Ketika Anak Memiliki Kepribadian Ganda

AnggunPaud - Tidak seperti biasanya. Kali ini yang mengantar Alinka ke sekolah adalah ayahnya. Sesampainya di sekolah, ayah Alinka itu kemudian konsultasi pada psikolog yang ada di TK. Ia bercerita tentang apa yang dilakukan ibunya ke Alinka yang selalu mengekang alinka dengan cara memberikan makanan yang empat sehat lima sempurna. Namun Alinka sendiri tidak begitu suka dengan makanan yang selalu dijadwal sama ibunya dengan menu begitu-begitu saja. Rasanya pun juga hambar.

Bukan hanya soal makanan, waktu bermain pun dibatasi. Alinka pun kadang suka membuang makanan dan menjadi trauma. Memilih diam di rumah agar tidak kena marah sama ibunya. Tapi, beda halnya saat Alinka di sekolah, ia aktif dan merasa bebas bermain-belajar bersama teman-temannya. Hanya saja satu hal yang terkadang kurang bisa di terima sama guru dan teman-teman yang ada di sekolah, sifat atau perilaku jengkel dan marah kepada temannya terkadang tidak bisa dikendalikan.

Barangkali ini cerminan dari bagaimana ibunya memperlakukannya di rumah. Dari sini kemudian ahli psikolog ini menyampaikan kepada ayah Alinka bahwa putrinya didiagnosa memiliki kepribadian ganda atau gangguan kepribadian. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah apa itu kepribadian ganda? Gangguan kepribadian merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh trauma mendalam yang terjadi pada masa kanak-kanak.

Anak yang biasanya mengidap pengalaman traumatis yang cukup ekstrem dan berulang kali terjadi ini bisa mengakibatkan terbentuknya dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Seperti fenomena Alinka yang menunjukkan perilaku yang berbeda ketika di rumah dan sekolah misalnya. Setiap kepribadian ini dapat terbentuk dengan ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, serta cara melihat lingkungan dan diri mereka sendiri.

Sigmund Freud dalam teori Psikoanalisa nya megungkapkan bahwa peristiwa trauma pada masa anak-anak berpeluang mengakibatkan gangguan kepribadian seseorang. Pada masa anak-anak itulah kepribadian mulai berkembang dan terbentuk.

Saat terjadi pengalaman buruk, pengalaman demikian akan sebisa mungkin di repress (tekan) ke dalam alam bawah sadar. Namun ada beberapa peristiwa yang benar-benar tidak bisa di atasi oleh penderita, sehingga memaksanya untuk menciptakan sosok pribadi lainnya yang mampu menghadapi situasi. Artinya saat anak memiliki keribadian ganda ini, ia juga akan mengalami perubahan cara pandang, baik tentang dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

Anak yang memiliki kepribadian ganda ini bisa saja melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh anak yang memiliki kepribadian normal. Saat suatu kondisi memuncak, tanpa sadar si anak bisa membuat tindakan yang bisa membahayakan dirinya maupun orang lain. Atau bisa dikatakan sebagai sebuah kondisi dimana si anak tidak memiliki pilihan lain untuk melakukan tindakan di luar kebiasaan.

Hal semacam inilah yang biasa disebut dengan mekanisme pertahanan diri. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan Sigmun Freud bahwa suatu sistem dapat terbentuk saat seorang anak tidak dapat menghadapi kecemasan luar biasa. Kepribadian-kepribadian baru akan terus bermunculan apabila terjadi lagi suatu peristiwa yang tidak bisa di atasi. Dan, yang perlu digaris bawahi bahwa kepribadian baru ini tidak begitu saja mucul tetapi tergantung pada situasi yang dihadapi.

Anak yang memiliki kepribadian ganda ini biasanya memiliki beberapa gejala seperti mengalami perasaan tidak nyata, merasa terpisah dengan diri sendiri, distorsi waktu, amnesia, sakit kepala, keinginan bunuh diri, depresi, cemas, dan perilaku menyakiti diri sendiri. Maka di sinilah kemudian menjadi penting bagaimana orang tua memperlakukan anak di dalam lingkungan keluarga. Jangan sampai kejadian semacam di atas terulang kembali. Di samping itu, orang tua juga harus paham betul ciri-ciri anak yang memiliki kepribadian ganda.

Tujuannya agar dengan cepat orang tua bisa segera melakukan tindakan prefentif untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan terhadap proses tumbuh kembang buah hatinya. Adapun ciri-ciri anak yang memiliki kepribadian ganda ini adalah seperti berikut.

Pertama, anak merasa asing dengan orang-orang terdekat atau di sekitarnya. Misal dipanggil nama yang sebenarnya, si anak justru malah tidak menganali orang yang memanggilnya, padahal itu adalah orang terdekatnya.

Kedua, anak cenderung memiliki gangguang psikologis. Anak yang menderita kepribadian ganda tidak jarang merasa risih dan terganggu dengan penyakit yang dideritanya sehinga muncul gangguang psikologis lain seperti dilanda rasa panik dan kekhawatiran yang berlebih. Suasana hatinya pun tidak menentu dan nano-nano, terkadang sedih, marah, bahagia, merana, atau pun merasa tidak berguna untuk hidup, dan lain sebagainya.

Ketiga, saat anak menjadi pribadi yang lain akan merasa sakit fisiknya disertai sakit kepala yang hebat. Sehingga dari rasa sakit yang sangat akut itu terkadang anak menjadi mengamuk sebagai pelampiasan menahan rasa sakit tersebut. Keempat, anak mengalami depersonalisasi. Yakni kondisi dimana anak digambarkan seperti menonton atau melihat dirinya sendiri saat kepribadian lain menggantikan karakter asli seseorang. Anak yang mengalami gejala ini seakan tak berdaya dan hanya bisa menyaksikan tubuhnya diganti oleh kepribadian lain.

Saat anak mengidap gejala ini biasanya ia akan merasa kesulitan untuk mengenal ralitas kehidupan sekitar. Setelah memahami keempat karakteristik anak berkepribadian ganda ini, ternyata orang tua tidak hanya sampai pada titik mengenal dan memahami perihal kepribadian ganda saja. Kemudian muncul problematika lagi, sekiranya apa yang bisa dilakukan orang tua ketika anaknya dilanda kepribadian ganda?

Sampai saat ini mungkin belum ada cara yang paling efektif untuk menyembuhkan penyakit demikian. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi orang tua untuk mengundang psikoterapi dalam rangka membantu anak untuk mengingat atau mengenali kondisi dirinya sendiri dan mampu mengarahkan kepada perilaku positif sehingga anak dengan sendirinya bisa mengetahui mana hal-hal yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak.

Terapi ini memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, namun cara ini bisa dilakukan untuk kebaikan si buah hatinya. Selain itu, orang tua juga bisa memperlakukan anak dengan ramah dan tidak terlalu mengekang harus ini dan itu. Hal ini dilakukan agar anak bebas bergerak sesuai dengan usai pertumbuhan dan perkembangannya. Perlakuan ramah ini juga dilakukan untuk meminimalisir atau mencegah kemunculan kepribadian anak yang terkadang tidak bisa terkontrol.

sumber gambar : https://www.sciencenews.org/blog/growth-curve/debate-over-spanking-short-science-high-emotion

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar