Membiasakan Cium Tangan bagi Tumbuh Kembang Anak

AnggunPaud - “Bunda, salim dulu. Kakak, mau berangkat ke sekolah” “Hati-hati, ya!” “Dah. Bunda!” Adakah yang mengalami adegan seperti ini setiap pagi? Jika anda sering melakukannya, selamat! Anda sudah menanamkan hal yang baik untuk anak anda. mengapa begitu? Kegiatan ‘salim’ atau biasa juga disebut mencium punggung tangan adalah budaya yang banyak dilakukan di negara Asia, salah satunya Indonesia.

Cium tangan biasanya diawali oleh orang yang menerima salam, kemudian punggung tangannya dicium oleh orang yang memberi salam. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, seperti orang tua,kakek-nenek, kakak, dan guru. Selain bentuk penghormatan, mencium tangan juga bermaksud sebagai bentuk kasih sayang anak terhadap orang yang lebih tua. Lalu, mengapa kegiatan ini harus dilakukan sejak dini?

Menurut Erikson usia dini (0-3 tahun) merupakan tahap yang sangat penting untuk menanamkan perilaku-perilaku baik pada anak. Pada usia ini menjadi tolak ukur bagaimana rasa percaya diri dan motorik anak akan berkembang. Sedangkan menurut, Havighurst dalam buku Perkembangan anak mengatakan, salah satu tugas perkembangan anak pada usia lahir sampai 6 tahun adalah membentuk konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, serta berhubungan secara emosional dengan orang tua saudara kandung serta orang lain, dan orang tua merupakan objek sosial terdekat anak dimana anak akan meniru dan melakukan apa yang mereka lihat dari orang tuanya.

Salah satu kegiatan sederhana yang dapat menunjang itu semua adalah bersalaman. Berikut merupakan empat manfaat bersalaman tumbuh kembang anak yang harus anda ketahui.

Pertama, menumbuhkan rasa hormat anak terhadap orang yang lebih tua. Ya, sudah kita ketahui bahwa manfaat salim selain bentuk rasa sayang adalah untuk menghormati orang yang kita tuakan. Dimana, saat anak melakuakan kegiatan salim anak akan belajar bahwa ada orang-orang yang harus mereka hormati selain orang tua, seperti kakak, kakek-nenek, paman-bibi, dan guru-guru.

Dari kegiatan ini anak-anak juga belajar tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan kepada orang yang lebih tua. seperti, harus menggunakan kata ‘permisi’ saat lewat, menggunakan bahasa yang sopan saat bicara, dan tidak boleh berkata kasar ataupun berteriak.

Kedua, menambah kelekatan antara anak dan orang tua. Istilah kelekatan pertama kali dikemukan oleh seorang psikolog pada tahun 1958 bernama John Bowly dimana dia mengatakan bahwa kelekatan merupakan bentuk dari kebutuhan anak terhadap rasa aman, perasaan aman yang dihasilkan oleh kelekatan memiliki hubungan erat dengan pengembangan kreatifitas dan eksplorasi (terhadap lingkungan).

Menurut sebuah penelitian, anak yang memiliki kelekatan baik pada orang tuanya saat kecil, akan lebih mudah bergaul, lebih percaya diri dan memilki hubungan sosial yang sehat saat mereka menginjak usia remaja. Kebiasaan salim memerlukan kontak fisik dimana tangan saling menjabat dan bibir mencium tangan yang dituakan. Dimana kegiatan itu menimbulkan rasa sayang dan rasa saling memiliki satu sama lain antara anak dan orang tua. Hal ini juga berlaku bagi kita para guru terutama guru PAUD.

Saat awal pembelajaran, guru selalu menunggu mereka di depan pintu sekolah dan menyambutnya dengan ramah. Saat anak-anak melakukan kebiasaan salim pada guru disekolah, akan timbul rasa percaya dan rasa aman terhadap guru, bahwa guru mereka adalah orang yang harus di hormati dan yang akan selalu melindungi mereka saat di sekolah.

Ketiga, mendeteksi keadaan tubuh anak. Kegiatan salim adalah kegiatan yang membutuhkan kontak fisik. Menurut hasil penelitian Bunda Dian Wahyu Sri Lestari,. S. TP selaku penulis buku aktifitas anak dan guru KB Wadas Kelir mengatakan bahwa, saat anak salim secara tidak langsung kita sedang sedang mendeteksi keadaan fisik mereka. Hal ini tentu saja karena saat salim melibatkan antara dua kulit yang akan saling merasakan suhu satu sama lain. Dengan demikian orang tua atau guru dapat mendeteksi perubahan suhu yang tidak biasa pada anak-anak.

Saat anak terbiasa salim kita akan hafal dengan suhu mereka. Apabila ada anak yang biasa bersuhu dingin dan tiba-tiba hangat. Orang tua atau guru bisa langsung mengambil tindakan, tentu saja perlu konfirmasi terlebih dahulu dengan anak yang bersangkutan, seperti menanyai “Sepertinya badan mu agak hangat hari ini, apakah kamu merasa pusing, nak?”. Dengan menanyakan seperti ini anak-anak pun akan merasa lebih diperhatikan.

Keempat, meningkatkan perkembangan psikososial. Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan emosi seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Dimana kebiasaan salim adalah salah satu kegiatan sederhana yang dapat menunjang sikap psikososial anak ke arah yang lebih baik. Berdasarkan pengamatan penulis terhadap peserta didik di KB Wadas Kelir menunjukan anak-anak yang terbiasa salim atas kesadaran dirinya sendiri cenderung memilki sikap yang mandiri dan selalu percaya diri.

Anak-anak tersebut saat pembelajaran selalu aktif dan mengamati keadaan sekitar, selalu bertanya pada hal-hal yang ingin diketahuinya, dan selalu menghormati bunda-bunda yang mengajar dengan mngucapkan kata ‘tolong’ saat meminta bantuan, “Bunda, tolong dibukakan, ya”. Selalu berucap ‘maaf’ setelah kegiatan pembelajaran pada bundanya seperti “bunda maafkan saya ya”, dan lain sebagainya.

Itulah keempat manfaat luar biasa yang dapat dirasakan saat anak biasa melakukan salim pada orang tua. Namun, saat ini sayangnya banyak sekali orang tua yang tidak peduli dengan hal-hal sederhana seperti salim. Banyak orang tua yang masih membiasakan anak-anak untuk mencium tangan atau memberi hormat tetapi justru sebaliknya malah orang tua kerap tidak memberi respon seperti seharusnya. Seperti,“Pak, Kakak mau salim.” “Gak usah salim, sana langsung berangkat saja.” Atau yang sering terjadi, saat anak-anak ingin salim atau sedang salim orang tua hanya menyodorkan tangannya tanpa melihat mata ataupun wajah anak. mereka sibuk dengan memegang gadgetnya.

Padahal selain sentuhan fisik, kontak mata dan senyuman merupakan nilai plus untuk menunjang segala manfaat kebaikan dari salim terutama dalam hal kelekatan. Orang tua adalah objek langsung yang selama dua pulu empat jam mereka lihat, jadi mari berikan contoh yang baik dan kerahkan semaksimal mungkin sikap diri anda untuk mencetak gerasi yang lebih baik.

 

sumber gambar :https://www.lrjuniorcotillion.com/f

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar