Kerja Sama Guru PAUD dan Orang Tua

    Anggunpaud -  “Tepuk baris…...” prok prok prok “Dengan rapi…… dengan tertib” Seperti biasanya, setelah membaca doa akhir pembelajaran dan menyanyi lagu sayonara, anak-anak bertepuk baris dengan ceria, kemudian berbaris rapi untuk memberi salam pada ibu guru dan pulang. Saat berbaris inilah biasanya ibu guru membagikan hadiah bintang sebagai penghargaan bagi anak didik yang telah mengikuti pembelajaran hari itu dengan mandiri dan tertib.

    Saat pembagian bintang, saya mendapati seorang anak didik, kita sebut saja Dianti, menangis karena hanya mendapat 2 bintang, sementara Azkia temannya mendapat 3 bintang. Sang guru membujuk dengan menerangkan bahwa besok Dianti bisa medapat 3 bintang juga, namun saat berbaris dan bermain harus bisa mandiri dan tidak ditemani bunda. Penjelasan ibu guru belum membuat Dianti mereda tangisnya. Namun, melihat sang bunda menghampiri dan membujuk anaknya dengan berkata bahwa nanti di rumah akan dibuatkan bintang yang banyak oleh bundanya. Sang bunda  rupanya keberatan dengan metoda ini, karena menurutnya memancing kerewelan anak.

    Ada kalanya guru menemui permasalahan seperti di atas, dimana program pembelajaran yang di lakukan guru kurang sejalan dengan pola didik orang tua. Hal ini tentu saja akan menimbulkan standar ganda bagi anak sehingga nantinya sulit tercapai indikator perkembangan anak. Sebagai contoh, pada kasus di atas, guru menargetkan perkembangan sosial emosional anak, dengan tingkat pencapaian anak bisa tertib, disiplin dan mandiri mengikuti proses pembelajaran salah satunya melalui pembagian reward/penghargaan berupa pemberian bintang.

    Indikator yang diharapkan adalah anak bersemangat untuk berusaha disiplin dan tertib sampai pada menempelkan sendiri bintang yang di dapat. Masalahnya timbul ketika dalam proses pembelajaran, ada orang tua yang belum memahami target dan metoda pengajaran guru, sehingga keberatan jika metoda tersebut dilakukan. Memasuki usia PAUD, lingkungan bagi anak bertambah, tidak hanya keluarga dan masyarakat sekitar rumahnya, namun ada lingkungan baru yaitu sekolah.

    Guru PAUD memiliki peran yang sangat penting, Karena PAUD yang merupakan pendidikan anak pra sekolah dan pengalaman paling awal bagi anak mengenal lingkungan sekolah. Kerja sama antara pihak pengelola PAUD, guru, keluarga, masyarakat menjadi keharusan dan diharapkan menjadi solusi bagi permasalahan yang terjadi. Sebagai pengelola PAUD, ada beberapa beberapa kegiatan yang bisa dilaksanakan diantaranya :

Pertama, pertemuan/rapat berkala orang tua dan guru. Dalam rapat ini, selain dibahas persoalan administrasi, juga di diskusikan perkembangan setiap anak didik melalui dialog langsung antara guru kelas dan orang tua. Perlu juga dikomunikasikan keselarasan program di sekolah dengan kegiatan anak di rumah, sehingga pendidikan karakter anak terbangun selaras antara di rumah dan di sekolah.

Kedua, membagikan buletin rutin bulanan bagi orang tua. Buletin ini berisikan berbagai artikel singkat dan sederhana tentang pendidikan anak usia dini. Diharapkan dengan diawali langkah membaca tentang ilmu pendidikan anak usia dini, orang tua lebih memahami perannya dan menerapkan pola didik yang selaras dengan pola didik guru.

Ketiga, mengadakan seminar bagi orang tua miniamal sekali per 6 bulan. Dengan mengundang pakar di bidang pendidikan anak usia dini. Diharapkan kegiatan ini menjadi media bagi orang tua lebih bisa mencerna teori dan praktek tentang pendidikan anak usia dini.

Keempat, mengadakan rekreasi berkala, untuk membangun komunikasi dan kedekatan antara guru, anak serta orang tua. Dalam kebersamaan yang meriah dan menyenangan, komunikasi yang terjalin diharapkan akan lancar dan kedekatan antara guru, anak dan orang tua terwujud.

Keenam, Pemberian PR (pekerjaan rumah) bagi anak, berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama/di bawah pengawasan orang tua dan ditandatangani oleh orang tua. Misalnya membawa buku cerita dari sekolah dan PR nya adalah mendengarkan cerita dari buku tersebut dengan dibacakan oleh ayah. Atau PR lain misalnya menemani dan membantu ibu mencuci piring setelah makan.

Ketujuh, program buku komunikasi/buku penghubung antara guru dan orang tua, agar komunikasi guru dan orang tua bisa terjalin setiap hari, misalnya jika ada pemberitahuan tentang persoalan anak atau proses pembelajaran.

Kedelapan, pelibatan orang tua dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya mengundang ayah dari tiap-tiap anak didik secara bergilir untuk materi pengenalan profesi atau materi mendongeng.

Tantangan sebagai pendidik dan orang tua tidaklah semakin mudah. Akan tetapi kita tidak boleh menyerah, semakin besar tantangan itu, marilah kita bangun usaha dan kerja sama yang semakin giat. Agar anak-anak kita menjadi anak-anak berkarakter, cerdas dan membanggakan. *

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar