Jumlah Pendaftar Siswa Baru Tahun Ajaran 2021/2022 Kelas Awal Pendidikan Dasar di 20 Kabupaten/Kota Turun

PAUDPEDIA - Melalui studi komprehensif berskala nasional, INOVASI berupaya memahami kesenjangan pembelajaran di masa pandemi dalam aspek keterampilan dasar serta dampaknya pada kelompok anak-anak yang rentan. Melalui laporan awal dari analisis situasi di 612 SD/MI di 20 kabupaten/kota di 8 provinsi, persentase terbesar anak tidak sekolah terdapat pada keluarga dengan penghasilan paling rendah.

“Selain itu juga ditemukan kecenderungan penurunan angka pendaftaran siswa baru di kelas awal tahun ajaran baru 2021/2022 jika dibandingkan tahun lalu,” jelas Suhadi. Adapun kedelapan provinsi tersebut adalah Jambi, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, NTT, NTB, Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara.

Perwakilan tenaga kependidikan dari Provinsi NTB, Kepala SD Negeri 2 Batunyala Lombok Tengah, Ni Ketut Mayoni, yang hadir pada rapat ini juga mengatakan, keberhasilan pembelajaran yang adaptif di sekolahnya di masa pandemi, tidak bergantung pada proses dan pencapaian, tapi bergantung pada tiga hal, yakni 1) menjaga kesehatan dan kenyamanan warga sekolah sesuai prokes, 2) mengejar ketertinggalan kecakapan dasar dalam hal literasi, numerasi dan karakter siswa, dan 3) terus menjalin keterlibatan wali murid dan orang tua dalam membantu anak-anaknya, dan menjaga keaktifan, serta kemandirian belajar anak-anak.

Ragam Praktik Inspiratif

Pada rapat kali ini, berbagai daerah juga memberikan beragam praktik inspirasi pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah mengenai pembelajaran siswa kelas 1 SD yang belum pernah merasakan sekolah tatap muka sama sekali. Guru SD Negeri 8 Tanjung Palas Timur, Bulungan, Kalimantan Utara, Pranika Dian Dini, mengutarakan tantangan yang dialaminya sewaktu mengajar rombongan belajar yang belum pernah masuk sekolah sama sekali.

“Kemampuan para siswa dalam mengenal huruf tentu saja sangat rendah. Saya juga merasa akan sulit kalau harus mengajar siswa baru tanpa bertemu langsung,” ucap Pranika. Ditengarai dia, tantangan lainnya adalah saat dirinya harus merancang pembelajaran yang menjangkau semua siswa.

“Selain itu, ada kendala sinyal bagi siswa yang tinggal di perkebunan sawit. Selain sinyal telepon, siswa saya juga tidak punya sarana ponsel pintar. Ini sulit jika mereka harus belajar daring,” ucap Pranika. Namun, dirinya dan sekolah berusaha merancang pembelajaran luring dan menggunakan modul cetak.

“Saya juga melakukan asesmen formatif untuk melihat perkembangan siswa. Salah satu contohnya, hasil tes saya gunakan untuk mengevaluasi mengapa perkembangan pengenalan huruf siswa saya belum mengalami kemajuan,” ucap Pranika. Ternyata, diketahui Pranika kemudian, salah satu alasannya adalah latar belakang orang tua siswa yang tidak berpendidikan tinggi.

“Bagi saya, pelatihan adaptasi modul kolaborasi INOVASI dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bulungan sangat membantu para guru, yang akhirnya mampu menyediakan materi modul yang cukup untuk siswa,” ucap Pranika mengapresiasi.

Pengalaman Guru Madrasah Ibtidaiyah NW Kesik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Syifaiyah, pun menjadi salah satu pemerhati pendidikan di masa pandemi. Sebelum masa pandemi, Syifaiyah melihat peran orang tua biasa-biasa saja bahkan cenderung belum nampak dalam mendukung pembelajaran anak. Tetapi sejak pandemi, perhatian orang tua terhadap pendidikan anak jadi meningkat. “Ini mungkin karena anak-anak harus belajar di rumah. Komunikasi antara guru dengan madrasah dan orang tua jadi lebih intensif,” kata Syifaiah.

Menurut dia, kolaborasi madrasah, desa, dan orang tua selama belajar dari rumah cukup baik. “Ada inisiatif yang bagus. Melihat anak-anak di sekitar Desa Kesik banyak yang kesulitan belajar, juga karena guru-guru tidak bisa mendampingi penuh. Bapak Kepala Desa berinisiatif mengumpulkan sejumlah warga membantu,” ucap Syifaiyah.

Diakui Syifaiyah, Kepala Desa meminta dukungan INOVASI untuk memberdayakan warga yang terdiri dari guru ngaji (TPQ), guru SD, guru MI, guru PAUD, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan kepala dusun sebagai relawan literasi. “Awalnya, Maret 2021 ada 19 relawan terlibat membantu kegiatan belajar anak-anak di sekitar Desa Kesik karena orang tua anak-anak ini banyak yang bekerja ke luar negeri maupun ke luar daerah, dan mereka tinggal bersama kakek dan neneknya yang tidak memiliki kemampuan membaca,” ucap Syifaiyah.

Kehadiran para relawan literasi, menurut Syifaiyah sangat membantu anak-anak belajar. “Jumlah relawan pun kini bertambah menjadi 29 orang. Ini juga berkat kontribusi mahasiswa yang selama pandemi kuliah daring, sehingga punya banyak waktu membantu mengajar. Siswa sangat merasa terbantu,” tutur Syifaiyah. Ia berharap, di tahun ajaran baru, dukungan orang tua dan warga desa terus berlanjut.

 

Penulis : Eko

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar