Tips Membangun Keterampilan sosial pada Anak

AnggunPAUD—Sobat PAUD keterampilan sosial dipelajari sejak usia dini dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan ini dapat berkontribusi pada keberhasilan sosial dan akademik anak di sekolah seiring bertambahnya usia mereka. Lalu apakah yang disebut dengan keterampilan sosial tersebut?

Keterampilan sosial merupakan dimensi perkembangan sosial yang paling nyata dan dapat diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan ini berhubungan dengan orang lain atau pihak lain yang memerlukan sosialisasi dan dapat diterima dengan baik oleh orang lain.

Pengembangan keterampilan sosial anak dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga proses

Pertama, pada  langkah pengenalan , seorang anak harus dikenalkan dipahamkan dan dibangun rasa empati dan keterampilan sosial seperti rasa tanggung jawab, rasa saling menghargai, toleransi, antri atau menunggu giliran dan berlaku adil, sehingga anak dapat menentukan keterampilan sosial yang sesuai dengan kebutuhan lingkungannya.

Kedua, memutuskan, setelah anak mampu mengenali anak dapat memutuskan apa yang harus ia lakukan, misalnya anak dapat memutuskan bahwa ia harus membantu temannya yang sedang mengalami kesulitan,  bertanggung jawab terhadap diri sendiri ataupun orang lain dan bekerja sama untuk menyelesaikan suatu proyek.

Ketiga, seorang anak harus  bertindak, setelah memutuskan, anak akan bertindak melakukan sesuatu yang sesuai untuk situasi pada saat itu.

Misalnya:

  • Anak segera membantu temannya yang yang sedang merapikan buku
  • Bertanggung jawab terhadap diri sendiri, contohnya selesai makan anak membersihkan sisa makanannya dan membuang ke tempat sampah yang sudah disediakan oleh guru.
  • Anak saling menghargai perbedaan agama dengan temannya, hal ini terlihat ketika anak saling menghargai cara berdoa dan beribadah berdasarkan keprcayaan masing-masing.
  • Anak sabar menunggu giliran atau antri.

 

Adapun peran guru untuk mengembangkan ketemapilan ini yaitu sebagai berikut:

  1. Guru harus mampu mendorong dan membimbing anak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya di ruang kelas dan menjadi teman bermain untuk meningkatkanketerampilan sosial ini. Misalnya guru dapat mengajak anak bermain kelompok agar interaksi anak terbangun dengan baik.
  2. Guru juga perlu membangun dan mempertahan interaksi yang positif dengan anak
  3. Keterampilan ini tidak selalu datang secara alami kepada semua orang. Terkadang anak-anak perlu dibimbing, diinformasikan, atau diarahkan tentang keterampilan ini.  Misalnya, guru dapat membimbing anak untuk membiasakan meminta maaf ketika berbuat salah.

Ada banyak cara guru yang dapat membantu anak-anak mempelajari keterampilan yang diperlukan untuk bertindak secara pro-sosial. Menurut Asosiasi Nasional untuk Pendidikan Anak Kecil (NAEYC), ruang kelas adalah tempat yang tepat untuk belajar tentang hubungan manusia. Berikut adalah beberapa yang dapat dilakukan guru untuk  membentuk keterampilan sosial anak adalah:

  1. Bermain kelompok - Untuk membantu anak-anak membangun dan terbiasa dalam berperilaku pro-sosial apa pun, mereka perlu terlibat dalam permainan aktif bersama anak-anak lain. Berbagi, toleransi, membuat kesepakatan, bergiliran dan membantu sering digunakan selama bermain kelompok karena satu anak mungkin ingin bermain dengan mainan yang dimiliki anak lain, atau anak lain mungkin memerlukan bantuan dengan sesuatu dan anak lain dapat membantu. Maka guru hendaknya mampu mendorong anak-anak untuk terbiasa berperilaku prososial akan menjadikan mereka menjadi orang dewasa yang memiliki rasa empati, murah hati dan terbuka untuk menerima bantuan ketika dibutuhkan.
  2. Menjadi Model Bagi Anak -Menurut Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura, individu belajar keterampilan sosial dengan mengamati orang-orang di sekitar mereka. Model yang paling langsung untuk anak-anak adalah orang tua, guru dan teman sebaya, dan. Karena itu, orang tua dan guru harus mencontohkan keterampilan yang ingin mereka lihat pada anak-anak mereka. Guru adalah idola bagi anak. Anak-anak selalu memperhatikan gurunya. Perilaku dan ucapan guru ditiru anak baik di sekolah dan di luar sekolah. Begitu juga dengan perilaku orang tua di rumah.
  3. Melakukan pengondisan lingkungan-Skiner yang mengemukakan bahwa lingkungan memberikan peranan penting dalam membentuk keterampilan anak yang disebut dengan pengondisian operant konditioning. Salah satu prinsip pengondisian ini yaitu dengan memberikan penguatan dan pelemahan terhadap kemunculan keterampilan tersebut. Jadi berdasarkan pendapat ini guru merupakan berperan penting dalam memberikan penguatan atau pelemahan terhadap kemunculan keterampilan pada anak. Berikan pujian, pelukan dan hadiah yang bermakna diiringi dengan kalimat yang menjelaskan perilaku prososial yang muncul pada anak. Misalnya, “Wah hebat sekali, ibu bangga hari ini Hira sudah berbagi mainan dengan Karel.” Ifina Trimuliana

Referensi

Morisson. (2016). Pendidkan Anak Usia Dini Saat Ini. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Santrock, J. W. (2015). Life Span Development. New York: McGraw: Hill Education.

Philipsen, L. C., Bridges, S. K., McLemore, T. G., G & Saponaro , L. A (2009). Perceptions of sosial behavior and peer acceptance in kindergarten . Journal of research in early childhoodeducation, 14(1),68-77. https:doi.org/10.1080/02568549909594753

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar