Tangkal Bosan di Rumah Lewat Mendongeng

Mendongeng bisa menjadi sarana menyampaikan informasi, pengetahuan, atau penjelasan yang baik bagi anak-anak. Selain mengisi waktu luang, kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara anak dan orangtua.

Co-founder Ayo Dongeng Indonesia Ariyo Zidni meyakini, setiap orang pada dasarnya menyukai cerita dan dapat menceritakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Namun, dalam konteks ini, mendongeng harus disesuaikan dengan bahasa anak. Sederhana dan langsung dimengerti.

Ariyo menyarankan, agar orangtua meminimalisasi penggunaan istilah-istilah seperti lockdown, work from home, dan physical distancing terkait COVID-19 yang sekarang beredar. Ubah kata-kata tersebut dengan bahasa atau istilah yang dimengerti anak.

"Narasi yang dikembangkan pun harus positif dan mudah dipahami. Seperti memberi cerita tentang ada wabah penyakit dan belum ada obatnya, hingga cara agar tidak tertular, harus sehat, cuci tangan, dan membersihkan diri. Kemudian jaga jarak sama orang lain dengan tetap berada di rumah," ujarnya di Jakarta.

Hal menyenangkan, kata dia, membuat anak-anak lebih mudah menyimak. Meskipun belum tahu kebutuhannya, mereka akan tertarik untuk melihat atau mendengarkan sesuatu yang dianggap seru.

"Semua kejadian yang ada sekarang dapat kita terjemahkan melalui cerita, sehingga mereka dapat dengan mudah memahami situasi yang sedang terjadi," kata dia, menjelaskan.

Misalnya, imbauan pembatasan gerak atau physical distancing yang sedang terjadi. Penjelasan terkait kejadian ini dapat diceritakan kembali melalui dongeng. Dengan pemilihan bahasa anak akan lebih mudah mencerna dan memahami maksud dari pesan tersebut.

Berbagi Cerita

Mendongeng. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, terutama orangtua. Sebab, mereka (orangtua) dapat mendongeng secara alami dan mudah diterima anak-anaknya.

"Lakukan saja mendongeng sebagai orangtua. Jangan takut dinilai karena anak-anak tidak pernah menilai dan membandingkan. Yang perlu diingat saat mendongeng adalah bercerita, bukan berceramah," ujarnya.

Seni bercerita atau mendongeng bisa bermacam-macam bentuk sesuai sasarannya. Pertama, orangtua dapat memilih cerita mulai dari yang disukai-yang memungkinkan anak juga menyukainya.

Kedua, cerita yang mudah dikuasai. "Jadi, kalau mau bercerita jangan dihafalkan. Namun, cerita yang mudah dicari inti dari pembahasannya."

Ketiga, memilih cerita yang mungkin sekarang dibutuhkan. Seperti kebutuhan bersih-bersih untuk mengurangi risiko tertular virus dan sebagainya.

Terakhir, kegiatan mendongeng. Sebenarnya, kata Ariyo, orangtua dapat memulai mendongeng dengan cara apa pun. Jadi, jangan takut untuk mencoba bercerita kepada anak.

Luangkan Waktu

Ariyo mengingatkan, orangtua dapat menetapkan waktu yang tepat untuk mendongeng ketika kedua pihak siap, baik pendongeng ataupun pendengar (anak-anak).

"Jangan mencari waktu luang, tetapi meluangkan waktu. Proses mendongeng juga jangan terlalu lama, cukup 10-15 menit."

Selain itu, kata dia, pada dasarnya semua orang itu senang mendengarkan cerita. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Metodenya saja yang berbeda.

Ia menjelaskan, "Sebelum mendongeng, sesuaikan cerita dengan usia anak. Misalnya, masih TK biasanya menyukai hewan, maka dapat menggunakan alat bantu atau menggunakan tema hewan untuk bercerita."

Eko

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar