Menumbuhkan Karakter Kemandirian Anak

Salah satu kenyataan kecenderungan orang tua hari ini adalah terlalu memanjakan anaknya. Sehingga ketergantungan seorang anak pada orang tua semakin tinggi. Apabila hal demikian dibiarkan begitu saja, maka anak akan mengalami hambatan dalam memecahkan berbagai masalah secara sehat di kemudian hari. Bukan hanya itu, bahkan saat keinginan anak tidak dipenuhi, akan muncul dalam diri anak perilaku yang tidak terpuji seperti terpaksa membohongi orang tua, berlaku seenaknya, tidak jujur, maupun perilaku yang lainnya. Dari sini, maka penumbuhan karakter mandiri sejak dini penting untuk dilakukan. Sebab karakter anak yang terbentuk sejak dini akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Karakter anak akan terbentuk dengan baik jika dalam proses tumbuh kembangnya mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan dirinya secara leluasa. Salah satu karakter yang penting ditumbuhkan adalah karakter mandiri. Sebab kecenderungan orang tua hari ini memberikan proteksi lebih pada anak-anaknya sehingga anak memiliki ketergantungan yang lebih pula pada orang tuanya. Karkter mandiri dapat diartikan sebagai perilaku seorang yang tidak bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan segala tugas-tugasnya. Anak yang sejak kecil tidak ditumbuhkan kemandiriannya biasanya akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Jika dibiarkan begitu saja, maka hal semacam ini akan berdampak pada ketidakmandirian yang lainnya seperti kemandirian dalam ruang pendidikan misalnya. Anak yang tidak mandiri akan lebih memilih mencontek dari pada mengerjakan sendiri, anak lebih suka meminta dari pada memberi, anak lebih suka menyerahkan pekerjaan kelompoknya pada teman tertentu yang menguntungkan dirinya, dan sebagainya. Apabila hal demikian digampangkan atau dibiarkan begitu saja maka sejatinya kita sedang menciptakan calon generasi koruptor di masa mendatang. Kemandirian tentu tidak akan tumbuh secara instan dalam diri seorang anak, namun merupakan hasil dari hasil sebuah pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dan berlangsung lama. Kemandirian tidaklah selalu berkaitan dengan usia, akan tetapi terbentuk karena adanya pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus sejak kecil. Lalu apa saja pembiasaan-pembiasaan yang perlu ditekankan pada anak agar kemandirian anak tumbuh dan terbentuk? Berikut ini beberapa pembiasaan yang dapat orang tua terapkan untuk anak-anaknya. Pertama, latih anak untuk terbiasa makan dan minum sendiri sejak kecil. Jangan marahi anak ketika makanannya belepotan ke baju atau ke muka. Namun yang perlu dilakukan orang tua adalah membiarkan seperti itu dan meminta anak untuk membersihkannya sendiri. Sehingga anak tahu apa yang harus dilakukan dan dapat memecahkan masalahnya sendiri. Kemandirian makan sendiri ini tentu tidak akan tumbuh secara instan, namun perlu dibiasakan agar anak tidak memiliki sikap ketergantungan sehingga dia tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Bukan hanya sekadar aktivitas makannya saja yang dilatih, namun anak juga bisa dilatih untuk menyajikan makanan, melayani, merapikan meja selepas makan, mencuci piring, dan sebagainya. Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kemandirian anak yang berkaitan dengan aktivitas makan adalah memberi keyakinan bahwa mereka tidak perlu menunggu untuk disuapi. Kedua, biasakan anak memakai pakaian dan sepatu sendiri. Kemandirian memakai pakaian dan sepatu sendiri ini berarti bahwa anak mampu mengambil dan meletakkan atau mengenakan dan melepaskan pakaian atau sepatu secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain. Orang tua dapat membantu memakaikan pakaian atau sepatu pada anaknya beberapa kali saja, namun setelahnya cobalah memberikan kesempatan pada anak untuk mengenakannya sendiri. Misalnya membiarkan anak memilih baju sendiri saat mau bepergian, melepas sepatu ketika hendak masuk kelas dan saat hendak pulang sekolah. Selain itu, anak juga bisa dibiasakan untuk menaikkan resettling celana setelah selesai buang air kecil secara mandiri. Saat anak mampu memakai pakaian atau sepatu terlihat raut wajah gembira yang menggambarkan ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri saat anak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketiga, biasakan anak untuk membereskan tempat tidur dan merawat diri. Langkah yang bisa orang tua lakukan adalah mengajarkan kebiasaan untuk merapikan tempat tidur sendiri. Sebelum menyuruh anak untuk melakukan hal tersebut, orang tua terlebih dahulu memberikan contohnya. Selain itu, setelah bangun tidur orang tua bisa melatih anak untuk menggosok gigi dan mandi sendiri. Keempat, biarkan anak untuk memilih aktivitas yang disukai. Hal yang kurang tepat yang biasanya dilakukan oleh orang tua adalah selalu saja melarang ini dan itu. Misalnya saat melihat anak sedang menaiki sebuah kursi, orang tua akan langsung berteriak, “jangan lakukan itu! Nanti kau akan jatuh”. Saat anak bermain pisau, orang tua pun berusaha untuk melarangnya. Padahal, usia anak antara 2-3 tahun adalah masa dimana anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mengekspresikan apa yang ia ingin lakukan. Jika keinginan ini dihalangi oleh orang tua, maka sebenarnya orang tua mematikan ruang gerak anak. Bahayanya adalah anak akan selalu menunggu melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh orang tua dan menjadi tergantung pada orang tua. Untuk itu biarkanlah anak untuk melakukan segala aktivitas anak yang mereka sukai. Kelima, biasakan anak untuk tidak ditunggui saat di sekolah. Barangkali rasa yang pertama kali muncul oleh orang tua saat anaknya diminta untuk tidak ditunggui saat di sekolah adalah cemas dan khawatir. Hal itu merupakan naluri yang wajar yang dimiliki oleh setiap orang tua. Namun, memanjakan anak untuk selalu ditunggui saat di sekolah pun bukan hal yang baik untuk menunjang kemandirian seorang anak. Untuk itu, latihlah anak untuk terbiasa di sekolah tanpa ditunggui. Orang tua dapat melakukan perjanjian dengan anak, jika anak berhasil di sekolah sendiri, maka anak akan diberikan apresiasi berupa peluk kasih sayang atau memenuhi satu hal yang paling disukai anak sehingga anak akan merasa bangga dan puas. Untuk itu lah kemudian secara perlahan kemandirian anak akan terbentuk. Keenam, latih anak untuk merapikan mainan setelah selesai bermain. Tidak sedikit orang tua yang membiarkan begitu saja melihat mainan anaknya tergeletak begitu saja selesai anak bermain. Di sini, orang tua perlu mengajarkan kebiasaan merapihan mainan atau barang-barang sesui tempatnya, bukan membiarkan begitu saja. Kebiasaan buruk anak seperti mengambil mainan atau barang tanpa mengembalikan ke tempat asalnya ini perlu dirubah mulai sejak sekarang. Sebagai langkah awal, orang tua bisa mengajarkan kebiasaan pada anak untuk merapikan semua barang dan menyimpan kembali pada tempatnya. Cara demikian akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Secara umum, karakter kemandirian anak ini akan terbentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara kontinyu sehingga karakter terbentuk dalam diri anak. Kemandirian anak ini nantinya dapat terlihat dari tingkah laku, interaksi sosial, dan emosionalnya. Anak mandiri akan dapat menyelesaikan segala tugas-tugasnya secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar