Hindari Sikap Helicopter Parent

Paudpedia – Hai Ayah, Bunda, dan Sobat PAUD, sebagai orang tua, kita tentu mengharapkan memiliki anak yang sukses ketika kelak ia dewasa. Hingga terkadang tanpa disadari, sebagai orang tua melakukan over protective terhadap buah hati atau dalam ilmu psikologi dikenal dengan sebutan Helicopter Parent.

Helicopter parenting merujuk pada gaya pengasuhan orang tua yang terlalu fokus pada buah hatinya, mengambil terlalu banyak tanggung jawab hingga melakukan intervensi terhadap pengalaman anak-anaknya, terutama berkaitan dengan kesuksesan dan kegagalan buah hati di masa yang akan datang.

Baca juga :

Sikap Helicopter parent biasanya terjadi disegala tahapan usia buah hati kita, bahkan sejak usia dini. Ketika anak masih usia balita, orang tua selalu membayangi si kecil, terlalu intervensi ketika mendampingi bermain, mengoreksi semua tingkah laku, bahkan membuat hampir tidak ada waktu untuk si anak sendirian, selektif terhadap pertemanan dan aktivitas anaknya, ikut campur berlebihan terhadap pekerjaan rumah atau proyek sekolah, dan lain sebagainya.

Tahukah Ayah dan Bunda, ketika over protective pada tumbuh kembang anak, terutama ketika mereka tidak terima saat si anak mengalami kegagalan, bisa memberikan efek negatif kepada anak, seperti ;

  • Menurunkan rasa percaya diri.
  • Ketidakmampuan menghadapi masalah.
  • Menghambat ide dan kreatifitas anak.
  • Membuat anak merasa istimewa hingga cenderung arogan.
  • Membuat anak ragu-ragu dan kurang mampu dalam mencoba hal baru, memprediksi, menganalisa dan mengambil keputusan.
  • Sikap gigih dan pantang menyerah tidak terbangun dengan baik.
  • Kurang memiliki life skill.

Lalu, bagaimana menjadi orang tua yang mencintai dan mengasuh anak tanpa merintangi kemampuan mereka belajar life skill yang penting?

Biarkan anak melakukan tugas-tugas yang secara fisik dan mental sudah bisa ia kerjakan sendiri. Biarkan anak-anak berjuang, biarkan mereka mengalami kekecewaan, biarkan mereka mengalami kegagalan sebagai proses tumbuh kembangnya. Bagaimana caranya, berikut beberapa tips untuk menghidari sikap Helicopter Parent :

  • Meredam rasa khawatir yang berlebih. Salah satu alasan utama mengapa orangtua secara sadar atau tidak sadar menerapkan helicopter parentingadalah karena rasa khawatir berlebihan. Kebanyakan orangtua menyesali kegagalan yang mereka buat di masa lalu hingga tidak ingin hal itu terjadi pada anak. Oleh sebab itu, berusahalah meredam rasa khawatir dan coba memberikan kepercayaan kepada anak.
  • Membantu kesulitan anak secukupnya. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyelesaikan suatu persoalan. Jika ia mengalami kegagalan, diskusikan dengan anak tentang apa yang sudah terjadi, dorong anak untuk menganalisa dan menggali kemampuan anak dalam memecahkan masalah yang terjadi berikan motivasi untuk berani mencoba lagi. Percayalah bahwa suatu saat ia kan berhasil dengan menemukan caranya sendiri. Jika orangtua terus menerus membantu anak, ia tidak akan belajar dari kegagalannya dan terus bergantung pada orangtuanya. Jadi, sebaiknya ganti kata 'membantu' dengan 'mengamati dan mendampingi', karena dengan begitu orangtua telah memberikan ruang gerak pada anak tetapi tidak meninggalkannya sendirian saat mengalami kesulitan.
  • Hargai usaha dan keputusan anak. Tumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak dengan menghargai tiap usaha dan keputusan yang ia ambil. Tidak perlu dibantu apalagi dikomentari, orangtua hanya perlu meyakinkan anak untuk terus berusaha menjalani apa yang sudah dipilihnya. Jika pada akhirnya keputusannya salah, jangan menyalahkan, memarahinya atau mengatakan “tuh kan…, apa bunda bilang…” Akan lebih baik jika orangtua menanyakan bagaimana perasaannya, mendiskusikan dengan anak tentang apa yang sudah terjadi dan menyemangatinya untuk berusaha lagi di lain kesempatan.
  • Biarkan anak melakukan sesuatu sendiri. Biarkan buah hati Ayah dan Bunda melakukan sendiri segala hal yang sudah bisa dilakukan pada anak seumurannya, seperti membereskan kamar, mengembalikan mainan pada tempatnya atau membantu Ayah bunda menyiapkan makan malam. Tidak usah khawatir jika hasilnya belum sempurna, Ayah dan Bunda cukup membantu seperlunya, mendampingi dan memotivasi Ananda.

 

 

Penulis : Rio Kencono M.Ak

Kurator : Dona Paramita, S.Psi, M.Pd

Editor   : Ifina Trimuliana, M. Pd

Foto      : Awang

Referensi

  • Hurlock, E. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, edisi 5.
  • DrHaim Ginott. 2003. Between Parent and Child: Revised and Updated: The Bestselling Classic That Revolutionized Parent-Child Communication

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar