Program Pendidikan Bagi Anak Perempuan Diapresiasi

Penghargaan diserahkan oleh Utusan Khusus UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk Kemajuan Pendidikan Anak Perempuan dan Perempuan, yang juga Ibu Negara Tiongkok, Peng Liyuan, Senin(6/6), di Balai Agung Rakyat, Lapangan Tiananmen, Beijing, Tiongkok.

UNESCO Prize for Girls’ and Women’s Education diterima oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Kemdikbud Ella Yulaelawati. Selain Indonesia, penerima UNESCO Prize for Girls’ and Women’s Education adalah Evernice Munado, Direktur Female Students Network Trust dari Harare, Zimbabwe. Penerima UNESCO Prize for Girls’ and Women’s Education juga mendapatkan hadiah uang 50.000 dollar Amerika Serikat (Rp 668 juta).

Sejak 2013, Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Kemdikbud melakukan berbagai usaha pengarusutamaan jender. Usaha itu berupa penyiapan buku-buku tentang jender bagi pengajar, membuat buku saku tentang jender, mengalokasikan anggaran berbasis jender, mengimplementasikan program Bunda PAUD; satu desa satu PAUD; PAUD di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar (3T); pelatihan; serta kuliah di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) pengajaran PAUD.

Pendidikan setara

“Kami terus menrus mengusahakan agar pendidikan untuk anak-anak tercukupi. Kami juga endorong terwujudnya kesetaraan jender dalam pendidikan, seperti disampaikan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam Global Summit of Women bahwa laki-laki dan perempuan setara dalam hak, kesempatan, dan alokasi sumber daya,” ucap Peng Liyuan.

Tiongkok telah menyumbangkan dan 10 juta dollar AS kepada UN Women (Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaran Jender dan Pemberdayaan Perempuan) yang ditujukan bagi dukungan implementasi pendidikan terhadap anak perempuan dan perempuan.

Secara terpisah, aktivis United Nations Girls Education Initiative, Caecilia Victorino Soriano, mengungkapkan, 19% perempuan muda di negara-negara berkembang hamil sebelum usia 18 tahun. Sebanyak 22% diantaranya berada di Asia Selatan, sedangkan 8% di Asia Pasifik Timur. Kehamilan dini mengakibatkan mereka putus sekolah dan mendapat stigma dari lingkungan sekitarnya.

“Anak perempuan dan perempuan difabel paling banyak menjadi korban kekerasan, pelecehan seksual, marjinalisasi, penganiayaan, dan eksploitasi. Karena itu, sangat penting membangkitkan kesadaran kesetaraan jender bagi anak perempuan dan perempuan difabel di antara pemangku kepentingan, para peneliti, dan media,” katanya. (Dikutip dari Harian Kompas Edisi Selasa, 7 Juni 2016).

 

Penulis : Dikutip dari Harian Kompas Edisi Selasa, 7 Juni 2016
Kurator : -

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar