1'

AnggunPaud - Anak-anak di era masa kini tumbuh dan berkembang tidak lepas dari gawai di kehidupan sehari – hari mereka. Saat masih di era 90-an dimana orang tua yang selalu menjadi panutan, berbeda jauh dengan era masa kini dimana artis idola yang menjadi kiblat anak – anak dalam bergaya dan bergaul.

Saya ingat betul saat saya masih berusia sekolah dasar. Ayah selalu menasehati saya dengan kalimat sederhana dalam bahasa Jawa, “Nek arep nglakokna apa bae, kowe kudu ndeleng githokmu dhewek”. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “ Sebelum melakukan segala sesuatu, lihatlah dari mana kamu berasal. “.

Ayah juga selalu mengingatkan untuk selalu mengedepankan unggah – ungguh dalam bergaul sesuai jati diri kita sebagai orang Jawa. Istilah tersebut sangat kuat tertanam di masyarakat tempo dulu. Dimana mereka masih sangat menjunjung tinggi unggah – ungguh di setiap perbuatan. Masyarakat tempo dulu lebih suka berjalan menunduk saat melewati orang yang lebih tua.

Mereka juga bersikap sama saat berhadapan dengan atasan atau pimpinan mereka. Karena mereka betul – betul memaknai istilah “ngeleng githokmu dhewek”. Sehingga masyarakat jaman dahulu sangat berhati – hati dalam bersikap. Bagi saya, hal yang ayah saya utarakan tersebut sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan Suminto A. Sayuti 1 dalam blog Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau mengungkapkan, “Sebagai bangsa, kita memiliki kosa – dan budaya yang begitu melimpah ruah. Apapun bentuk dan wujudnya, budaya bangsa tersebut merupakan dan menjadi modal, identitas dan benteng dalam tata pergaulan dan tegur sapa global.

Jauh berbeda dengan anak – anak sekarang. Masuknya “adat istiadat asing” melalui gawai tidak akan bisa dihindari. “Adat istiadat asing” memberikan pengaruh besar bagi budaya dan kebiasaan anak – anak saat ini. Mereka lebih senang bersaing dalam ketenaran. Mengikuti arus zaman tanpa filterisasi di dalam diri mereka. Sehingga mereka tumbuh dengan karakter “penuntut”.

Menuntut orang tua mereka untuk selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa mereka mempertimbangkan kemampuan orang tua mereka sendiri. Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua bersikap? Bagaimana agar istilah “ndeleng githokmu dhewek” dapat tertanam dan menjadi salah satu pegangan hidup bagi seorang anak? Sebagai orang tua yang berperan menjadi sekolah pertama bagi seorang anak.

Orang tua bertugas memberi teladan yang baik, mendidik, mengajarkan serta membekali anak dengan “ilmu bermasyarakat”. Orang tua berperan sebagai “alat peraga pendidikan” di dalam rumah yang wajib menanamkan nilai kedisiplinan, empati, rasa syukur, dan lain sebagainya sebagai bekal anak saat mereka dewasa kelak. Salah satu kebiasaan orang Jawa dalam menanamkan nilai -nilai positif tersebut dengan melontarkan istilah “ndeleng githokmu dhewek”.

Istilah tersebut tidak semata “asal” diucapkan oleh orang Jawa. Namun istilah tersebut mengandung salah satu kearifan lokal khas Jawa dari segi bahasa. Istilah “ndeleng githokmu dhewek” memiliki nilai religi, sopan santun, bijaksana, dan orientasi hidup

Pertama, istilah “ndeleng githokmu dhewek” memiliki makna religi yaitu rasa syukur kepada Sang Pencipta. Saya ingat pula wejangan yang dulu sering ayah saya sampaikan. Ayah berpesan, “Boleh mengikuti kemajuan jaman, namun jangan mudah terpengaruh ingin ini ingin itu.” Saya berusaha memegang teguh nasehat ayah saya itu. Saat dulu teman – teman seusia saya sudah memakai handphone berkamera, saya lebih bertahan dengan handphone yang biasa saja.

Kedua, istilah “ndeleng githokmu dhewek” sebagai sarana mengajarkan sopan santun. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa masyarakat Jawa zaman dahulu sangat menjunjung tinggi sikap sopan santun saat bertegur sapa dengan orang yang lebih tua maupun orang yang dituakan. Sopan santun adalah suatu tindakan positif yang menjadi kebiasaan di masyarakat. Sopan santun menjadi tolak ukur di masyarakat untuk menilai seseorang itu baik atau tidak. Sopan santun diwariskan oleh orang tua kepada anak secara turun temurun melalui contoh konkret di dalam lingkup keluarga.

Ayah saya menggunakan istilah “ndeleng githokmu dhewek” sebagai pegangan untuk saya agar saya bisa selalu bersikap sopan dan santun seperti menghormati orang yang lebih tua, menghargai teman sebaya, serta “ngajeni” terhadap siapapun.

Ketiga, istilah “ndeleng githokmu dhewek” alat agar orang tua bisa lebih bijaksana dalam menghadapi anak – anak masa kini. Mudahnya mengakses informasi dari dunia luar melalui gawai, membuat orang tua tidak bisa melarang anak untuk jauh dari gawai. Yang sebaiknya orang tua lakukan adalah bijaksana dalam memberikan gawai pada anak. Seperti yang sedang ayah saya terapkan pada adik laki – laki saya.

Orang tua saya tidak serta merta melarang adik saya menggunakan gawai, namun mereka juga tidak begitu saja membebaskan adik saya memakai gawai. Mereka menerapkan kebiasaan kepada adik saya untuk bebas memakai gawai di hari Sabtu – Minggu saja. Tujuan orang tua saya sederhana yaitu mereka ingin adik saya tetap fokus belajar tetapi dengan tidak melarang adik saya untuk bisa mengikuti arus perkembangan zaman.

Keempat, istilah “ndeleng githokmu dhewek” sebagai orientasi hidup. Istilah tersebut mengandung nilai – nilai kearifan lokal yang selaras dan seirama dengan nilai – nilai di masyarakat saat ini. Istilah ini cocok untuk ditanamkan kembali pada anak – anak di era modernisasi saat ini. Sebagai benteng pertahanan anak – anak dalam pergaulan masa kini. Meskipun jaman kini sudah berubah janganlah sampai merubah nilai – nilai kearifan lokal di masyarakat menjadi rendah. Menjadi anak masa kini yang “kekinian” dan selalu “update” namun janganlah melunturkan budaya darimana kita berasal.

Dengan menanamkan kembali istilah – istilah Jawa yang luhur diharapkan dapat menjadi bekal bagi anak – anak kita dalam menghadapi kemajuan jaman. Setiap daerah pasti memiliki kearifan lokal masing – masing. Khususnya kearifan lokal dari segi pepatah atau istilah yang alangkah baiknya untuk bisa digali kembali. Serta ditanamkan pada anak – anak masa kini tidak hanya dalam lingkup keluarga saja, namun juga di dalam lingkup sekolah. Dengan tujuan membekali anak – anak agar dapat hidup selaras dan seirama dengan modernisasi zaman.*

*Agustina Wulandari Sutoro

sumber gambar : https://www.amazon.com/AMOSTING-Pretend-Kitchen-Plastic-Educational/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar