Hari Anti Stunting ke-1, 149 Juta Anak di Dunia Usia 0-5 Tahun Mengalami Stunting

PAUDPEDIA - Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Prof. Rizal Damanik mengatakan pemerintah Indonesia, menyampaikan penghargaan kepada sejumlah pihak yang memprakarsai Hari Aksi Anti Stunting yang ke-1. Peringatan ini mempertemukan para pembuat kebijakan, donor, dan akademisi untuk mempromosikan penelitian dan intervensi untuk memastikan bahwa setiap anak dapat mencapai potensi penuh terhadap pertumbuhannya.

Hal itu dikatakan Prof. Rizal Damanik pada acara Webinar Action Against Stunting Awareness Day with The Topic "The Progress on Implementation of Stunting Policy and Program (Stunting Condition in Indonesia, Stunting Related Policy and Program, Gap on implementation," yang diselenggarakan secara virtual oleh Seameo Recfon.

Program Early Childhood Care and Nutrition Education (ECCNE) atau dikenal “Anakku Sehat dan Cerdas” diprakarsai oleh SEAMEO RECFON sejak tahun tiga tahun lalu. Program ini bertujuan untuk memberikan model implementasi PAUD Holistik Integratif untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Komponen-komponen penting yang terintegrasi dalam program ini mencakup lingkungan yang mendukung, pola asuh orangtua (parenting), pengasuhan dan pendidikan, gizi dan kesehatan, dan kebijakan serta partisipasi lintas sektoral.

Latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini berdasarkan data tahun lalu, 149 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. Anak-anak ini, lebih dari setengah tinggal di Asia sementara hampir 40% tinggal di Afrika. WHO menyebut stunting sebagai salah satu hal yang berarti dan menghambat perkembangan manusia atau gagal tumbuh dan berkembang anak. Forum ini menjadi kesempatan bagi sejumlah negara masih terdapat anak stunting untuk menyampaikan tantangan yang dihadapi sehingga dapat dicarikan solusi penyelesaian bersama.

Prioritas Nasional

Prof. Rizal  menyampaikan, pengurangan stunting merupakan prioritas nasional pemerintah Indonesia, yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden sebagai Ketua Pengarah dan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai Ketua Pelaksana. "Kami berkoordinasi erat dengan Bappenas, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Sekretariat Wakil Presiden”, kata Prof. Rizal

“Indonesia telah menetapkan target untuk mempercepat penurunan stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Gugus tugas pengurangan stunting dibentuk dari tingkat pusat hingga desa. Tim ini berperan untuk mengkoordinir, mensinergikan, dan mengevaluasi pelaksanaan percepatan penurunan stunting di wilayahnya. Strategi nasional percepatan pengurangan stunting menjadi kerangka utama bagi seluruh elemen negara”, imbuhnya.

Dikatakan, pemerintah Indonesia menerapkan lima pilar penanganan stunting yang terdiri dari: (1) penguatan komitmen dan visi pemimpin di kementerian/lembaga di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, dan desa; (2) meningkatkan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat; (3) memperkuat konvergensi Intervensi Nutrisi Spesifik dan Gizi Sensitif; (4) meningkatkan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat; dan (5) penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, penelitian, dan inovasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN dr. Irma Ardiana juga menyampaikan, ”BKKBN juga telah berkolaborasi dan mengimplementasikan ke lintas sektoral program-program yang berfokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan keterlibatan universitas untuk membantu tingkat sub nasional dalam literasi dan analisis data.

"Mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting harus dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja. Untuk itu, penurunan stunting juga harus melibatkan stakeholder lainnya, mulai dari dunia usaha, universitas dan organisasi profesi, organisasi masyarakat madani, mitra pembangunan, dan media. BKKBN menyatakan adanya potensi pelibatan perguruan tinggi untuk mendukung penurunan stunting di Kabupaten/kota melalui konvergensi di 1000 HPK”, terang dr. Irma.

 

Penulis : Eko

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar