Direktorat PAUD Berupaya Hindari Potensi Kurangnya Capaian Belajar Saat BDR

PAUDPEDIA-- Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mencari solusi atas model pembelajaran di jenjang PAUD selama masa pandemi Covid-19.

Sebelumnya, sejumlah ahli PAUD mengingatkan rusaknya potensi dan kemampuan belajar anak atau potential learning loss akibat diterapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui belajar dari rumah (BDR).

"Kita terus berupaya mencarikan upaya terbaik sehingga potential learning loss tidak terjadi dan capaian belajar siswa dapat tetap terpenuhi," ujar Direktur Pembinaan PAUD, Muhammad Hasbi, ketika membuka Bimbingan Teknis BOP PAUD Anak Berkebutuhan Khusus dan Bantuan Layanan Khusus di Jakarta, Sabtu (5/9).

Dikatakannya, pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia harus jujur diakui telah merobah seluruh aktivitas pendidikan di dunia. Dari pembelajaran tatap muka menjadi pendidikan jarak jauh dimana Peserta Didik harus Belajar Dari Rumah (BDR). Paradigma baru pembelajaran di dunia tengah berubah termasuk di Indonesia.

Baca juga : Hikmah Pandemi Covid-19 : Mengenal Diri dan Keluarga.

Menurut Hasbi, layanan PAUD pada situasi normal sangat menitik beratkan pada kegiatan tatap muda dengàn interaksi intensif antara guru dengan siswa. Juga antara guru dengan orang tua. Padahal interaksi langsung antara murid dengàn guru PAUD dan juga interaksi siswa PAUD dengan teman di sekolah merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Jangan sampai anak menjadi stress karena kebutuhan berinteraksi tidak terpenuhi.

"Ini yang kemudian disebut sejumlah ahli bagi anak usia dini, justru BDR mendatangkan risiko rusaknya potensi dan kemampuan belajar anak atau potential learning loss," ujar Hasbi.

Keterbatasan orang tua dan guru
Dijelaskan ancaman potential learning loss tersebut ditimbulkan karena keterbatasan orang tua dalam mengajar dari rumah, sementara guru pun masih perlu beradaptasi dalam menyelenggarakan pembelajaran daring. Orang tua memiliki keterbatasan kurangnya kompetensi pedagogik, kurangnya kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), keterbatasan fasilitas, terutama pada keluarga dan menurunnya penghasilan keluarga.

Sementara itu, keterbatasan guru ada pada kerentanan menurunnya kesejahteraan, keterbatasan kompetensi mengelola proses pendidikan jarak jauh, keterbatasan pendidik mengakses fasilitas internet beserta perangkatnya, dan terbatasnya sumber belajar nondaring.

Baca juga :  NADIEM APRESIASI GURU DAN ORANG TUA

Hal ini lebih menjadi perhatian lagi bila menyangkut Anak Berkebutuhan Khusus, dan anak usia PAUD yang berada dikawasan 3T dan komunitas khusus kondisi. Menyadari itu, lanjut Hasbi, pihaknya memberikan afirmasi kepada ABK dan anak-anak yang berada dalam layanan khusus.

Oleh karena itu, Kemendikbud melakukan berbagai langkah dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk jenjang PAUD. Langkah-langkah tersebut ialah menyusun panduan praktis orang tua yang dapat diakses melalui media sosial, membuat mekanisme guru piket PAUD agar orang tua mendapatkan informasi pembelajaran apa yang dilakukan di rumah, serta menghimpun praktik baik pembelajaran yang dapat dilakukan di rumah.

Penulis : Eko BH
Editor : Yanuar Jatnika

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar