Selama BDR, Orang Tua Harus Siap Beradaptasi

Paudpedia-Bisakah Anda bayangkan, ketika sepasang suami istri terbiasa bekerja dan menyerahkan urusan pendidikan ke sekolah, tiba-tiba keduanya harus bekerja di rumah dan sekaligus mendampingi anak belajar di rumah?

Pastinya kesulitan membagi waktu dan bagaimana membimbing anak belajar. “Adaptasinya cukup berat, “kata Adhita Dyah Anggraeni, seorang ibu dari dua putra, asal Jogja.

Adhita adalah orang tua dari seorang siswa PAUD Fastrack Funschool, Jogjakarta. Sekolah ini didirikan oleh Alissa Wahid, putri sulung almarhum KH. Abdurrachman Wahid, Presiden RI ke-4. PAUD ini memiliki misi mempersiapkan anak didik menjadi warga negara global yang memiliki karakter dan siap menghadapi tantangan internasional.

Adhita mengakui, ketika kebijakan belajar dari rumah (BDR) digulirkan pemerintah, ia sudah membayangkan pembelajaran secara online. Masalahnya, kebijakan BDR ini dipastikan harus menggunakan gawai sebagai sarana belajar. Artinya, anak didik akan menggunakan gawai lebih sering daripada biasanya. “Inilah kekhawatiran saya dan suami, padahal di saat normal, anak saya sebetulnya sudah juga memanfaatkan gawai pada saat-saat teetentu dan tentunya kami dampingi, “katanya dalam Webinar Kelas Orang Tua Berbagi: Rumahku sekolahku Episode 5 dengan tema “Pemanfaatan Gawai oleh Orang Tua Untuk Mendukung Anak Usia Dini saat BDR”, Sabtu, 1 Agustus 2020 kemarin.

Menghadapi BDR, Adhita dan suami harus siap dengan konsekuensinya, seperti ketersediaan gawai yang memadai beserta akses internetnya.  Beberapa kendala pun dihadapi Adhita, seperti jadwal keseharian anak yang harus diatur kembali, mood dan fokus anak yang terganggu oleh suasana di rumah.

“Saya dan suami lantas berdiskusi untuk menyepakati screen time anak, pembagian waktu bekerja orang tua dengan mendampingi anak, mempersiapkan mental anak dan sebagainya, “kata Adhita.

Diakui Adhita, di hari-hari pertama BDR, ia sempat bingung, tak tahu harus bagaimana, pusing, tidur tidak nyenyak, gampang emosi, cemas, dan bingung. Namun seiring dengan berjalannpya waktu, Adhita lantas menyadari, bahwa ada hikmah dibalik pandemi Covid-19 ini. “Ini saatnya saya mengambil tanggungjawab sepenuhnya sebagai orang tua yang selama ini saya serahkan ke sekolah, “katanya.

Lantas Adhita melakukan langkah-langkah:

  1. Berdiskusi dengan sekolah untuk mengatasi berbagai kendala. Salah satunya, mengatasi kebosanan anak karena belajar di rumah
  2. Mempelajari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yang diberikan sekolah. Melalui RPPH, Adhita mengetahui tujuan belajar yang dapat dijadikan pedoman untuk memberi bimbingan pada anaknya
  3. Walaupun BDR, Adhita tetap menerapkan jadwal harian seperti biasa, seperti bangun tidur, mandi, sarapan, anak memakai seragam dan bahkan mempersiapkan sepeda, padahal sebenarnya tidak pernah naik sepeda ke sekolah. Bahkan, sesekali, ia mengajak anaknya untuk sekedar lewat sekolahnya. “Ini semua dilakukan agar anak tetap semangat untuk belajar walaupun kenyataannya tidak pergi ke sekolah, “kata Adhita.

Namun, walau bagaimanapun, Adhita menyadari berbagai keterbatasan untuk membimbing anaknya. Karena itu, ia menurunkan ekspetasinya terhadap proses belajar yang ideal. Ia pun bersama suami dan guru terus mencari bentuk, dan metode belajar di rumah yang pas untuk anak, yang kreatif dan menarik. Salah satunya, pemanafaatan gawai semaksimal dan setepat mungkin.

“Namun, dalam pemanfaatan gawai ini, orang tua harus konsisten dengan jadwal screen time. Waktunya anak main gawai untuk game, orang tua harus ikuti. Sebaliknya, saat gawai untuk belajar, anak ditegaskan untuk mematuhinya, “jelasnya.

Agar mood anak untuk belajar tetap terjaga, Adhita menyiapkan salah satu ruangan semirip mungkin dengan suasana di PAUD.

“Salah satu hikmah pandemi Covid-19 ini, orang tua harus terjun langsung mendampingi anak, dan merancang bagaimana caranya memanfaatkan gawai  yang tadinya banyak stigma negatif ke arah yang lebih positif, “katanya.

Salah satu pemanfaatan gawai, tambah Adhita, adalah menjadi sarana untuk mencari jenis keterampilan hidup, seperti berkebun, beternak, mempelajari tumbuhan, dan sebagainya.

“Kita manfaatkan gawai untuk membuka peluang anak bereksplorasi, “katanya. Yanuar Jatnika

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar