Anak-anak adalah Mahluk Spiritual

      Anggunpaud - Judul artikel Anak-Anak adalah Mahluk Spiritual merupakan kutipan yang diambil dari buku 10 Prinsip Spiritual Parenting (Mizan, 2001) yang ditulis Mimi Doe dan Marsha Walch, Ph.D., dua pakar pengasuhan anak.  Buku tersebut sesungguhnya merupakan thesis besar tentang manusia, karena di kalangan sebagian orang dewasa, spiritualitas masih dianggap sesuatu yang harus dipelajari dan diperjuangkan untuk mendapatkannya. Padahal sejatinya tidak.

     Berikut pokok-pokok pikiran Mimi Doe dan Marsh Walch. Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral, dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung dengan Tuhan, atau apa pun yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita.

     Spiritualitas bukanlah sesuatu yang harus diajarkan kepada seorang anak, karena spiritualitas itu sudah ada di dalam dirinya. Jadi berdasarkan thesis ini, spiritualitas sebetulnya sudah tumbuh sejak anak dilahirkan. Untuk mengembangkannya, orang tua hanyalah dianjurkan untuk juga bertumbuh menjadi manusia yang spiritual.

     Mengasuh anak dengan spiritualitas bukan pekerjaan yang kaku, rumit, dan memerlukan pengetahuan khusus. Tugas ini alami, nyaman, dan dapat diterapkan dalam keluarga sehat mana pun. Orang tua yang penuh pengertian dan kasih sayang adalah orang tua yang spiritual. Ciri-ciri orang tua spiritual; memusatkan tujuan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan, selalu memilih nilai kebenaran di atas segala-galanya, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan karena itu selalu berbuat baik kepada sesama manusia.  

    Salah satu fakta penting yang harus diperhatikan orang tua dalam ikut mengembangkan spiritualitas anak adalah bahwa semua anak memiliki kepekaan berupa  rasa takjub bawaan terhadap realitas sekitar. Kemampuan untuk takjub pada realitas ini salah satu pintu masuk menuju spiritualitas yang penting. Kemampuan inilah yang dimiliki dan selalu diasah oleh para sufi, seniman, saintis, musisi dan lain-lain, sehingga mereka menjadi manusia-manusia besar.

Di Indonesia, gagasan tentang pengasuhan spiritual ini, pernah ditawarkan oleh rohaniwan J.B. Mangunwijaya melalui buku-bukunya antara lain Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak (Gramedia, 1986). Romo Mangun, demikian panggilan akrab beliau, dalam buku ini menggunakan istilah religius. Apakah ada perbedaan antara istilah religius dan spiritual?

Menurut kamus Cambridge International Dictionary of English 1995, religius adalah kata sifat dari religion yang berarti keyakinan dan  peribadatan pada Tuhan (atau dewa-dewa), atau sebuah sistem keyakinan dan peribadatan. Seorang disebut religius bila ia sering pergi ke tempat peribadatan. Sedang spiritual adalah kata sifat yang berarti cara hidup tradisional yang memberikan jaminan ekonomi, atau pemenuhan spiritual. Asal kata spiritual adalah spirit yang berarti sesuatu yang non-materi.

Berarti, jika dilihat dari asal kata, religius lebih mengacu ke sistem peribadatan dan bersifat kuantitatif. Sedang spiritual yang berasal dari kata spirit lebih mengacu ke cara hidup, yang bersifat kualitatif. Secara umum, kedua kata religius dan spiritual sepintas sama. Namun, kalau ditinjau dari asal kata, istilah spiritual lebih tepat dipakai dalam pembahasan masalah ini. *

Nugroho, aktivis pendidikan

gambar diambil dari Google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar