Halimatussakdiah : Butuh Komitmen untuk Ciptakan Ilmuwan Kecil

Paudpedia- Dalam hal mengasuh dan menciptakan kebersamaan bersama anak, mungkin orang tua yang keduanya bekerja tidak seberuntung orang tua yang dimana sang istri fokus menjadi ibu rumah tangga. Orang tua yang keduanya bekerja punya keterbatasan waktu dalam menciptakan kebersamaan bersama anak.

Hal itu diakui oleh Halimatussakdiah, seorang ibu dari empat anak di Percut Sei Tuan, Deli Serdang Sumatera Utara. Halimatussakdiah bekerja di sebuah yayasan pendidikan dan juga mengelola sebuah lembaga pendidikan anak usia dini. Suaminya juga bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bahkan di saat pandemi Covid-19 ini. Keduanya mengalami kebingungan dalam hal membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anaknya yang salah satunya di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Bunayya 7 Deli Serdang.

"Saya pulang kerja sore dilanjutkan melakukan pekerjaan di rumah sebagai istri dan ibu empat anak. jadi mendampingi anak belajar hanya ada di malam hari sebelum anak-anak tidur, "katanya dalam Webinar Orang Tua Berbagi : Rumahku Sekolahku, yang digelar Direktorat PAUD beberapa waktu lalu.

Halimatussakdiah mengaku sedih bila melihat orang tua lain punya waktu yang panjang bersama anak-anaknya. Namun, ia dan suami tetap harus punya komitmen dan meyakini punya solusi, bagaimana mewujudkan komitmen itu di tengah keterbatasan waktu.

Ia bersama suami punya komitmen untuk menjadikan anak-anak yang sholeh dan sholehah, mandiri, percaya diri, dan berilmu. "Kami memaknai berilmu itu adalah sebagai kemampuan memecahkan masalah sehingga cepat dapat pekerjaan, atau bahkan menciptakan pekerjaan, "ujarnya.

Dalam upaya mewujudkan komitmen itulah, keduanya mengusung konsep menyiapkan anak sebagai ilmuwan.
"Menyiapkan anak sebagai ilmuwan sejak dini, menurut kami, bukan hal muluk. Ini bisa dilakukan oleh setiap orang tua dengan menggunakan alat dan bahan yang ada di rumah. melalui kegiatan sederhana, bermakna dan menyenangkan, "katanya.

Setiap hari, di pagi hari, sebelum berangkat bekerja, Halimatussakdiah dan suami mengajak anak-anak untuk sholat berjamaah, membaca Al Quran dan makan bersama. Sedangkan d malam hari, sebelum anak-analk tidur, semuanya saling berbagi cerita tentang pengalamannya dalam satu hari tersebut.

"Di hari Minggu, kami punya kebiasaan berkumpul bersama, mengupas pengalaman dalam seminggu, mengidentifikasi masalah, mencari solusinya, dan mengambil hikmahnya. Bila ada hari libur lain, biasanya kami jalan bersama, entah ke tempat wisata atau ke tempat lainnya, "jelasnya.

Baca juga :

Waktu-waktu dimana terjadi kebersamaan itulah yang dimanfaatkan Halimatussakdiah untuk melahirkan sikap ilmuwan dari anak-anaknya. Mereka melakukan hal-hal yang sederhana namun menambah ilmu, mengamati lingkungan sekitarnya, dan mendiskusikannya.

Salah satu hal yang sederhana namun menambah ilmu adalah membuat jus tomat. Selama membuat jus tomat itu, anak diajak belajar tentang bahan-bahan untuk membuat jus, tahapannya, mulai dari menccuci, memotong-motong, memasukkan ke blender, dan menyajikannya. "Kami ajarkan komposisi antara tomat, gula, dan air serta manfaat tomat untuk kesehatan, "paparnya.

Dalam hal mengamati lingkungan sekitar, anak diajak mengenali aneka tumbuhan, jenisnya, bentuk daunnya, dan sebagainya. Juga misalnya mengenali makanan kesukaan kucing, burung, kelinci dan lainnya. Diajak juga anaknya untuk mengamati berbagai jenis batu, manfaatnya, dan sebagainya. "Hal lainnya tentang tong sampah, kami ajarkan manfaat tong sampah dan gunanya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, "katanya.

Ada cerita menarik, setelah mengamati tong sampah, seorang anaknya bercita-cita membuat sampah yang bisa memakan sampah sehingga tidak perlu dibuang kemana-mana. "Saya ajarkan tentang membuat kompos dan manfaatnya, "katanya.

Penulis : Ifina Trimuliana

Editor   : Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar