Ramadhan, Momentum Mendidik Anak Beribadah

      AnggunPaud - Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Hampir semua orang ikut menyambut, baik orang tua, pemuda hingga anak-anak. Di mata anak-anak, Ramadhan adalah momen untuk belajar berpuasa dengan menahan lapar dan haus serta banyak menghabiskan waktu ke masjid. Sebab hampir setiap aktifitas di Ramadhan berpusat di masjid. Mereka belajar bersosialisasi, memahami lebih jauh tentang agama di bulan ini.

    Setiap sore, masjid-masjid biasanya menyemarakkan bulan ini dengan TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an). Mereka asyik masyuk bermain sekaligus belajar Al-quran di desa masing-masing. Mereka pun menyambut waktu jelang berbuka dengan siraman rohani maupun membaca iqro. Senja pun tiba, sembari menanti adzan berbuka anak-anak diajarkan untuk belajar sabar sebelum waktunya tiba membatalkan puasa.

   Ketika ada anak yang tidak sabar dan langsung makan takjil, anak-anak biasanya menyoraki “huu, tidak puasa” sembari tertawa bersama. Di Ramadhan, mereka belajar saling mengingatkan dan belajar melakukan bersama-sama. Mereka belajar untuk saling menjalankan ibadah meski dalam bingkai jamaah. Mungkin di bulan ini, anak-anak tak merasa berat dan malu untuk diingatkan teman-temannya.

    Begitu pun saat mereka shalat kedatangan jamaah di masjid ramai. Maka teman-temannya yang mengingatkan lebih didengar daripada orang dewasa. Di malam hari, anak-anak pun ikut meramaikan Ramadhan. Orang tua biasanya mengizinkan anak-anak mereka tidur di masjid bersama teman-temannya sehingga waktu menjelang sahur, mereka beramai-ramai ikut berkeliling kampung untuk memberi tanda waktu sahur kepada warga kampung.

    Kentongan dan alat musik lain pun jadi media bagi anak-anak ini untuk membangunkan warga. Mereka tertawa dan riang gembira saat beramai-ramai berkeliling di suasana subuh yang masih sunyi. Anak-anak telah belajar sosialisasi di bulan Ramadhan yang dapat menjadi pengetahuan tentang puasa yang melekat. Mereka juga belajar peduli dan memberi manfaat kepada orang lain.

    Melalui puasa sendiri, anak-anak juga belajar makna “lapar”. Mereka belajar menahan tidak makan dan minum, mendidik raga mereka. Meski puasa, mereka dilatih untuk tak malas melaksanakan ibadah. Orang tua perlu mengajak anak-anak untuk menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidak aktif belajar, dan melaksanakan aktifitas seperti biasa.

   Biasanya, orang tua melatih anak mereka untuk puasa setengah hari dulu sebelum puasa sampai sehari penuh. Mereka bisa menunjukkan bagaimana realitas orang-orang saat berpuasa. Ada yang berpuasa, ada pula yang tak malu untuk makan dan minum di saat orang lain puasa. Dengan begitu, anak-anak mengerti dan memahami bahwa ibadah memerlukan keyakinan dan juga rasa patuh dan tunduk pada Allah. Mereka perlu diajari rasa malu, malu karena tidak berpuasa dan belum menjalankan perintah agama dengan baik.

    Di saat subuh maupun tarawih, anak-anak juga belajar mengenai kebersamaan dan jamaah. Selain belajar shalat berjamaah, Ramadhan mendidik anak-anak kita untuk berkumpul, bergerak dan bermain bersama teman mereka. Ba’da subuh misalnya, mereka biasanya keliling kampung untuk jalan sehat. Mereka menikmati udara pagi, mengenali setiap jengkal kampung mereka. Dan ini adalah momen yang jarang mereka lakukan di luar Ramadhan. Ramadhan mendidik anak-anak kita kenal dengan lingkungan terdekat mereka.

    Ramadhan mengajak anak-anak dekat kembali dengan alam. Saat Idul Fitri tiba, anak-anak juga belajar tentang sholat Ied. Mereka juga belajar tentang kebersamaan, silaturahmi, dan juga mengenal sanak saudara mereka usai melaksanakan shalat usai Idul Fitri. Teringat saat kecil, bapak mengenalkan dan mengajak saya main ke tempat orang yang lebih tua, nenek, kakek, bibi dan paman, meski nenek atau buyut itu tak pernah saya tahu sebelumnya. Biasanya mereka jauh dari rumah. Mereka dikenalkan bapak saat Idul Fitri.

    Di saat Lebaran itulah, saya menjadi lebih faham ternyata saudara saya cukup banyak sekali. Tak hanya dari pihak ibu, tapi juga bapak. Amaliah Dan Ilmu Di ramadhan, anak-anak belajar agama dari “ilmu” juga praktik. Setiap sore mereka belajar cerita-cerita nabi, belajar ilmu tentang shalat dan ibadah lainnya. Sedang di siang hari dan pagi hari, mereka mempraktekkan ilmu itu dengan menjalankan shalat maupun puasa. Mereka juga belajar memahami bagaimana dakwah islam secara tak langsung.

    Mereka belajar bahasa kaum dewasa saat mendengarkan kultum bada subuh dan juga bada tarawih. Dengan menyimak dan mendengarkan kultum secara bertahap mereka semakin memahami bahasa dakwah kaum dewasa. Anak-anak juga belajar sodaqoh dan makna berbagi saat ada acara bagi takjil gratis, infaq, dan bakti sosial saat Ramadhan. Anak-anak juga belajar melalui Ayah dan Bunda mereka.

    Biasanya, Ibu atau Ayah menitipkan uang saat menjelang isya’ maupun shalat wajib untuk dimasukkan ke kotak infaq. Dengan menyisihkan sebagian dari harta kita, anak-anak diajak lebih peduli kepada liyan. Di Ramadhan, melalui pembiasaan infak dan sedekah maupun zakat fitrah, anak-anak belajar praktek secara langsung bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai kepedulian kepada sesama.

    Selain itu, di bulan Ramadhan, biasanya banyak pondok pesantren modern memberikan waktu selama sebulan penuh dengan mengadakan pesantren Ramadhan. Mereka, anak-anak diajak belajar dan sinau lebih jauh tentang amalan-amalan wajib maupun sunnah. Kegiatan ini dirangkai khusus untuk anak-anak. Seiring dengan berkembangnya waktu, kegiatan pesantren ramadan pun makin variatif. Ada berbagai program unggulan seperti tahfidz, belajar membaca Al-quran, hingga belajar tafsir.

    Pendidik dan pengajarnya pun makin lama makin modern dan terbuka. Tak hanya dari kalangan pengasuh pondok, tapi juga melibatkan guru dari maupun sukarelawan. Apapun kegiatan belajar ramadan yang digelar, ramadan memberikan ruang yang cukup luas bagi kita untuk mengajak anak-anak kita belajar agama lebih jauh. Mereka (anak-anak) memerlukan pembiasaan, didikan agar menjalani ramadan dengan penuh kebahagiaan dan keseriusan. Meski begitu orang tua juga perlu memahami bahwa mereka masih anak-anak. Kita tak harus mendidik mereka dengan didikan yang keras, apalagi memaksakan kehendak mereka. Misalnya saja anak dipaksa puasa sehari penuh sampai menangis.

    Lebih bijak mengajak mereka secara kolektif. Artinya dengan memotivasi anak-anak kita melalui temannya. Di bulan Ramadhan ini, kita memiliki banyak waktu untuk mendidik anak-anak kita belajar ilmu agama sekaligus mempraktekkannya. Dengan harapan setelah Ramadhan, anak-anak pun bisa lebih menjiwai dan memahami ibadah-ibadah mereka.*

*) Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani! Sehimpun Esai Pendidikan

Sumber gambar : https://www.express.co.uk

Bagikan Artikel Ini

Komentar (2)

  • fatih

    Diluar itu, di bulan Ramadhan, umumnya banyak pondok pesantren moderen memberi waktu sepanjang satu bulan penuh bersama membuat pesantren Ramadhan. Mereka, anak-anak tv online dibawa belajar serta sinau lebih jauh mengenai amalan-amalan harus ataupun sunnah. Pekerjaan ini dirangkai spesial untuk anak-anak. Bersamaan bersama mengembangnya waktu, pekerjaan pesantren ramadan juga semakin variasi. Ada beberapa program favorit seperti tahfidz, belajar membaca Al-quran, sampai belajar tafsir.

    2018-07-24 15:01:00
  • fatih

    anak-anak diajak lebih peduli kepada liyan 

    2018-07-24 10:43:00

Silahkan Login untuk memberi komentar