Tujuh Hak Anak, Sudahkah Anda Memenuhinya?

Setiap anak yang lahir secara otomatis memiliki hak-hak mendasar. Ada tujuh hak yang dimiliki anak, artinya ada tujuh kewajiban yang harus diberikan kepada anak, sejak ia lahir.  Ketujuh hak dasar anak itu harus diketahui dan dipahami oleh para orang tua dan para pendidik, tidak terkecuali para pendidik di Pendidikan Anak Usia Dini. Pemahaman tentang hak-hak asasi anak akan memberikan persepektif atau cara pandang yang menyeluruh saat mendidik anak-anak dan dapat memberikan inspirasi pada isi dan metode pembelajaran kepada peserta didik. 

Ketujuh hak anak tersebut meliputi:

Pertama, anak-anak berhak memiliki nama, identitas diri dan status kewarganegaraan. Ketiganya tertuang dalam satu dokomen bernama Akta Kelahiran. Ini penting, karena sangat berkaitan dengan syarat administrasi untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan. Jangan sampai anak-anak jadi terhambat untuk memperoleh kedua layanan tersebut, karena orang tua lalai mengurus Akta Kelahiran. Dalam konteks kenagaraan, ketika seorang anak sudah memiliki Akta Kelahiran, maka kehadirannya telah diakui oleh negara. Ia berhak menyandang status sebagai warga negara.

Kedua, anak-anak berhak untuk hidup. Tidak hanya sekadar hidup tapi hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman serta berhak memperoleh perawatan dan pengasuhan yang baik dan tepat. Hak hidup, adalah hak yang secara langsung diberikan Tuhan kepada manusia. Menunaikan hak ini, sama halnya kita sedang melaksanakan amanah Tuhan. Mengabaikannya berarti kita telah melanggar perintah Tuhan. 

Ketiga, berhak mendapatkan pendidikan. Setiap anak dilekati dengan minat dan bakat masing-masing. Tugas orang tua adalah memfasilitasi keduanya agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Mencapai standar yang sesuai dengan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial.

Keempat, berhak beribadah menurut agamanya. Tiap anak, kedudukannya tidak hanya sebagai makhluk diri dan sosial, tapi juga makhluk Tuhan. Sebagai hamba ia harus diperkenalkan dengan agama dan diberi keluasaan untuk beribadah dan menyembah Tuhan. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan agama sesuai dengan ajaran atau keyakinan yang dianutnya. 

Kelima, berhak mendapatkan perlindungan. Anak-anak tidak hidup dalam ruang hampa udara. Begitu lahir, mereka telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan ini. Artinya kehadiran mereka akan selalu bersentuhan pula dengan kejadian yang tengah berlangsung. Misalnya di bidang politik dan sosial. Untuk itu,  kita harus memastikan mereka saat bersinggungan dengan beragam peristiwa tersebut tidak mengalamai diskriminasi dan ekspolitasi. 

Keenam, mempunyai waktu untuk bermain dan bersantai. Sama halnya dengan kehidupan orang dewasa, anak-anak pun butuh bergaul dan interaksi dengan teman-teman seusianya. Mereka berhak mengekspresikan makna kehadiran dirinya di hadapan teman-temannya. Termasuk mendapatkan hak untuk bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya.

  Ketujuh, berhak mengemukakan pendapatnya. Hal ini tak kalah penting. Upayakan dalam beberapa kesempatan obrolan atau ketika akan memutuskan sesuatu, minta anak-anak untuk mengeluarkan pendapatnya. Hak untuk berpartisipasi ini akan memberikan rasa berani dan kepercayaan diri pada diri mereka.  

Bacaan: Ella Yulaelawati, 2014. Menjadi Orangtua Pintar. Jakarta: Expose.  

 

Penulis : Agus M. Irkham

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar