Mencermati Nilai Edukatif Tembang Lepetan

AnggunPaud -  Saya tidak begitu paham lebih dulu manakah antara tembang Lepetan dan permainan Lepetan. Apakah kerena ada permainan Lepetan kemudian diciptakan tembangnya atau sebaliknya? Tidak tahu, yang jelas keduanya saling mengisi dan sulit dipisahkan. Lepas dari masalah mana yang ada lebih dahulu, yang pasti ada hal yang menarik dari tembang dan permainan Lepetan tersebut.

Setidaknya ada dua hal yang bisa dikaji lebih dalam. Menyorot dari tembangnya yang berupa lirik/syair tampaknya sangat menarik. Namun menyorot dari bentuk permainannya juga tak kalah menarik. Akhirnya saya putuskan untuk mengkaji keduanya. Baik gerakan permainannya maupun isi syair atau liriknya.

Sebelum membahas lebih jauh saya kenalkan dulu tembang dan permainan Lepetan. Lepetan berasal dari kata lepet yang artinya ketupat. Tembang ini disenandungkan bersamaan dengan gerakan permainan di mana sejumlah anak dalam kelompok saling berurutan bergandeng tangan dan secara bergiliran memasuki lingkaran yang dibentuk oleh anak yang terdepan sebagai pangkal. Mereka terus bergerak dari ujung kemudian membuat simpul. Sepintas ketika kita perhatikan, simpul yang mereka bentuk lewat gerakan, seperti simpul saat membuat ketupat.

Barangkali karena itulah maka permainan tersebut disebut lepetan? Berikut lirik lagunya yang dilengkapi translate dalam bahasa Indonesia; Lepetan lepetan angudhari (Ketupat lepet ketupat lepet melepas simpul) anguculi janur kuning aningseti (melepas simpul janur kuning yang tersimpul) seti bali lunga dandan ( pulang pergi berhias) methika kembang sikatan ( petiklah bunga sikatan) Lepetan, lepetan angudhari (Ketupat lepet ketupat lepet melepas simpul) anguculi janur kuning aningseti(melepas simpul janur kuning yang tersimpul) seti bali lunga dandan (pulang pergi berhias) methika kembang sikatan(petiklah bunga sikatan) nyoh sego, nyoh sego ( ini nasi, ini nasi) nyoh sego nyoh cethinge ( ini nasi ini bakulnya) nyoh lawuh nyoh lawuh ( ini lauk ini lauk) nyoh lawuh nyoh wadhsahe (ini lauk ini wadahnya) nyoh sambel nyoh sambel (ini sambal ini sambal) nyoh sambel nyoh coweke (ini sambal ini cirinya) Lho kowe kok dibanda (kenapa kamu diborgol) njupuk apa? Njupuk krikil ( mencuri apa? Mengmbil kerikil) Ndi krikile? wis tak edol (Mana kerikilnya? Sudah aku jual) Ndi duwite? tak nggo tuku beras (Mana uangnya? Aku belikan beras) Ndi berase? wis tak liwet (Mana berasnya? Sudah aku tanak) Ndi segane? wis tak maem (Mana nasinya? Sudah aku makan) Kowe ra mau wis tak kek’i maem,( Bukannya tadi kamu sudah aku kasih makan?) lha yen ngono kowe kayak buta (Kalau begitu kamu seperti raksasa).

Lagu yang terdiri dari satu kuplet dan berisi 5 bait tersebut biasa dinyanyikan anak-anak perempuan desa di masyarakat Jawa. Sambil bernyanyi mereka melakukan permainan yang begitu unik. Anak-anak berbaris dan bergandengan tangan. Anak yang berada paling depan kemudian mencari pohon atau tiang apa saja dan meletakkan salah satu tangannya di batang tersebut sebagai terowongan.

Selanjutnya anak yang paling belakang atau ujung memasuki terowongan tersebut dan diikuti anak-anak lainnya dengan tetap menggandengkan tangannya hingga terjalinlah semacam simpul. Setelah semua berjalinan dengan posisi tangan di depan dan menyilang terkait satu dengan lainnya, anak yang berada di paling ujung melepaskan diri. Dengan berlagak menjadi seorang penjual ia membawa bakul dan mulai membagi-bagikan sesuatu.

Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah sesuatu yang sesuai dengan isi liriknya yakni; nasi, lauk, dan sambal. Pemeran ini mulai beraksi memeragakan orang yang tengah membagi-bagikan makanan secara antri kepada teman-temannya seraya diiringi tembang tersebut. Begitulah hal itu dilakukan untuk memeragakan tembang Lepetan.

Dengan memerhatikan dan mengkaji isi lagu yang ditunjukkan oleh syair/ liriknya dapat kita analisis sebagai berikut. Tembang tersebut sangat sederhana namun kandungan maknanya sangat tinggi. Tembang tersebut benar-benar memiliki nilai edukatif yang sangat bermanfaat bagi pendidikan anak-anak dan orangtua. Hal itu bisa dilihat secara ekplisit maupun implisit. Beberapa nilai edukasi yang dapat kita ambil dari lagu tersebut di antaranya;

Pertama, nilai sosial yang tinggi. Lagu ini berisi amanat untuk membentuk jiwa sosial yang tinggi. Nilai sosial ini tergambar pada sebait liriknya di bait ke tiga. Nyah sega, nyah sega, nyah sega, nyah cethinge. Nyah lawuh, nyah lawuh, nyah lawuh nyah wadhahe, nyah sambel,nyah sambel,nyah sambel, nyah coweke. Lirik itu menceritakan tentang kegiatan memberi atau berderma. Memberikan nasi, lauk, sambal, bahkan ia juga memberikan wadahnya pula. Secara implisit lagu ini memberikan amanat dan ajaran kepada anak-anak agar mereka menjadi anak dermawan, suka memberi, dan tidak pelit. Sikap-sikap sosial yang menggambarkan kepedulian tampaknya sangat diperhatikan oleh nenek moyang kita. Tanpa harus menasehati secara langsung, sesungguhnya mereka sudah mengajarkan jiwa sosial tersebut.

Oleh karena itu anak-anak akan sangat peka terhadap masalah sosial dan kepedulian sesama. Ciri peduli, gotong royong, persatuan, dan solidaritas mereka sangat tinggi di zamannya yang diwujudkan dengan kegiatan mereka sehari-hari.

Kedua, ketelitian, kritis, kecerdasan, dan kemampuan analitik. Pada bait ke empat lirik berbentuk dialog. Dalam dialog tersebut menggambarkan dua orang yang tengah mencari akar permasalahan sebuah kasus. Dimulai dari pengamatan seseorang terhadap sebuah kejanggalan keadaan di mana ada seseorang yang diborgol (Lho kowe kok dibanda?). Di sinilah tergambar karakter teliti dan kritis terhadap keadaan di sekitarnya. Mencermati kondisi seperti itu kemudian muncul rasa ingin tahu sehingga ia menanyakan permasalahannya. Mengapa diborgol (dibanda)? Njupuk apa? Ndi krikile? Ndi duwite? Ndi berase? Ndi segane? dan pertanyaan lain sebagai ungkapan rasa ingin tahu sekaligus mengkritisi permasalahan. Di sini pula muncul nilai kecerdasan.

Menanyakan secara sistimatis dari awal hingga akhir untuk mengetahui sebab akibat itulah yang kemudian dapat kita katakan kecerdasan. Pertanyaan cerdas hanya dimiliki oleh orang yang cerdas. Untuk menarik kesimpulan si penanya harus banyak menanyakan sebagai teknik pengumpul data sebagimana yang biasa dilakukan oleh para penegak hukum. Dari situ kemudian anak-anak diajari untuk menganalisis data yang diperolehnya. Kenapa diborgol? Karena mengambil kerikil. Dimana kerikilnya? Sudah dijual, dan seterusnya hingga terakhir si penanya menyimpulkan apa motivasi di balik kejahatannya tersebut (Kowe ra mau wis tek kei maem? Lho yen ngono kowe kaya buta).

Dalam kesimpulannya si penanya dapat mengetahui motivasi pencurian tersebut yakni keserakahan.Kemampuan menganalisis menjadi tahapan terakhir yang paling tinggi. Bila kita cermat mengamati tembang tersebut sesungguhnya ada juga hal menarik yang masih terkait dan sejalan dengan konsep Kurikulum 2013, di mana pembelajaran saintifik menjadi ciri utamanya.

Pembelajaran saintifik yang terdiri dari kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasikan atau menganalisis, dan mengomunikasikan ternyata sudah ada dalam tembang tersebut. Ini menjadi bukti bahwa tembang tersebut memiliki kandungan makna dan fungsi yang sangat tinggi bagi pembentukan karakter anak-anak.

Ketiga, mengembangkan nilai bahasa utamanya bahasa lisan. Melalui tembang tersebut anak-anak diajari untuk melakukan adegan dialog. Bertanya jawab yang merupakan salah satu bagian keterampilan berbahasa, utamnya bahasa lisan. Berbicara, di dalamnya termasuk juga berdialog sebagai keterampilan berbicara. Di sini pula anak-anak dilatih untuk berani bicara, berdialog dengan orang lain yang kini sangat dibutuhkan dalam komunikasi. Nilai kebaikan lainnya adalah ajaran tidak boleh mencuri. Pada dialog dalam tembang tersebut menggambarkan adanya kasus pencurian. Seseorang yang diborgol (lho kok kowe dibanda) yang dijawab dengan jawaban; karena mencuri kerikil (njupuk krikil), kemudian terjadi tanya jawab layaknya seorang petugas penyidik dengan tersangka pencurian. Ilustrasi pencurian tersebut berakhir dengan sebuah akibat bagi si pelaku yakni diborgol. Dan ia juga dituduh sebagai anak rakus yang disimbolkan dengan raksasa ( buta) karena alasan mencuri untuk memenuhi kebutuhan perutnya.

Dalam hal ini orang tua tengah mengedukasi bahwa perbuatan mencuri adalah kejahatan yang tidak boleh dilakukan karena berkonsekuensi hukum. Ia diborgol sebagai akibat perbuatannya. Dengan demikian anak-anak diberi edukasi nilai kebaikan melalui contoh kasus pencurian. Nilai-nilai di atas hanyalah sebagian saja yang dapat kita maknai dari syair/liriknya.

Selain dari kandungan makna liriknya, kita juga dapat melihat memaknai dari perilaku anak-anak saat bermain Lepetan tersebut. Melalui pengamatan dan mencermati gerakan, formasi, dan perilaku kegiatan anak saat melakukan permainan itu kita dapat memeroleh teladan dan manfaat lain.

Pertama, permainan itu dapat berfugsi membantu pertumbuhan sekaligus menyehatkan tubuh. Gerakan motorik kasar yang muncul saat anak bermain Lepetan akan memacu gerakan tubuh yang dapat membantu kesehatan anak.

Kedua, permainan itu juga dapat membentuk karakter disiplin dan budaya mengantri. Ketika anak-anak bermain lepetan mereka akan terus berurutan, mengantri untuk memasuki terowongan yang kemudian akan memosisikan dirinya di sebelah teman lainnya. Budaya antri sangat penting di sini karena anak tidak akan bisa mendahului teman yang di depannya kecuali jika ia melepaskan diri dari gandengan tangannya. Dengan demikian pendidikan antri dan disiplin muncul dalam permainan ini.

Ketiga, permainan Lepetan mendidik anak-anak untuk bersatu dan saling menjaga kebersamaan. Dalam permainan ini, anak-anak akan terus menjalin persatuan yang secara tak disadari terbangun akibat adanya jalinan tangan antar satu dan lainnya. Seluruh anak akan bergandengan tangan tanpa melihat siapa di sebelah kiri-kanannya atau depan belakangnya. Mereka saling bergandengan tangan tanpa membedakan status dan tataran apapun. Maknanya mereka merasa duduk sama rendah berdiri sama tinggi yang menjadi konsep dasar terbangunnya persatuan dan kebersamaan.

Keempat, permainan Lepetan dapat membangun keterampialn seni peran. Anak-anak akan belajar seni peran melalui permainan tersebut. Mereka akan berperan sebagai seorang pedagang atau seorang yang bertugas membagi-bagi sesuatu. Dalam kegiatan ini tanpa disadari anak-anak tumbuh karakter keberaniannya. Mereka hampir tak ada yang menolak ketika harus mendapatkan giliran menjadi pemeran. Tanpa malu mereka akan melaksanakan tugasnya sebagai pemeran ketika saatnya mendapatkan giliran.

Dengan demikian permainan ini juga sangat bermanfaat dalam membangun keberanian anak. Setidaknya, itulah manfaat, fungsi, dan peranan permainan Lepetan yang biasa dilakukan anak-anak di Jawa khususnya. Masih banyak fungsi positif lain tentunya jika kita lebih mencermati. Mengingat permainan tersebut memiliki banyak fungsi maka layak jika harus dipertahankan keberadaannya. Melestarikan permainan tradisional tersebut kiranya wajib kita lakukan. Dengan terus mengenalkan permainan ini kepada anak-anak diharapkan dapat menjaga kelestarian tersebut.

 

http://www.tentik.com/paling-seru-10-permainan-tradisional-dari-indonesia-ini-wajib-kamu-coba/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar