarnya adalah teman-teman yang harus dihargai dan dihormati. Anak-anak hendaknya dapat memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menumbuhkan sikap tersebut agar dirinya tak menjadi anak-anak yang bersikap angkuh dan tak mau menghormati orang lain.

Kesembilan, menjadikan lomba untuk menumbuhkan sikap sportif. Waktu yang paling tepat untuk menumbuhkan jiwa sportif dan berbesar hati adalah saat anak-anak mengikuti even lomba. Ada kalanya anak-anak akan menjadi yang terbaik di sebuah kegiatan. Adakalanya harus mengakui keunggulan anak lain. Di sinilah anak-anak akan belajar menerima kenyataan. Banyak di antara mereka yang lebih baik dari dirinya sehingga dibutuhkan ketulusan hati untuk menerima kenyataan itu.

Anak-anak harus mendapat bekal bahwa kekalahan bukan suatu kegagalan. Mereka tak boleh menyalahkan orang lain sehingga jiwa sportif harus dimilikinya. Anak-anak yang sering mengikuti lomba akan terbiasa menerima kenyataan. Ketika ada yang lebih unggul maka ia harus mengakuinya secara sportif. Maka jangan segan-segan orangtua dan guru untuk mengajak memberikan ucapan selamat atau apresiasi lainnya kepada teman yang lebih unggul. Karena dengan begitu anak-anak akan memahami bahwa siapapun adalah kawan. Jangan malah sebaliknya, kita kecewa atas keunggulan orang lain dan menunjukkannya kepada anak-anak kita. Itu sangat berbahaya.

Demikianlah bahwa sebaiknya kita memanfaatkan ajang lomba untuk menumbuhkan berbagai sifat dan karakter positif pada diri anak. Bukan untuk mengejar keunggulan, kemenangan demi mendapatkan bermacam-macam penghargaan dan hadiah materi. Fungsi edukasi hendaknya lebih kita utamakan ketimbang fungsi material. Jangan sekadar berharap roti tapi melupakan hati! *

* Riyadi, Pendidik di SDN Pangebatan Kec. Karanglewas, Banyumas, Pegiat literasi di Kompak.

https://twitter.com/Mariners/status

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar