Pengenalan Literasi Digital Sejak Usia Dini Dapat Bentuk Generasi Emas Anak Indonesia

PAUDPEDIA - Literasi digital sepatutnya diperkenalkan sejak anak masih berada di usia dini dalam bentuk kegiatan atau aktivitas bermain sambil belajar guna membentuk serta membangun pondasi karakter  yang kuat dalam diri seorang anak. Dengan pengenalan literasi digital sejak dini maka ketika menjadi remaja serta dewasa kelak mampu menyaring informasi negatif yang mereka peroleh dari internet. Hal ini menjadi salah satu upaya perlindungan anak dan menciptakan generasi masa depan yang berkualitas.

Oleh karenanya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan ECPAT Indonesia menyelenggarkan rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2021 melalui kegiatan Festival Aman: You(th) Can Create A Better Internet For Children and Young People.

“Pandemi Covid-19 yang masih kita hadapi hingga saat ini mengubah berbagai pola prilaku dan kehidupan kita sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan gawai dan berbagai teknologi informasi menjadi bagian penting dari kehidupan kita. Sayangnya, kemajuan ini nyatanya seperti pisau bermata dua yang juga memiliki banyak risiko. Berbagai tantangan lainnya di dunia maya seperti banyaknya berita hoaks yang tersebar hingga disalahgunakannya data pribadi pengguna sosial media terjadi, dan diantaranya adalah anak-anak,” tutur Menteri PPPA, Bintang Puspayoga dalam siaran pers di Jakarta.

Menteri Bintang menambahkan kerentanan anak dalam dalam menggunakan media sosial diantaranya adalah risiko kekerasan berbasis online yang bisa terjadi kepada anak, tipu muslihat berupa iming-iming dengan tujuan eksploitasi anak termasuk eskpolitasi seksual dan pornografi.

“Meskipun demikian, agar tidak terjebak dalam sisi buruknya, kalian harus menjadi pengguna yang pintar dan bijaksana. Carilah sumber-sumber berita yang aktual dan dapat dipertanggung jawabkan, diantaranya kalian bisa mencari informasi dari media sosial lembaga-lembaga pemerintahan. Bertanyalah pada orang tua atau guru kalian bila ada akun yang mencurigakan di sosial media kalian,” jelas Menteri Bintang.

Menteri Bintang juga mengapresiasi anak-anak yang terpilih sebagai AMAN Warrior untuk dapat bertugas menjadi pendidik teman-teman sebayanya dalam isu literasi digital dan keamanan anak di ranah online. Bintang berharap semua anak dapat menjadi pelopor dan pelapor untuk menyebarkan informasi dan motivasi positif di internet kepada orang lain.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemen Kominfo), Mira Tayyiba menyampaikan strategi literasi digital yang dapat dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah, penyedia platform digital, masyarakat dan anak-anak pengguna internet untuk menciptakan ruang digital yang kondusif.

“Kominfo sebagai akselerator, fasilitator dan regulator ekosistem digital di Indonesia telah menerapkan serangkaian upaya dari hulu ke hilir untuk menciptakan ruang-ruang digital yang nyaman bagi anak. Dari tingkat hulu kami telah melakukan inisiasi penguatan melalui Gerakan Nasional Literasi Digital Siber Kreasi Kominfo yang menyasar pada 12,4 juta masyarakat setiap tahunnya, hingga mencapai akumulasi 50 juta masyarakat terliterasi pada tahun 2024,” ungkap Mira.

Mira menambahkan, upaya di hilir yang telah mereka lakukan salah satunya adalah penegakan hukum bagi penyebar konten negatif oleh kepolisiaan melalui penyediaan informasi. Kemen Kominfo juga telah bekerja sama dengan Kemen PPPA dalam penanganan konten negatif terkait anak.

Deputi Perlindungan Khusus Anak, Nahar juga mengingatkan pentingnya kerja sama dari berbagai pihak untuk dapat mewujudkan perlindungan anak di ranah online.

“Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa integrasi hak anak ada pada kebijakaan koorporasi dan proses manajemen yang memadai untuk memastikan lingkungan online yang aman untuk anak sudah sesuai. Kedua, peran orang tua yang bukan hanya mengawasi tapi juga mengikuti perubahan teknologi yang digunakan anak. Ketiga, peran sekolah yang dapat menciptakan kegiatan yang bermanfaat seperti lomba-lomba yang memberi kesempatan anak berkreasi selama masa pandemi. Keempat, peran dunia usaha dan platform media sosial yang mempu mempromosikan manfaat teknnologi digital untuk partisipasi publik dan memastikan perlindungan anak dilaksanakan. Terakhir, peran anak dan kaum muda sebagai pelopor untuk terus melakukan edukasi kepada teman-teman sebayanya demi mewujudkan internet positif,“ kata Nahar.

Program Manager ECPAT Indonesia, Andy Ardian juga turut menyampaikan kontribusi yang telah dilakukan oleh organisasi masyarakat guna mewujudkan literasi digital bagi anak melalui program AMAN Warrior.

“Tahun ini kami mempersiapkan 58 anak yang kami sebut AMAN Warrior. Mereka akan menjadi pendidik bagi teman-teman sebaya dari kota lain dan menyampaikan peran sebagai upaya membangun literasi digital. Menurut kami anak-anak juga punya peran penting dalam pemenuhan hak, perlindungan dan kontribusi sebagai warga negara Indonesia yang punya posisi sama dengan orang dewasa,” tutur Andy.

Sedangkan dari dunia usaha, Policy Program Facebook Indonesia, Dessy Sukendar menuturkan peran yang telah dilakukan Facebook dalam menciptakan internet yang ramah melalui penggunaan teknologi untuk mencegah, mendeteksi dan menghapus konten-konten yang mengeksploitasi anak-anak. Selain itu, Facebook juga membangun kemitraan yang menjadi bagian penting dalam proses merumuskan kebijakan dan memerangi konten kekerasan terhadap anak.

“Kami juga menjalankan program Asah Digital yang ditujukan kepada siswa, guru dan orang tua untuk mengasah keterampilan dalam menggunakan internet. Serta, kami meluncurkan video kampanye bertajuk Laporkan Jangan Bagikan agar edukasinya lebih tersebar di ruang lingkup siswa, orang tua danguru dalam memberi informasi tentang apa yang bisa dilakukan jika menemukan konten kekerasan terhadap anak,” jelas Dessy.

Aktris, Prilly Latuconsina yang turut hadir dalam acara tersebut juga menyayangkan tindakan publik figur dan influencer yang tidak dapat menggunakan platform sosial media mereka untuk tujuan yang baik.

“Semoga dengan adanya AMAN Warrior, kalian bisa saling sharing dan mengajarkan anak-anak yang lain untuk menggunakan internet yang baik. Karena kalau kita ingin menjadi orang baik, maka kita harus berlaku baik juga di sosial media,” ungkap Prilly.

Sebagai upaya perlindungan diri agar tetap aman di internet, Manajer Kebijakan Publik WhatsApp, Indonesia, Esther Samboh menguraikan beberapa hal yang dapat diterapkan oleh anak, orang tua atau pendamping ketika menggunakan aplikasi chatting, diantaranya; (1) Orang tua dan anak dapat menentukan batasan dan prinsip privasi masing-masing supaya dapat saling menghargai dan tetap terkontrol; (2) Jangan sembarangan membagi informasi diri yang bersifat privat dan pribadi sehingga bisa disalah gunakan orang lain; (3) Lindungi diri dengan menggunakan fitur privasi; (4) Jangan sign in menggunakan gawai umum, atau jika terpaksa jangan lupa untuk sign out setelah menggunakan; (5) Lakukan verifikasi dua langkah untuk melindungi data kita.

 

Penulis : Eko

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar