Waspadai Kenaikan Prevalensi Stunting Selama Pandemi Covid- 19

Paudpedia-- Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Muhammad Hasbi, mengingatkan seluruh pihak untuk  mewaspadai meningkatnya angka prevalensi anak usia dini menjadi penyandang stunting dan kemungkinan terjadi gizi buruk yang dapat berakibat kematian jika tidak segera diambil tindakan.

"Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini membuat sejumlah layanan kesehatan dan layanan tumbuh kembang anak harus terus ditingkatkan. Sehingga anak terlindungi dari persoalan wasting (kekurusan) dan stunting (gagal tumbuh)," ujar Hasbi dalam webinar Internasional yang diselenggarakan SEAMEO CECCEP dan Direktorat PAUD di Jakarta, Senin (14/9).

Pembicara dalam kegiatan yang dihadiri 1246 peserta dari sejumlah negara itu antara lain;   Claire Heffernan (London International Development Centre); Muhamad Hasbi (Direktur PAUD Kemdikbud); Umi Fahmida (Konsultan SEAMEO RECFON), Hendriyanto, (Sekretaris Dinas Kesehatan Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur). Moderator dalam acara ini Hani Yulindrasari (Universitas Pendidikan Indonesia) dan Irwan Gunawan (SEAMEO CECCEP).

Menurut Hasbi, wasting dan stunting merupakan masalah dunia, terutama di negara miskin dan berkembang. Karena bagaimanapun juga faktor pendidikan, ekonomi dan kebijakan negara memberi pengaruh pada akses ibu dan balita pada sumber pangan bergizi, layanan kesehatan, air bersih dan sanitasi. 

Baca juga :

 

Data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes 2018 menunjukkan bahwa masih ada 29,6% anak Indonesia mengalami stunting, yang sebarannya sebanyak 48,8% adalah keluarga miskin dan 29% adalah dari keluarga kelas menengah dan kaya. Secara nasional masih ada 13 provinsi dengan prevalensi stunting kronis dibawah standar WHO yaitu 20%.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018). Sedangkan untuk balita berstatus normal terjadi peningkatan dari 48,6% (2013) menjadi 57,8% (2018). Adapun sisanya mengalami masalah gizi lain.

"Pemerintahan Presiden Jokowi telah menyusun Strategi Nasional Pencegahan Stunting yang mensinergikan 22 Kementerian dan Lembaga dibawah Presiden guna mengatasi persoalan stunting di Indonesia," kata Hasbi. 

Direktur PAUD juga mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan yang berada dilingkungan satuan pendidikan PAUD untuk terlibat serta mengambil peran untuk bergotong royong mengatasi persoalan stunting yang ada diseputar lembaganya. 

"Saya mengajak semua pihak untuk terlibat dan mengambil peran bersama. Persoalan stunting tidak sekedar masalah kesehatan dan gizi buruk. Tapi yang terbesar adalah persoalan kemanusian yang membutuhkan uluran tangan kita bersama. Jangan lagi berpikiran karena sudah membayar uang sekolah kemudian kita tidak peduli terhadap saudara kita yang lain," ujarnya.

Penulis  : Eko BH

Editor    : Yanuar Jatnika

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar