Orang Tua Milenial Kian Sadar Pentingnya Buku untuk Buah Hati

AnggunPaud- Salah kalau ada yang menganggap bahwa orang tua saat ini lebih mengutamakan memberi gawai pada anak-anaknya yang masih berusia dini dan melupakan pemberian buku.

Orang tua saat ini memang menyadari, bahwa gawai telah menjadi bagian dari keseharian keluarga, termasuk anak-anaknya yang masih berusia dini. Tak heran, anak-anak mereka yang masih berusia di bawah lima tahun sudah mengakrabi gawai tanpa perlu panduan.

Namun, menurut pegiat buku Uli Silalahi, orang tua generasi ini, baik ibu maupun ayahnya, juga sudah mulai untuk tak segan mengedukasi sang buah hati agar kembali ke buku. Alhasil, memberikan buku kepada anak menjadi tren tersendiri di kalangan keluarga muda.

“Ibu-ibu zaman sekarang, yang sebagian besar milenial, sangat paham apa yang harus diberikan kepada anak-anak mereka. Naluri ibu pastinya menyadari bahwa digital things semacam gawai itu sifatnya tambahan, bukan utama,” katanya di Jakarta, beberapa waktu  lalu.

Uli mencermati, orang tua generasi masa kini semakin bijak. Ibu-ibu milenial, kata dia, ingin anak mereka membaca sejak dini. Tentu saja, ini dilakukan dengan kasih sayang. Bukan paksaan.

“Biasanya mereka sudah membacakan buku sejak si kecil masih dalam kandungan. Ibu, juga ayah, akan mengajak calon bayi mereka bicara. Mereka juga menceritakan kisah-kisah yang baik dan mendongeng. Pembiasaannya bahkan jauh sebelum anak lahir,” terangnya. 

Menurut Ratih Ibrahim, psikolog klinis, kebiasan orang tua seperti itu akan membuat anak tidak akan merasa “alergi” bila dihadapkan dengan buku. Tidak ada lagi perasaan takut yang dialami oleh anak.

“Anak yang tidak takut dengan buku akan lebih tidak resisten dengan membaca. Maka, saat diajak membaca, anaknya mau,” tutur founder Personal Growth-Counseling & Development Center itu.

Namun, kata Ratih, bukan berarti orang tua dapat langsung melepas sang anak dengan bukunya. Dalam kegiatan ini, orang tua juga masih memiliki peran penting. Sebab, akan lebih efektif jika orang tua hadir ketika proses literasi ini sedang berlangsung.

“Agar lebih efektif, jangan cuma diberi buku, melainkan dibarengi dengan membacakan. Lalu, saat anaknya sudah bisa membaca ya membaca bareng dengan anaknya,” kata Ratih.

Hal senada diungkapkan oleh psikolog klinis lainnya,  Firman Ramdhani. Menurutnya, akan percuma bila anak hanya diberikan buku tanpa kehadiran orangtua.

“Jadi,  harus terlibat bersama-sama. Terpenting, (buku) harus dibacain untuk anaknya. Sekarang kan banyak buku-buku yang melatih sensoring anak agar kreatif. Nah, di sini peran orangtua mendampingi,” tegasnya.

Menurut Firman, pendampingan orangtua dapat menjadi stimulan. Anak dapat merasa lebih antusias karena berinteraksi langsung dengan orangtuanya.

“Jadi, intinya semakin banyak stimulasi dan interaktif, akan lebih bagus. Lalu, harus ada variabel manusianya juga, seperti orangtuanya,” kata dia, menambahkan.

Pandangan psikolog anak, Anna Surti Ariani, tak jauh berbeda. Ia mengatakan, orang tua memberikan pengaruh besar dalam peningkatan literasi anak. Bagaimanapun anak masih perlu dibimbing.

“Buku itu salah satu hal. Selain buku, proses membaca itu sendiri juga harus ada. Ini berarti bukan buku saja yang penting. Harus ada seseorang yang secara hangat dan menarik membacakan buat anak,” ucapnya.

“Misalnya, bisa sambil bernyanyi atau diajak ngobrol. Harus ada komunikasi interaktif. Ini untuk meningkatkan literasi juga kepada anak. Buku itu memang bagian penting, tetapi kehadiran orangtua juga tidak kalah penting,” tutur Anna. Eko B Harsono

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar