Benarkah Memaksakan Calistung di Usia Dini bisa Berdampak Negatif?

Anggunpaud- Siapa orang tua yang tidak bangga melihat anaknya yang masih berusia 4-5 tahun sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung (calistung)? Mereka rela mengeluarkan uang jutaan untuk memasukkan anaknya yang berusia dini ke lembaga bimbingan belajar agar pandai membaca menulis dan berhitung. Mereka berpendapat, dengan menguasai calistung sedini mungkin, anak-anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang pintar, dan cerdas saat memasuki usia sekolah.

Persepsi-persepsi seperti ini harus kita luruskan secepat mungkin. Memaksakan belajar tanpa mempertimbangkan karakteristik perkembangan dan pembelajaran anak usia dini justru hanya akan membawa dampak negatif sebagaimana berikut ini:

 

Mogok Belajar

Anak belajar melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Anak juga belajar melalui bermain. Dalam bermain itu bisa menjadi pembelajar aktif, dan memungkinkan anak menjadi kreatif. Ketika anak dipaksa belajar calistung, anak akan merasakan tekanan. Penelitian yang dilakukan oleh Wulansucin  mengungkapkan bahwa  memaksakan calistung memiliki peran terhadap terjadinya stress akademik pada anak usia dini. Hal ini dapat menyebabkan anak untuk tidak menyukai belajar di masa yang akan datang. Inilah yang membuat beberapa anak kerap mogok belajar ketika di Sekolah Dasar.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Ferly mengemukakan bahwa anak yang tidak mengikuti les calistung memiliki skor konsentrasi yang secara signifikan lebih tinggi dibanding anak yang mengikuti les calistung. Konsentrasi anak akan meningkat saat anak banyak melakukan aktivitas bermain fisik, permainan konstruktif, dan permainan dengan aturan. Oleh karena itu ketika ingin mengenalkan konsep calistung pada anak sebaiknya dilakukan melalui kegiatan bermain yang menyenangkan.

Contoh Kegiatan Calistung Anak Melalui Permainan

 

 

Menghambat Kreativitas

Anak usia dini merupakan individu yang suka bergerak, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang bereksperimen. Anak  juga memiliki karakteristik suka berimajinasi serta mampu mengekspresikan dirinya melalui bermain sebagai individu yang kreatif.

Jensen seorang ahli neorosains asal California mengemukakan jaringan neural otak anak terbentuk dari coba-coba. Semakin banyak eksperimentasi dan umpan balik akan semakin baik kualitas jaringan neuron. Pendapat ini menegaskan bermain menjadi cara anak untuk belajar, maka dari itu belajar yang sesungguhnya pada anak dapat dilihat dari aktivitas bermainnya.  Jadi ketika anak dipaksa belajar calistung sebenarnya orang tua telah membuat anak kehilangan waktu untuk bermainnya. Anak tidak punya kesempatan lagi untuk bereksplorasi untuk mengasah kreativitasnya. Ifina Trimuliana

 

Referensi

Eric Jensen. (2011). Brain Based Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ferly, I. R. (2016). Perbedaan Kematangan Sekolah Antara Anak Yang Mengikuti Dan Tidak Mengikuti Les Baca , Tulis , Hitung ( Penelitian Pada Siswa Tk Swasta Di Jakarta ). Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan, 7(1), 37–54.

Ghina Wulansuci, E. K. (2019). Pembelajaran Calistung (Membaca, Menulis, Berhitung) Dengan Resiko Terjadinya Stress Akademik Pada Anak Usia Dini. Jurnal Tunas Siliwangi, 5(1).

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar