Setiap Anak Punya Potensi

Anak lahir dengan membawa potensi masing-masing dengan kapasitas 1000 Triliun neuron yang tersimpan dalam otaknya. Sel otak ini adalah sebagai bekal potensi di masa yang akan datang. Plato mengatakan bahwa sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan anak untuk menjadi cerdas. Jadi pendapat ini menegaskan bahwa setiap anak pada dasarnya adalah cerdas dan menjadi tanggung jawab kita untuk mengenali dan mengembangkan potensi tersebut. Ibarat benih padi yang subur jika ditanam di sawah yang gersang maka benih tersebut tetap akan layu. Begitu halnya dengan potensi anak, jika tidak distimulasi dengan baik maka hanya akan sia-sia.

Potensi masing-masing anak tidaklah sama, maka setiap orang tua harus mengetahui perihal ini, sehingga tidak ada lagi yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak tetangga yang misalnya selalu mendapat juara kelas. Sebagai orang tua mestinya tidak perlu merasa iri dengan kemampuan anak orang lain, karena anak kita juga punya potensi hebat bahkan melebihi potensi mereka. Hanya saja mungkin kita belum mengenalinya di mana potensinya. Perlu disadari bahwa anak yang hebat bukan hanya anak yang selalu menjadapat juara kelas. “Anak yang hebat bukan hanya tentang potensi akademik. Bisa jadi potensi anak kita ada dibidang ekstrakurikuler, missal jadi pelukis, pemain sepak bola, dll”. Jangan sampai karena kita terlalu berambisius untuk seseuatu yang bukan potensi anak kita, kita malah menyia-nyiakan potensi emas yang dimilikinya. Akibatnya apa? Anak belum tentu mampu meraih juara kelas seperti yang kita inginkan karena memang itu bukan potensinya, tapi ia juga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan melukisnya.

Gardner dalam (Morisson, 2016) mengemukakan tentang kecerdasan jamak (multi-intelegnsi) sebagai berkut:

  1. Kecerdasan visual/spasial adalah belajar secara visual dan mengorganisasikan ide-ide secara spasial.
  2. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu mengungkapkannya melalui kata-kata seperti berbicara, membaca atau menulis.
  3. Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, serta pola pemikiran logis dan ilmiah.
  4. Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan musik, irama, nada dan suara.
  5. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggabungkan gerakan fisik dan pikiran sehingga menghasilkan gerakan yang sempurna.
  6. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain.
  7. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
  8. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengerti alam lingkungan dengan baik, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan mengenali berbagai jenis flora fauna dan fenomena alam lainnya.
  9. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk merasakan keberagaman atau macam-macam seseorang.

Agar kita tidak menyia-nyiakan kecerdasan yang menjadi potensi emas anak kita, berikut adalah tips yang dapat dilakukan oleh orang tua:

  1. Berikan Kesempatan Pada Anak untuk Mengeksplorasi potensinya

Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi potensinya sangatlah penting untuk dilakukan. Dengan ini anak dapat mengasah segala potensi yang ia miliki. Potensi ini biasanya terlihat dari minat dan ketertarikan anak dalam melalukan sesuatu. Maka sebagai orang tua apabila melihat anak menyenangi suatu aktivitas, maka besar kemungkinan potensi anak ada dibidang itu. Berikanlah ruang agar ia dapat mengembangkannya dan jangan paksa untuk melakukan sesuatu yang tidak ia senangi.

  1. Berikan Fasilitas yang Memadai

Fasilitas yang memadai merupakan salah satu actor penunjang potensi anak. ketika anak menyukai melukis, maka sediakanlah alat bahan yang dibutuhkan untuk melukis, bahkan kalau perlu hadirkanlah guru privat yang bisa membantu mengasah potensinya tersebut.

  1. Berikan Dukungan/Motivasi

Motivasi orang tua sangatlah berarti bagi anak. Dengan dukungan orang tua dapat menambah semangat anak untuk berusaha lebih keras lagi, apalagi ketika orang tua  memberikan pujian pada anak. Hal ini dapat membantu anak untuk percaya diri terhadap kemampuannya.

Referensi

Morisson. (2016). Pendidkan Anak Usia Dini Saat Ini. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Ilustrasi gambar: http://freepik.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • nastahh

    2020-07-30 04:59:00

Silahkan Login untuk memberi komentar