Menanamkan Ketangguhan Sebagai Bekal Menghadapi Situasi Sulit Bagi Anak

PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Sobat PAUD, saat anak kita lahir, mungkin kita ingin ia selalu hidup nyaman dan bahagia. Akan tetapi, kadang kita lupa bahwa selama anak tumbuh ia akan mengalami banyak tantangan dalam kehidupan sehari-hari dan kita tidak bisa selalu mendampingi anak terus menerus. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan orang tua adalah mengembangkan ketangguhan dalam diri anak, sehingga ia mampu menghadapi tantangan-tantangan dan situasi sulit yang ada. Terkadang, situasi sulit yang terjadi tidak langsung memengaruhi anak. Akan tetapi, respons dan emosi orang tua yang menjadikan situasi tersebut sulit untuk anak. Misalnya, saat orang tua mengalami PHK, anak mungkin tidak langsung merasa sedih. Akan tetapi, karena orang tua menjadi lebih mudah marah, anak kemudian ikut merasa takut dan cemas.

Berikut adalah tantangan atau situasi sulit yang mungkin dihadapi Anak

  • Kehilangan orang terdekat (keluarga atau teman). Misalnya: meninggal, perceraian, dan pindah rumah/sekolah.
  • Perubahan sosial-ekonomi keluarga. Misalnya: orang tua terkena PHK, orang tua bertengkar.
  • Menyaksikan atau mengalami kekerasan (fisik & mental). Misalnya: dibentak dengan kata kasar, dipukul, dan lain-lain.
  • Masalah pertemanan. Misalnya: dijauhi atau diejek oleh teman-teman.
  • Mengalami kegagalan. Misalnya: kalah saat mengikuti lomba.

Situasi-situasi sulit seperti yang disebutkan di atas tentu memberikan dampak terhadap perkembangan anak. Saat mengalami situasi sulit, anak terkadang kurang bisa menyampaikan pikiran dan perasaannya. Dampak situasi sulit pada anak dapat terlihat dari tanda-tanda seperti: tidak mau berpisah dari orang tua, lebih sering menangis, lebih banyak takut, kembali mengompol, tidak nafsu makan, dan mudah sakit. Apakah anak Ayah dan Bunda pernah mengalami hal tersebut? untuk mencegah hal tersebut maka kita perlu mengembangkan ketangguhan dalam diri anak kita.

Baca juga :

Anak yang tangguh adalah anak yang mampu menyesuaikan diri, menghadapi tantangan, dan bangkit kembali setelah mengalami suatu kesulitan atau masalah. Sebagai contoh, seorang anak diejek oleh teman-temannya di sekolah, ia akan merasa sedih dan kecewa, namun ia mampu menyampaikan kepada temanteman bahwa ia tidak suka diejek. Ia kemudian mampu kembali bermain dan menjadi ceria. Ketangguhan anak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan perlu dilatih sejak usia dini oleh orang tua.

  • Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah gagal, tidak pernah sedih, atau tidak pernah kecewa.
  • Anak yang tangguh adalah anak yang mampu bangkit, setelah merasa gagal, sedih, dan kecewa.

Penulis             : Ifina Trimuliana, M. Pd

Foto                  : Macau Photo Agency/Unsplash

Referensi         :

Mengembangkan Ketangguhan Anak Sejak Dini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini 2020

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar