Mengenalkan Anak Usia Dini pada Konsep Pengukuran

Anggunpaud—Seorang guru PAUD meminta anak-anak didiknya untuk mengukur panjang tiga kubus dan meletakkannya secara berurutan mulai dari terpanjang sampai yang terpendek. Ternyata, sang guru mengamati,  anak-anak terlihat tidak yakin apa yang harus mereka lakukan. Mereka belum paham, bagaimana membandingkan benda yang satu dengan yang lainnya.

Disinilah pentingnya anak usia dini mulai diperkenalkan konsep pengukuran, yakni kemampuan untuk membandingkan sesuatu yang diukur misalnya panjang kubus dengan menggunakan alat yang digunakan sebagai acuan atau patokan, misalnya menggunakan jengkal.

Konsep pengukuran  merupakan bagian dari konsep matematika yang harus dikembangkan pada Anak Usia Dini. Untuk mengembangkan kemampuan pengukuran berikut ini adalah tips yang dapat dilakukan oleh oang tua dan guru:

  1. Menciptakan permainan yang menyenangkan

Pembelajaran akan lebih bermakna apabila dilakukan melalui bermain, karena pada prinsipnya pembelajaran anak usia dini yaitu melalui bermain. Oleh karena itu untuk mengenalkan konsep pengukuran guru dan orang tua perlu menciptakan permainan. Adapun contoh permainan sederhana yang dapat dilakukan yaitu:

  • Mengukur panjang buku menggunakan jengkal tangan anak-anak. Anak bisa membandingkan berapa jengkal buku miliknya dan berapa jengkal buku milik temannya.
  • Mengukur luas meja menggunakan pensil. Guru menanyakan pada anak-anak berapa kali panjang pensil pada luas meja tersebut.
  • Mengumpulkan berbagai benda yang berdiri tegak (misalnya, botol air, lilin, kaleng). Mintalah anak memilih salah satu benda tersebut, dan kemudian gunakan benda tersebut untuk membangun sebuah menara yang lebih pendek dan lebih tinggi, dan sebuah menara yang memiliki tinggi yang sama. Terakhir minta anak menghitung dan membandingkan jumlah benda yang digunakan untuk membangun  menara tersebut.

 

  1. Gunakan pertanyaan yang mendorong anak untuk melakukan pengukuran

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dan orang tua juga dapat membantu mengembangkan kemampuan konsep pengukuran anak. misalnya menggunakan pertanyaan yang di awali dengan kata “berapa”. Contoh menanyakan berapa banyak suatu benda dan benda mana yang lebih besar dan kecil.

 

  1. Berikan kesempatan pada anak melakukan eksplorasi

Untuk mengembangkan pemahaman konsep pengukuran ini, anak-anak perlu banyak kesempatan untuk mengeksplorasi suatu objek dan atributnya. Kemudian pengalaman eksplorasi ini perlu juga didiskusikan dengan orang lain agar anak dapat mengenal bahasa pengukuran yang tepat sesuai istilah seperti besar, berat, tinggi dan sebagainya.

Misalnya: ketika anak main pasir, orang tua dapat menanyakan pada anak berapa box pasir yang diambil atau dipindahkan selama bermain. Begitupun permainan lainnya seperti main balok, tanyakan pada anak berapa banyak balok yang digunakan untuk membangun rumah dan ruangan mana yang lebih luas diantara bangunan tersebut.

  1. Guru dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan pengukuran melalui kegiatan sehari-hari.

Artinya anak juga dapat memanfaatkan secara alami peluang yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan pengukuran. Guru bisa mengarahkan perhatian anak pada ukuran objek tertentu. Misalnya meletakkan sepatu sesuai ukuran pada rak sepatu. sepatu yang lebih besar diletakkan di sebelah kanan dan sepatu yang lebih kecil di letakkan di sebelah kiri.

 

Dengan demikian dapat pahami bahwa Anak Usia Dini mengembangkan dan menerapkan pemahaman tentang pengukuran melalui kegiatan sehari-hari. Anak memerlukan pengalaman langsung dalam mengukur benda-benda yang ada disekitarnya. Ketika anak mempunyai kesempatan untuk mengukur, menimbang, dan membandingkan ukuran benda-benda, maka mereka telah belajar mengenai konsep-konsep pengukuran.

Pengukuran dapat dikenalkan pada anak usia dini dimulai dari ukuran non standar menuju ukuran standar, Untuk memulai hal tersebut mereka dapat menggunakan alat pengukuran non-standar seperti tangan dan jari untuk memperkirakan panjang balok atau kotak. Setelah anak mahir, maka guru dapat memperkenalkan ukuran standar seperti mistar/penggaris dan meteran.

Mereka juga mulai mengembangkan kosakata tentang pengukuran dan perbandingan, menggunakan istilah-istilah seperti lebih panjang, lebih pendek, lebih tinggi, lebih besar, lebih kecil, lebih luas, lebih berat, dan lebih ringan. Mereka bahkan mulai mempelajari satuan waktu seperti mereka menyebutkan "dua menit lagi!"walaupun mereka belum paham konsep menit, tetapi mereka tahu bahwa semakin banyak menit yang disebutkan maka semakin lama mereka menginginkan penundaan waktu. 

Dengan membangun kemampuan pengukuran ini anak mampu memahami bahwa objek dapat diukur dengan cara yang berbeda, tergantung pada atribut yang diminati. Misalnya, pada awalnya mereka mungkin mempertimbangkan berat dan ukuran saat memutuskan siapa yang memiliki buah-buahan “terbesar”. Namun jika ditanya dengan pertanyaan buah mana yang lebih berat ?, mereka memahami bahwa berat adalah ukuran terbaik untuk membuat perbandingan itu, begitupun jika ditanya buah mana yang lebih besar, maka mereka akan memilih buah ukurannya lebih luas. Ifina Trimuliana

 

Referensi

https://dreme.stanford.edu/news/measuring-measurement-preschool-classroom

https://nzmaths.co.nz/measurement-early-learning-progression

http://www.eclearningil.org/sites/default/files/hero-resources/microteach_length_5-24-16.pdf

http://kteachertiff.com/2015/03/kindergarten-measurement-activities.html

http://eworkshop.on.ca/edu/resources/guides/Measurement_K-3.pdf

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar