Terapi Bersikap Sabar pada Anak

AnggunPaud - Orang tua pasti setuju, jika tidak ada orang di dunia ini yang suka menunggu, baik orang dewasa atau pun anak-anak. Masalahnya, jika Orang tua sedang berada di antrian dengan anak yang tidak sabaran, bisa jadi ia akan berteriak-teriak dan membuat Orang tua merasa malu atau tidak enak dengan orang lain. Ujung-ujungnya Orang tua sendiri yang merasa kesal dan marah. Daripada Anda hanya bisa marah-marah yang justru dibalas dengan tangisan.

Menurut Sulistyowati (2007:320), “Sabar adalah tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu”. Sedangkan menurut Hamka Hasan (2013:6), “Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia.

Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah”. Melatih kesabaran diri terkadang membutuhkan pula kesabaran waktu yang cukup panjang. Tidak cukup dengan satu atau dua kali ujian. Diperlukan latihan yang terus menerus dan berkelanjutan. Meski demikian bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan hati, tidak akan mengeluh karena panjangnya waktu yang harus dilalui. Dia juga tidak merasa bosan karena cobaan yang datang tindih-bertindih.

Kesabaran seperti itu pula yang harus ada pada setiap orang yang ingin menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Dalam mengajarkan anak sabar dalam menunggu giliran dibutuhkan metode atau cara yang benar sehingga mudah dimengerti oleh anak. Penggunaan metode yang benar akan mempengaruhi keberhasilan orang tua maupun guru dalam meningkatkan kemampuan sabar pada anak. Biasanya metode yang digunakan adalah metode demonstrasi. Oleh sebab itu, anak akan terlatih untuk dapat sabar menunggu giliran.

Metode demonstrasi merupakan pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh anak-anak secara nyata atau tiruannya. Lalu bagaimana cara terapi kesabaran anak yang mudah dilakukan? Baik menunggu suatu antrian, menunggu hadiah ulang tahunnya boleh dibuka, sampai menunggu kapan ia bisa bermain dengan teman adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh anak-anak.

Oleh karena itu, mengajarkan kesabaran anak sangatlah penting dan hal ini bisa mulai orang tua kenalkan sejak ia berusia balita. Tujuannya, tentu agar anak dapat mengembangkan rasa toleransinya agar bisa lebih bersabar. Sehingga nantinya mereka tak akan mudah bertindak gegabah ketika menghadapi hal semacam ini di masa depan. Berikut ini ada lima terapi bersikap sabar pada anak.

Pertama, beri anak kesempatan latihan menunggu. Menumbuhkan sikap sabar pada anak memang membutuhkan latihan terus menerus. Sebenarnya, cara melatih kesabaran anak cukup mudah, berikan kesempatan pada anak Anda untuk berlatih sabar dan menunggu. Para peneliti menemukan bahwa anak yang sabar menunggu adalah anak-anak yang memiliki kemampuan untuk mengalihkan perhatian. Misalnya, dengan bernyanyi atau melakukan aktivitas seru di depan cermin saat mereka harus menunggu sesuatu.

Biasanya anak terlatih dengan sendirinya untuk mengalihkan perhatian, dengan sikap sederhana dari orang tuanya, yaitu dengan orang tua sering mengatakan, “Tunggu dulu, ya”, ketika anak mulai meminta sesuatu. Anak akan meresapi kata-kata ‘tunggu’ dan mencari cara atau aktivitas lain selama menunggu hingga akhirnya orangtuanya meresponsnya atau memenuhi permintaannya.

Kedua, percayalah bahwa anak bisa mengendalikan sikapnya. Cara melatih kesabaran anak kuncinya adalah berikan kepercayaan kepada anak. Yakinlah bahwa anak bisa bertanggung jawab. Hal ini juga perlu latihan. Bisa dimulai dengan cara-cara sederhana. Misalnya, saat anak mengambil buku di lemari dan menaruhnya sembarangan, minta anak untuk mengembalikan buku ke lemari. Minta anak melakukan apa yang orang tua mau dengan sabar dan jangan lupa kontak mata.

Berikan contoh sesering mungkin pada anak. Misal, saat anak menjatuhkan makanannya ke lantai sebagai bentuk protes. Tunjukkan kepada anak untuk mengembalikan makanan yang berceceran di lantai ke atas meja. Tunjukkan caranya dan biarkan anak melanjutkan prosesnya. Mengajarkan disiplin bisa membangun pemahaman bahwa segala sesuatu itu butuh proses. Kalau mau mejanya rapi kembali, ia harus sabar ketika berusaha memunguti makanan yang dijatuhkan. Ajarkan anak mengenai batasan, namun tunjukkan pula cinta orang tua saat melatih mental anak. Anak butuh cinta dan juga butuh ketegasan. Kalau anak hanya mendapatkan cinta tanpa belajar adanya batasan dari perilakunya, anak akan menjadi bos kecil yang kurang peka.

Ketiga, menanggapi anak dengan penuh kesabaran. Orangtua juga harus bersabar untuk mengajari anak kesabaran. Misal, saat orang tua sedang di dapur memasak telur untuk sarapan, anak meminta tisu. Jelaskan secara perlahan, bahwa orang tua akan mengambil tisu dalam beberapa menit lagi. Saat orang tua sedang sibuk melakukan aktivitas, dan anak meminta sesuatu, tunjukkan kepada anak apa yang sedang orang tua lakukan dan minta ia melakukan hal yang sama.

Cara ini akan membuat anak memahami dan belajar bahwa ia harus menunggu, sekaligus juga melatih anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu. Keempat, tidak putus asa. Ungkapan atau sikap yang bernada putus asa harusnya dihindari. Sebaliknya, sifat yang pantang menyerah dan sabar harus ditunjukkan. Misalnya menghadapi anak yang enggan diajak mandi, maka orang tua harus mampu membujuk dan menkondisikan agar anak mau diajak mandi. Tentunya alasan-alasan yang digunakan oleh orang tua harus rasional dan mampu dipahami anak.

Kelima, lebih tenang. Saat berada di depan anak, orang tua harus mampu bersikap tenang. Hindari bersikap buru-buru atau mudah emosi. Misalnya saat anak teriak-teriak, maka orang tua harus bersikap tenang, jangan terpancing ikut histeris. Orang tua harus menenangkan serta mengajaknya berkomunikasi. Tentu saja tidak mudah, namun itu harus dilakukan sehingga anak akan merekam tindakan orang tuanya tersebut. Dengan menanggapi perilaku anak secara tenang, ada lima poin yang orang tua harus mengajarkan anak dengan terapi ini.

Dengan begitu anak memahami bahwa ada hal lain di luar dirinya yang juga harus diperhatikan. Anak pun terlatih untuk tidak memaksakan keinginannya, belajar menunggu saat meminta sesuatu kepada orang tuanya yang sedang melakukan hal lain. Begitu juga dengan pengalaman Mario Teguh, “Semua keberhasilan terbaik Anda, datang setelah kekecewaan besar yang Anda hadapi dengan sabar”.

Kata-kata Mario Teguh, keberhasilan terbaik yang kamu raih dihasilkan oleh kekecewaan besar yang telah kamu hadapi dengan sabar. orang tua pun demikian harus bersikap sabar mengendalikan anak-anaknya dengan baik.*

*Nur Hafidz mahasiswa IAIN Purwokerto program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, menjadi Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir.

sumber gambar : https://www.brighthorizons.com/family-resources/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar