Melatih Kesiapsiagaan Bencana Tsunami di Satuan PAUD

PAUDPEDIA – Ayah, Bunda, dan Sobat PAUD, tsunami merupakan bencana alam yang berbahaya bagi wilayah pesisir laut. Tentu kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai panjang, sehingga tsunami merupakan ancaman yang nyata. Untuk meminimalisir dampaknya dan mempersiapkan masyarakat Indonesia untuk dapat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana itu terjadi, Sobat PAUD perlu mengenalkan pembelajaran mengenai tsunami sejak dini.

Kesiapsiagaan bencana merupakan salah satu topik penting di Satuan PAUD dan merupakan diversifikasi dari Kurikulum PAUD. Pendidikan kebencanaan di Satuan PAUD, termasuk tentang tsunami harus dilakukan secara sederhana dan sesuai usia anak agar mudah dipahami.

Baca juga :

Berikut langkah yang bisa dilakukan Sobat PAUD untuk melatih kesiapsiagaan AUD pada tsunami :

  1. Mengenalkan konsep dasar tsunami

Tsunami diartikan sebagai rangkaian gelombang laut yang melanda wilayah pantai dan daratan akibat terjadinya peristiwa geologi di dasar laut yaitu : gempa bumi,letusan gunung api dan longsoran. Tanda-tanda tsunami adalah: gempa bumi yang sangat kuat, lebih dari 1 menit, tiang bangunan runtuh/ rusak, dan manusia tak mampu berdiri tegak. Hal-hal tersebut perlu dijelaskan secara sederhana agar mudah dipahami anak.

Contoh :

  • Guru bercerita, menonton video, atau mengajak diskusi tentang bencana tsunami, misalnya, “Pernahkah kalian melihat tsunami di televisi? Ya, ketika tsunami ada gelombang besar dari laut yang bisa merusak bangunan dan membahayakan kita. Tapi kaliah tahu tidak bagaimana ciri-ciri tsunami akan terjadi?”
  1. Mengenalkan simbol-simbol evakuasi tsunami

Di berbagai tempat, termasuk gedung Satuan PAUD idealnya terdapat simbol-simbol terkait kebencanaan. Selain itu, Sobat PAUD bisa menggunakan poster peraga yang berisi simbol dan alur evakuasi.  Simbol tersebut berupa : simbol jalur evakuasi dan titik kumpul. 

Kenalkan anak makna terkait simbol-simbol tersebut. Diskusikan dengan mereka apa langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi.

Contoh :

  • Guru menjelaskan makna simbol hijau sebagai jalur evakuasi. Kemudian tanyakan pada anak, “Apakah kalian tahu artinya evakuasi?”
  • Anak akan merespon dengan berbagai jawaban, kemudian jelaskan makna evakuasi yakni mengungsi ketika ada tanda-tanda tsunami akan datang.
  • Setelah berdiskusi, ajak anak mensimulasikan atau mempraktikkan dengan bermain yang menyenangkan menggunakan simbol-simbol tadi tadi.
  1. Mengenalkan suara sirine penanda tsunami

Sirine merupakan salah satu moda komunikasi peringatan dini yang cukup efektif, karena dapat diaktifkan dari jarak jauh, suaranya khas, jangkauan suara hingga sekitar 2 km dari sumber suara, dan mampu bekerja tanpa listrik selama 30 menit. Daerah-daerah yang rawan tsunami biasanya sudah dilengkapi fasilitas sirine ini, maka Sobat PAUD bisa mengenalkan anak pada hal ini agar dapat memahami dengan baik situasi tsunami dengan bercerita, membaca buku bersama, menonton video, berdiskusi, dan simulasi.

  1. Berlindung di tempat atau bangunan tinggi

Guru dapat menjelaskan lokasi aman dari tsunami yakni tempat yang jauh dari bibir pantai dan lokasi tinggi. Lokasi yang dapat meminimalisir potensi terkena gelombang tsunami yakni bangunan evakuasi yang tinggi, bukit terdekat, hingga pohon yang tinggi.

Bimbing dan simulasikan bersama anak untuk memahami dan terampil agar dapat mengikuti langkah-langkah saat menyelamatkan diri, seperti : berpegangan pada pohon yang tinggi saat terkena terjangan air, menghindari barang-barang yang terseret arus karena dapat melukai diri, dan sebagainya.

Contoh :

  • Guru mengajak anak berdiskusi tentang situasi ketika tsunami terjadi, “Saat gelombang datang, berbagai hal bisa terseret air, jika kalian hanyut, berpegang erat pada pohon tinggi dan kuat. Jika melihat sampah dan barang-barang bekas yang hanyut, kalian perlu menjauh, ada yang tahu kenapa?”
  1. Hindari kubangan air dan area bangunan rusak

Setelah gelombang tsunami surut, masih ada beberapa hal yang berpotensi membahayakan jiwa. Misalnya area kubangan air yang mungkin terdapat zat-zat berbahaya dan area puing-puing bangunan dengan potensi terdapat benda tajam yang bisa melukai.

Sobat PAUD dapat mengajak anak untuk berdiskusi dan tanya jawab tentang hal tersebut kemudian menyediakan kegiatan yang dapat memahamkan anak tentang hal-hal yang perlu dihindari ketika tsunami terjadi, misalnya kegiatan menggambar benda-benda yang berbahaya ketika tsunami, kegiatan mencari benda-benda yang harus dihindari ketika tsunami di dalam kelas dan menuliskannya di kertas, dan lain sebagainya. Sobat PAUD juga sebaiknya mengajak anak untuk tetap waspada setelah bencana alam reda.

  1. Mengenalkan petugas kebencanaan

Saat terjadi tsunami, anak mungkin saja terpisah dengan keluarga, teman seusia, dan orang yang dikenalinya. Kenalkan anak dengan ciri-ciri petugas kebencanaan, seperti Tim SAR yang berbaju oranye, polisi, atau TNI. Beritahu bahwa mereka selalu siap membantu ketika terjadi tsunami.

Contoh :

  • Guru menjelaskan situasi saat tsunami, “Tadi kalian sudah tahu bahwa saat tsunami, harus pergi menuju tempat evakuasi, Bapak/Ibu Guru akan memastikan semua anak sudah aman, jadi jika belum ada Bapak/Ibu guru sampai, jangan khawatir, ada petugas yang menemani kalian.”

 

 

Penulis : Hammam Izzuddin

Kurator : Dona Paramita

Referensi

Buku Seri Aku Tangguh Bencana : Yang Perlu Dilakukan Saat Tsunami. Ditjen PAUD Kemdikbud. 2019.

Pedoman Pendidikan Kebencanaan di Satuan PAUD. Ditjen PAUD Kemdikbud. 2019

Panduan Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2018

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar