Menanamkan Nilai Integritas Anti Korupsi pada Anak Usia Dini

AnggunPaud - Akhir-akhir ini kita dibisingkan dengan fenomena terjeratnya para pejabat publik yang tersandung kasus korupsi. Mulai dari kasus korupsi yang dilakukan oleh kepala desa, bupati, hingga para pejabat tinggi lainnya. Kita semua sepakat bahwa korupsi adalah perilaku yang tercela, namun realitanya kejahatan tersebut masih saja terjadi dan menjadi permasalahan yang sangat kompleks.

Perilaku memperkaya diri sendiri ini pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa dan sering dikaitkan dengan penyalahgunaan kekuasaan para pemimpin dan pejabat tinggi. Di sisi lain, masyarakat kita juga tidak menutup mata terhadap fenomena ini. Berbagai lembaga mulai dari yang legal hingga komunitas independen bekerja dalam rangka membangun karakter dan budaya anti korupsi.

Pendidikan Anti Korupsi ini harus ditanamkan sejak usia dini, hal tersebut sejalan dengan program Tali Integritas yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui bahan bacaan anak usia dini. Yakni dengan menyediakan literasi atau bahan bacaan yang memuat pesan moral dan nilai-nilai integritas anti korupsi yang disajikan sesuai dengan perkembangan anak usia dini.

Hal tersebut dilakukan dengan harapan akan menjadi senjata paling ampuh untuk mencegah terjadinya praktik korupsi di masa yang akan datang. Penanaman pendidikan antikorupsi sejak dini kepada anak di sekolah juga bertujuan agar anak memiliki jiwa anti korupsi. Jiwa anti korupsi inilah yang akan menjadi benteng bagi mereka untuk tidak melakukan perbuatan korupsi jika mereka sudah dewasa kelak. Oleh sebab itulah program yang dicanangkan oleh KPK ini pantas untuk diapresiasi dan dijadikan sebagai gerakan bersama untuk membentuk generasi anti korupsi yang ideal.

Pada hakikatnya rencana penerapan pendidikan antikorupsi di sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap dan kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Inti dari pendidikan antikorupsi sebagaimana tujuan dari pendidikan nasional adalah menanamkan karakter kepada generasi muda agar mau berlaku jujur dalam hidupnya. Agar mampu mengontrol dirinya untuk tidak melakukan korupsi maka ada sembilan nilai integritas yang ditanamkan pada generasi muda bangsa.

Di sinilah peran kita sebagai orang tua, keluarga, pengasuh, pendidik, dan para pemerhati anak, untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak anak masih kecil. Berikut ini adalah cara-cara sederhana yang dapat kita lakukan di rumah dan sekolah.

1. KEJUJURAN Kejujuran atau sikap lurus hati, tidak berbohong, dan tidak curang ini penting untuk dibangun sedini mungkin. Caranya, ajari anak untuk tidak mengambil sesuatu milik orang lain, biasakan meminta izin sebelum meminjam. Ajari anak untuk tidak mencontek, tumbuhkan kebanggaan saat ia berhasil dengan upaya sendiri. Dapat pula kita tekankan untuk berkata jujur dengan membiasakan anak bercerita secara terbuka, ajari mengakui kesalahannya, dan selalu tepati janji pada anak. Dan berilah apresiasi dan rasa bangga kepada anak ketika nilai ujian tersebut diperoleh dengan cara yang terpuji, hal tersebut dilakukan agar seorang anak termotivasi ketika melakukan suatu hal yang diperoleh dengan cara berlaku jujur.

2. KEPEDULIAN Peduli adalah sebuah tindakan yang mengindahkan, memperhatikan atau tidak menghiraukan orang lain. Peduli mengindikasikan seseorang anak dapat memahami kesusahan anak-anak lain. Di sini kita dapat menumbuhkan empati sejak kecil, mulai dari mengajari anak tentang emosi, dan menunjukkan bagaimana caranya menunjukkan kepedulian dengan cara sederhana, misalnya menghibur teman yang sedih, berbagi makanan kepada teman yang tidak membawa bekal, menolong kucing yang sakit, dan lain sebagainya.

3. KEDISIPLINAN Kedisiplinan ini merupakan bentuk ketaatan terhadap aturan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Disiplin juga berarti kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku. Di sini cara sederhana menanamkan disiplin adalah dengan contoh, bukan paksaan, karena kita ingin datang dari dirinya sendiri. Kebiasaan tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, mengikuti peraturan di rumah atau di sekolah adalah beberapa bentuk disiplin yang bisa ditanamkan sejak kecil. Kuncinya di sini adalah contoh dan konsistensi.

4. MANDIRI Mandiri atau sikap tidak bergantung pada orang lain ini dapat ditanamkan pada anak saat anak sedang menghadapi masalah jangan langsung dibantu, beri kepercayaan dan dukungan bahwa ia mampu menghadapi masalahnya sendiri. Misalnya belajar mengikat tali sepatu, naik sepeda, dll. Biasakan pula anak tidak selalu memilih jalan pintas, misalnya kalau ingin nilai bagus harus belajar bukan mencontek.

5. TANGGUNG JAWAB Rasa tanggung jawab atau sikap anak dalam kesiapan menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukan dapat ditanamkan dengan mengajari anak tentang konsekuensi, misalnya jika menumpahkan air maka harus dilap, jika merusak mainan temannya maka mencoba memperbaiki, berani mengakui kesalahan. Dukung anak menyelesaikan tugasnya. Misalnya membereskan tempat tidur, mengerjakan PR, memberi makan hewan peliharaan, dan sebagainya.

6. KESEDERHANAAN Sederhana atau bersikap bersahaja dan tidak berlebih-lebihan serta berarti menggunakan sesuatu secukupnya atas apa yang dipunya dan dimilikinya dapat dibangun dengan mengajarkan anak merasa cukup dengan apa yang dimiliki, setiap anak ingin membeli sesuatu ingatkan bahwa ia sudah punya di rumah. Biasakan membeli yang baru jika membutuhkan bukan menginginkan. Tekankan bahwa yang penting bukan baru atau bagusnya tapi fungsi dan manfaatnya.

7. KEBERANIAN Berani adalah sikap yang mantap hati dan percaya diri, tidak gentar dalam menghadapi bahaya dan kesulitan. Keberanian dan kepercayaan diri ini dapat dibangun dengan membiarkan anak berekplorasi dan belajar dari kesalahannya. Tanamkan nilai-nilai moral sejak kecil dan ajak anak melakukan apa yang diyakininya sebagai sesuatu yang benar. Misalnya membela teman yang diejek, berani menegur teman yang membuang sampah sembarangan. Selain itu bisa juga dengan mengajak anak dengan mengikuti arena permainan yang mengasah keberanian anak sejak usia dini.

8. KEADILAN Adil adalah sikap selalu berlaku sepatutnya, tidak sewenang-wenang. Adil berarti juga kita dapat memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Di sini anak bisa diajarkan konsep adil sesuai usianya, dan ajari anak berbagi. Tanamkan pula nilai bahwa setiap orang punya hak dan kewajiban yang sama dan harus diperlakukan dengan setara. Kita bisa menjadi contoh saat berinteraksi dengan bibi dan tukang kebun di rumah, dengan keluarga, maupun dengan rekan kerja, semua diperlakukan dengan sama.

9. KERJA KERAS Kerja keras merupakan sikap gigih dan fokus dalam melakukan sesuatu, tidak asal-asalan. Menanamkan sikap bekeja kerasa merupakan nilai positif, karena sikaap bekerja keras akan membuat anak meraih tujuan yang diinginkan. Kita dapat memberikan contoh pada anak saat di rumah atau di sekolah, bisa berjuang saat bermain atau menyelesaikan project, saat merapikan mainan, dan sebagainya. Perlihatkan pada anak bahwa dengan kerja keras sesuatu yang diinginkan dapat terwujud. Dari kesembilan nilai integritas ini sebaiknya ditanamkan pada anak sedini mungkin agar menjadi sebuah kebiasaan dan pandangan hidup yang lama-kelamaan kebiasaan ini membentuk menjadi sebuah karakter. Selain baik untuk membangun karakter anak, tentu menjadi upaya kita juga untuk mencegah tindak korupsi di sekitar kita baik di masa sekarang maupun mendatang.

 

sumber gambar : https://ppkn.guruindonesia.id

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar